Mengenang Bu Patmi: Pemerintah Dituntut Jalankan Kajian Lingkungan 
http://www.mongabay.co.id/2018/04/03/mengenang-bu-patmi-pemerintah-dituntut-jalankan-kajian-lingkungan/
 oleh Tommy Apriando [Yogyakarta] 
http://www.mongabay.co.id/byline/tommy-apriando-yogyakarta/ di 3 April 2018 
https://www.facebook.com/sharer/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.mongabay.co.id%2F2018%2F04%2F03%2Fmengenang-bu-patmi-pemerintah-dituntut-jalankan-kajian-lingkungan%2F
 
https://twitter.com/intent/tweet?text=Mengenang%20Bu%20Patmi:%20%20Pemerintah%20Dituntut%20Jalankan%20Kajian%20Lingkungan&url=http%3A%2F%2Fwww.mongabay.co.id%2F2018%2F04%2F03%2Fmengenang-bu-patmi-pemerintah-dituntut-jalankan-kajian-lingkungan%2F&via=Mongabay
 
https://www.linkedin.com/shareArticle?mini=true&url=http%3A%2F%2Fwww.mongabay.co.id%2F2018%2F04%2F03%2Fmengenang-bu-patmi-pemerintah-dituntut-jalankan-kajian-lingkungan%2F&title=Mengenang%20Bu%20Patmi:%20%20Pemerintah%20Dituntut%20Jalankan%20Kajian%20Lingkungan
 
http://www.mongabay.co.id/2018/04/03/mengenang-bu-patmi-pemerintah-dituntut-jalankan-kajian-lingkungan/#


 
 
 

 Tiga ratusan petani berkumpul di Posko Tolak Pabrik Semen, di Kecamatan Kayen, 
Kabupaten Pati, Jawa Tengah, pada Sabtu malam, (17/3/18). Ada orangtua hingga 
anak-anak ikut memperingati setahun, Patmi, Kartini Kendeng yang meninggal 
dunia dalam perjuangan menjaga Pegunungan Kendeng. Warga juga menagih janji 
pemerintah melaksanakan hasil Kajian Lingkungan Hidup Stategis tahap I, yang 
tegas melindungi Cekungan Air Tanah (CAT) Watuputih dan dilarang ada 
pertambangan di sana.
 “Ibu Bumi Wis Maringi, Ibu Bumi Dilarani, Ibu Bumi Kang Ngadili,” sepanjang 
jalan sembari melangkah, lantunan doa nusantara dinyanyikan para petani. Tengah 
malam, petani tiba di Monumen Ibu Patmi. Mereka berdzikir sampai menjelang 
fajar.
 Baca juga: Perempuan Kendeng Itu Berpulang Kala Berjuang Pertahankan Alam dari 
Tambang Semen 
http://www.mongabay.co.id/2017/03/21/perempuan-kendeng-itu-berpulang-kala-berjuang-pertahankan-alam-dari-tambang-semen/
 Giyem petani dari Desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Pati, malam itu tak 
merasa kelelahan, walau habis berjalan puluhan kilometer. Memakai kebaya hitam 
sembari membawa obor, dia terus berdoa. Bagi Giyem, perjuangan Patmi luar biasa 
dibanding dia hanya berjalan kaki.
 “Rumah saya dan warga di Desa Larangan hilang jika pabrik semen berdiri dan 
beroperasi, karena masuk di kawasan izin usaha pertambangan. Sampai kapanpun 
takkan kami jual,” katanya.
 Dia lahir dari keluarga tani, dan sumber air dari Pegunungan Kendeng 
mencukupkan kebutuhan harian maupun irigasi lahan pertanian. Dia menyusuri 
lereng hingga puncak Kendeng sebagai salah satu harapan dan mendoakan Presiden 
Joko Widodo tergerak hati menjawab tuntutan masyarakat.
 “Presiden memerintahkan dibuat KLHS, ketika sudah dibuat hasilnya harus 
melindungi Pegunungan Kendeng, wajib dijalankan. Kok, malah ditambang, kami 
menunggu kebaikan hati Pak Jokowi,” kata Giyem.
  
