Sambil Ngopi, SBY Cerita Saat Nyaris Dipecat Orde BaruReporter:  Pribadi 
Wicaksono (Kontributor)Editor:  Ninis ChairunnisaSenin, 9 April 2018 07:16 WIB 
Ketua Umum Partai Demokrat Soesilo Bambang Yudhoyono dan istrinya menyambangi 
warung angkringan di Pendopo Lawas, Alun Alun Yogyakarta, 8 April 2018. SBY 
akan menggelar acara Ngopi Bareng SBY di tempat itu. TEMPO/Pribadi Wicaksono

TEMPO.CO, Yogyakarta - Ketua Umum Partai Demokrat yang juga mantan Presiden 
keenam, Susilo Bambang Yudhoyono atau SBY bernostalgia tentang karirnya sebagai 
tentara sambil menikmati kopi dan hidangan angkringan di warung Pendapa Lawas, 
Kota Yogyakarta pada Ahad petang, 8 April 2018.

Bagi SBY, Yogyakarta menjadi kota yang penuh kenangan sekaligus tantangan, 
terutama saat ia menjalankan tugas sebagai Komandan Korem 072/Pamungkas pada 
1995. Saat itu, SBY berpangkat kolonel. 

Tahun 1995, kata SBY, menjadi tahun awal mulai tumbuhnya gerakan transisi era 
Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto menuju era reformasi yang 
kemudian lahir pada 1998. "Situasi sosial politik saat 1995 itu di Yogya sudah 
hangat dan kemudian tahun 1997-1998 makin panas," kata SBY dalam acara santai 
lawatannya yang bertajuk 'Ngopi Bareng SBY' itu.
Baca: Nikmati Angkringan di Yogya, SBY Disambut Lagu Sepasang Mata Bola

SBY menuturkan, menjadi Komandan Korem di tengah hangatnya situasi sosial 
politik itu, ia berupaya tetap menjaga komunikasi dengan publik sekaligus 
menjaga stabilitas politik dan keamanan di Yogya. "Ingat, saat itu, dwifungsi 
ABRI masih menjadi doktrin," ujarnya.

Ia ingat betul ketika ia setiap saat harus berkomunikasi dengan para mahasiswa 
Yogya yang kala itu amat kritis, dinamis dan kerap melancarkan kritik tajam 
pada pemerintahan Orde Baru.

Untuk menanggapi kritik tajam para mahasiswa pada pemerintahan Soeharto kala 
itu, SBY justru melakukan komunikasi dengan sejumlah aktivis mahasiswa. Seperti 
Andi Arief dan Heri Sebayang yang kini turut bergabung dengan Partai Demokrat 
yang dibentuk SBY.

"Para aktivis mahasiswa ini siang harinya unjuk rasa mengkritik dan menuntut 
pemerintah A,B,C,D tapi malam harinya saya ajak dialog," ujar SBY.

Baca: SBY: Pemimpin Tak Boleh Bermusuhan, Kita Sama-sama Sayang Rakyat

Meski mendekati dan mengajak dialog terus para aktivis mahasiswa itu, SBY 
mengaku pada akhirnya ia tetap gagal membendung aksi mahasiswa yang makin 
kencang dalam mengkritisi dan menuntut Orde Baru berakhir itu. "Saya hanya 
ingatkan kepada para aktivis itu soal gentleman agreement yang kami buat, unjuk 
rasa tak boleh melampaui kepatutan, melanggar hukum, dan menimbulkan gangguan 
kemanan," ujarnya.

SBY bersyukur di masa tugasnya yang tak sampai setahun di Yogya, tak pernah ada 
peristiwa kekerasan akibat berbagai aksi unjuk rasa dan kencangnya kritik para 
aktivis itu.

SBY pun mengaku, akibat pendekatannya yang persuasif dan komunikatif dengan 
para aktivis mahasiswa saat itu dianggap keliru oleh rezim Orde Baru. Ia 
dianggap terlalu lunak sebagai tentara kepada elemen mahasisa.

SBY pun saat itu beralasan jika langkah persuasifnya itu karena menjadi bagian 
tugasnya sebagai aparat teritorial untuk menjalin komunikasi dengan siapapun 
termasuk elemen mahasiswa. "Saya hampir dicopot dari jabatan saya tetapi 
Pangdam (Panglima Kodam) saya membela kalau pendekatan politik yang konstruktif 
memang seperti itu," ujar SBY.

Ia pun bersyukur bisa melalui masa itu. "Saya bersyukur akhirnya bisa selamat 
dari terpaan politik saat itu, dan lalu ditugaskan memimpin kontingen pengamat 
militer Perserikatan Bangsa Bangsa ke Bosnia," kata SBY.

Kirim email ke