Heparin, Obat Kontroversial yang Dipakai Terawan untuk Stroke

| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
tirto-id

Jernih Mengalir Mencerahkan
 |

 |

 |




Ilustrasi suntik heparin. FOTO/istock
12 April 2018Dibaca Normal 1 menitPenggunaan heparin untuk pasien stroke tidak 
didukung American Stroke Association (ASA).tirto.id - Terapi cuci otak untuk 
pasien stroke yang dilakukan Kepala RSPAD Gatot Subroto, Terawan Agus 
Putrantomenuai kontroversi. Ringkasnya, ia bekerja dengan memasukkan heparin 
menggunakan kateter melalui pembuluh kaki, dikenal dengan metode Digital 
Subtraction Angiography (DSA). Terawan meyakini heparin dapat menghancurkan 
penyumbatan pembuluh darah. Benarkah demikian?

Pada prinsipnya, penyakit stroke disebabkan oleh hambatan aliran darah ke area 
otak. Kondisi itu membuat otak jadi kehilangan fungsi karena tak mendapat 
pasokan nutrisi dan oksigen. Dilihat dari jenis penghambatnya, stroke bisa 
dibedakan menjadi dua, yakni stroke hemoragik dan stroke iskemik.

Stroke hemoragik disebabkan oleh pembuluh darah yang bocor atau pecah di dalam 
atau di sekitar otak sehingga menghentikan suplai darah ke otak. Sementara 
stroke iskemik merupakan jenis stroke yang paling umum terjadi (90 persen) 
akibat penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah oleh kolesterol (lemak). 

Baca juga:   
   - Stroke Merampas Kehidupan Normal Para Penyintasnya
   - Stres dapat Meningkatkan Risiko Jantung dan Stroke


Pada terapi cuci otak, stroke yang ditangani adalah jenis yang kedua. Terawan 
menggunakan heparin untuk menghancurkan kolesterol yang menyumbat pembuluh 
darah. Dilansir WebMD, heparin merupakan jenis obat yang digunakan untuk 
mencegah gumpalan darah atau biasa disebut sebagai pengencer darah.

Heparin membantu protein anti-pembekuan dalam tubuh bekerja lebih baik sehingga 
melancarkan aliran darah. Ia digolongkan sebagai obat antikoagulan (menghambat 
pembekuan darah), tapi tidak digunakan untuk menghancurkannya.

“Kerja heparin adalah mencegah terjadinya pembekuan darah,” tegas Dra. Aluwi 
Nirwana Sani, M.Pharm., Apt, Wakil Ketua Ikatan Apoteker Indonesia, Selasa 
(10/4/2018).

Heparin digunakan lazimnya sebagai salah satu terapi pada pasien trombosis, 
emboli paru, dan mencegah pembekuan darah pada saat transfusi, dialisis, dan 
bedah jantung. Manfaat obat ini, lanjut Aluwi, banyak dirasakan pada pasien 
dengan gangguan pada pembuluh darah arteri maupun vena. Pasien dengan kondisi 
tersebut memiliki risiko tinggi mengalami penyumbatan di pembuluh darahnya. 


Baca juga:   
   - Yang Tidak Dipahami Para Pendukung Dokter Terawan
   - Kejanggalan Terapi 'Brainwash' Dokter Terawan




Heparin untuk Stroke

Heparin tersedia dalam dua bentuk sediaan: injeksi seperti yang digunakan oleh 
Terawan serta bentuk krim dan gel sebagai obat luar. Sediaan yang kedua 
termasuk golongan obat bebas terbatas dan dapat dibeli di apotek tanpa resep 
dokter. 

Dalam dunia apoteker klinis, heparin tergolong sebagai salah satu dari sedikit 
obat yang memiliki indeks terapi sempit. Artinya, jarak dosis yang memberikan 
efek terapi dan efek samping sangat berdekatan. Kadar obat harus dicek secara 
berkala pada penggunaan pasien dengan gangguan ginjal, jantung, dan hati.

“Perubahan sedikit pada kondisi organ tersebut akan mengubah kinetika heparin 
yang bisa berakibat fatal bagi pasien,” kata Aluwi.

Golongan heparin sebagai obat keras membuatnya tak bisa digunakan secara 
sembrono. Obat ini memiliki berbagai efek samping, di antaranya pendarahan, 
nyeri, iritasi, perubahan warna kulit saat disuntik, gatal kaki atau warna kaki 
kebiruan, demam, menggigil, batuk, sulit bernapas, dan mendadak mati rasa. 
Penggunaan berlebih atau tak tepat malah membikin efek mudah memar, mimisan, 
darah di urine atau tinja, tinja hitam, atau perdarahan terus menerus.. 

Sementara itu, penggunaan heparin untuk menangani stroke masih diperdebatkan. 
Penyebabnya: prinsip pemberian antikoagulan pada pasien stroke lebih ditujukan 
sebagai upaya pencegahan daripada perbaikan proses iskemia di otak. Malah pada 
stroke iskemik non-kardioemboli, pemberian antikoagulan tidak dianjurkan karena 
berisiko perdarahan. 

Antikoagulan diberikan hanya jika pasien mengalami hiperkoagulasi, keadaan saat 
terdapat kecenderungan terbentuknya gumpalan bekuan darah atau trombus di dalam 
pembuluh darah. Penelitian terapi antikoagulan heparin dini pada pasien yang 
diduga mengalami stroke iskemik kardioemboli tidak menunjukkan perbaikan. 
Sebaliknya, pemberian heparin dini pada fase akut justru meningkatkan risiko 
perdarahan intrakranial (di dalam rongga kepala) dan perdarahan sistemik.

“Penggunaan heparin untuk pasien stroke memang tidak didukung oleh 
guidelineAmerican Stroke Association (ASA) maupun tata laksana stroke hemoragik 
dan non-hemoragik,” tutup Aluwi.

Baca juga:   
   - IDI Singgung Peran Kemenkes Soal Metode Cuci Otak Dokter Terawan
   - PB IDI Menunda Pencabutan Izin Praktek Dokter Terawan

Baca juga artikel terkait DOKTER TERAWAN DIPECAT atau tulisan menarik 
lainnyaAditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan) 

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Maulida Sri Handayani



Kirim email ke