 Bu Padmi, perempuan Kendeng yang meninggal dunia tahun lalu di Jakarta, usai 
aksi menuntut Pegunungan Kendeng tetap lestari. Foto: lukisan Dewi 
Candraningrum/Mongabay Indonesia  
 ***
 Setahun lalu, tepatnya 21 Maret 2017, sembilan Kartini Kendeng aksi pasung 
semen Jilid II di seberang Istana Merdeka, Jakarta. Mereka mengecor kaki 
delapan hari. Sehari sebelumnya, diputuskan aksi setop. Pemerintah berjanji 
menindaklanjuti tuntutan warga, setelah diterima Kepala Staf Kepresidenan Teten 
Masduki, kala itu.
 Tengah malam di Jakarta, Patmi dipanggil sang kuasa. Bagi sedulur Kendeng, 
Patmi martir ekologis dalam memperjuangkan kelestarian Pegunungan Kendeng.
 Baca juga: KLHS: CAT Watuputih jadi Kawasan Lindung, Terbebas dari Segala 
Tambang 
http://www.mongabay.co.id/2017/04/12/klhs-cat-watuputih-jadi-kawasan-lindung-terbebas-dari-segala-tambang/
 Patmi bernama lengkap Patmi Bin Rustam. Dia meninggal pada usia 48 tahun. 
Patmi meninggalkan dua anak, Sri Utami, dan Muhamadun Da’iman.
 Gunretno dari JMPPK kepada Mongabay mengatakan, mengenang Patmi tidak hanya 
doa tetapi menggemakan perjuangan.
 Karst Kendeng harus terjaga karena berfungsi sebagai penyerapan air dan 
terhindar dari krisis air. Hasil kajian KLHS menguatkan itu. “Pemerintah belum 
menghentikan pertambangan PT Semen Indonesia di Rembang, KLHS menyimpulkan 
penghentian dan dilarang penambangan,” katanya.
 Pemerintah daerah, katanya, selalu berbicara di media bahwa pabrik Semen 
Indonesia di Rembang, walaupun sudah mengantongi izin, tetapi tak akan 
beroperasi sampai KLHS selesai. Kenyataan, bertolak belakang. Pabrik semen 
menyatakan belum menambang, operasi ambil hasil tambang dari CAT.
 “Syarat menghentikan pabrik semen di Rembang sudah cukup, tak ada alasan lagi 
Pak Jokowi memberi lampu hijau pabrik semen Rembang beroperasi dengan dalih 
negara rugi Rp5 triliun,” katanya.
 Nilai investasi pertambangan, katanya, tak sebanding dengan jasa lingkungan 
yang diberikan dari Pegunungan Kendeng. Penghitungan dengan segala rincian pada 
KLHS pertama dapat diketahui, kerugian ekonomi harus ditanggung jika aktivitas 
penambangan ekosistem CAT Watuputih dilakukan Rp3, 273.710 triliun pertahun.
 “Alangkah baiknya Pak Jokowi melaksanakan hasil rekomendasi KLHS tahap 
pertama, tentu sejalan dengan Nawacita mewujudkan kedaulatan pangan,” katanya.
 Tak hanya di CAT Rembang, penyempitan luasan kawasan bentang alam karst (KBAK) 
Sukolilo, Gombong dan KBAK Gunung Sewu membuktikan, pada semua KBAK selalu ada 
investasi semen.
 Dia contohkan, penetapan KBAK Sukolilo pada 2014. Awalnya, Kepmen Eneergi dan 
Sumber Daya Mineral Nomor 0398 K/40/MEM tahun 2005, karst di Pati (Sukolilo, 
Kayen dan Tambakromo) seluas 118,02 km persegi, dan Kepmen ESDM Nomor 2641 
K/40/ MEM/2014 luasan karst Pati susut jadi 71,8 km persegi. Keputusan ini, 
katanya, tanpa melibatkan masyarakat di wilayah itu.
 Deleniasinya mengikuti batas IUP PT. Sahabat Mulia Sakti, anak perusahaan PT. 
Indocement Tunggal Prakarsa Tbk, dengan kepemilikan saham HeidelbergCement AG, 
perusahaan berbasis di Jerman.
 “Penarikan batas deliniasi tak mengikuti kaidah hukum geologi. Lokasi tapak 
pabrik semen SMS merupakan lahan pertanian produktif dan padat penduduk. 
Pemerintah dan aparat belum bisa menciptakan penegakan hukum dan keadilan di 
negeri ini,” kata Gunretno.
  
 Aksi jalan kaki memperingati setahu meninggalnya Ibu Patmi. Foto: Tommy 
Apriando/ Mongabay Indonesia  
 ***
 Tak hanya dari Pati, setahun kepergian Patmi juga diperingati di Desa 
Kemadohbatur, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan. Ratusan warga aksi bersih-bersih 
sumber air Widuri, pada 19 Maret 2018. Di daerah itu, pernah ada rencana masuk 
pabrik semen PT. Vanda Prima Listy, namun perjuangan warga berhasil 
menghentikan.
 “Resik-resik sumber di Widuri ini wujud tindakan menghargai air yang 
dihasilkan oleh Pegunungan Kendeng agar warga bisa tetap menikmati air sehat 
dan jernih,” kata Gunretno.
 Ketika bersih-bersih sumber air di Grobogan, sekitar 90 kilometer, di Desa 
Tegaldowo dan Desa Timbrangan, Rembang, warga sibuk persiapkan brokohan atau 
hasil bumi. Warga tirakat sebagai bentuk syukur atas berkah Sang Kuasa melalui 
Pegunungan Kendeng. Brokohan atau syukurn dilakukan sekitar pukul 23.00 di 
titik pengeboran Kementerian Energi dan Sumer Daya Mineral, tahun lalu. Pagi 
harinya, warga bikin ekspedisi di sekitar jalan tambang PT Semen Indonesia.
 Pada 21 Maret 2018, di Desa Gantu, Kecamatan Bogorejo, Blora digelar kegiatan 
budaya “Kentrung Kiter Kendeng”. Warga mengumandangkan Kentrung di sekitar 
Pegunungan Kendeng.
 Kentrung merupakan budaya tutur dengan berbagai alat musik tradisional untuk 
mengumandangkan berbagai cerita manfaat Pegunungan Kendeng. Kentrung 
mengingatkan bagaimana Kendeng selalu memberi aliran air, kehidupan sejak nenek 
moyang.
  
 ***
 Di Jakarta, Rabu, 21 Maret 2018, Koalisi Kendeng Lestari di Sekretariat 
Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) memperingati setahun kepergian 
Ibu Patmi.
 Muhammad Isnur, Ketua Bidang Advokasi YLBHI memaparkan, perjuangan Patmi 
menghasilkan KLHS tahap pertama atas perintah Presiden Jokowi pada 2 Agustus 
2016. KLHS tahap pertama merekomendasikan, CAT Watuputih di Pegunungan Kendeng, 
tak boleh ditambang dan dieksploitasi. Faktanya, di lokasi, perusahaan dan 
pemerintah daerah mengabaikan rekomendasi KLHS tahap pertama.
 JMPPK sudah melaporkan berbagai pelanggaran Semen Indonesia tehadap hasil KLHS 
tahap pertama sejak dua tahun lalu kepada pemerintah, tetapi tak kunjung 
digubris. “Termasuk laporan delapan bulan lalu ke Kementerian Lingkungan Hidup 
dan Kehutanan,” kata Isnur.
 Pemerintah, katanya, tak beraksi apapun terhadap segala penambangan pabrik 
yang melanggar.
 Koalisi sudah mendokumentasikan visual dengan mengambil titik koordinat 
pelanggaran dan meng-overlay ke peta CAT Watuputih. Dokumentasi ini jelas 
menampakkan pelanggaran Semen Indonesia yang menambang batu kapur, tanah liat, 
peledakan tambang hingga kesibukan aktivitas penambangan sampai bongkar batu 
kapur di konfeyor Semen Indonesia.
  
 Warga membersihkan sumber air di Karst Kendeng Grobogan, sebagai bentuk 
menjaga kelestarian Pegunungan Kendeng. Foto: Tommy Apriando/ Mongabay 
Indonesia  
 Sebagian aktivitas ini didokumentasikan pada 24 Agustus 2017, sebagian lagi 
sebelum 24 Agustus 2017. Dokumentasi ini, katanya, menunjukkan semua aktivitas 
keruk mengeruk berada dalam wilayah CAT Watuputih yang mestinya dilindungi KLHS.
 “Pemerintah harus segera mengumumkan hasil KLHS tahap II agar kerusakan di 
KBAK Pegunungan Kendeng tidak makin luas,” katanya.
  
 ***
 Sukinah datang jauh-jauh dari DesaTegaldowo, Gunem, Rembang ke Pati ikut 
berjalan kaki memperingati setahun Ibu Patmi. Berkebaya dan bercaping, dia tak 
merasa lelah, walaupun usia tak lagi muda. Sukinar berujar, Patmi ialah patriot 
bumi.
 “Tak terasa satu tahun ia dipanggil Gusti. Apa yang sudah Yu Patmi lakukan 
semua kami akan teruskan. Kami percaya Yu Patmi akan selalu mendukung dan 
bersama-sama apa yang dilakukan dulur-dulur dalam menolak pabrik semen di 
Pegunungan Kendeng,” katanya.
 Raga Patmi boleh berpisah, tetapi semangat perjuangan menolak perusakan 
lingkungan dan menolak pendirian pabrik semen masih terus bersama.
 Lukisan karya Andreas Iswinarto, menggambarkan, Pegunungan Kendeng merupakan 
lumbung pangan dan gudang (pasokan) air bagi warga. Foto: dokumen Andreas 
Iswinarto/ Mongabay Indonesia  
  
  
 
 (Visited 1 times, 1 visits today)
 

Kirim email ke