Benarkah berita palsu pengaruhi Pilpres AS 2016?
 Jumat, 13 April 2018 09:04 WIB
 
Hillary Clinton and Donald Trump (REUTERS/Carlos Barria/Jonathan)

Jakarta (ANTARA News) - Studi dari Ohio State University mengemukakan berita 
palsu mungkin saja berperan dalam memenangkan Donald Trump pada Pemilu Presiden 
Amerika Serikat 2016 lalu.

Studi ini memang belum dikaji ulang oleh peneliti lain, namun, memberi gambaran 
bagaimana berita palsu mempengaruhi pilihan, dalam kasus ini sekitar 4 persen 
pendukung Barrack Obama pada 2012 termakan berita palsu sehingga tidak jadi 
memilih Hillary Clinton pada 2016, demikian siaran berita dari The Washington 
Post.

Tiga penulis studi tersebut, Richard Gunther, Paul A. Beck dan Erik C. Nisbet 
memuat tiga berita palsu populer yang beredar pada kampanye 2016 lalu untuk 
survei YouGov kepada 585 pendukung Obama. 23 persen dari orang-orang yang 
menjadi sampel itu tidak memilih Clinton, mereka memilih golongan putih atau 
memberikan suara ke kandidat lain (10 persen memilih Trump).

Ketiga berita palsu yang dipilih adalah Clinton menderita sakit parah (12 
persen), Paus Fransiskus mendukung Trump (8 persen) dan linton mendukung 
penjualan senjata untuk kelompok jihadis termasuk ISIS (20 persen).

Seperempat dari para responden mempercayai paling sedikit satu dari berita 
tersebut, 45 persen dari mereka memilih Clinton. Sementara bagi orang yang 
tidak percaya ketiga berita palsu tersebut, 89 persen memilih Clinton.

Penelitian ini juga mempertimbangkan faktor lain seperti gender, ras, usia, 
pendidikan, pandangan politik, serta pandangan personal tentang Trump dan 
Clinton dengan metode multiple regression analysis, mengukur dampak relatif 
dari berbagai variable independen.

Jika digabungkan, semua faktor tersebut memberi penjelasan mengapa 38 persen 
pendukung Obama membelot dari mendukung Clinton. Sementara mempercayai berita 
palsu menambah 11 persen.

Bagi mereka yang tidak berbelok dari Clinton, mempercayai berita palsu 
berdampak lebih besar, para pendukung Obama yang percaya salah satu dari berita 
tersebut “3,9 kali cenderung membelot dari Demokrat pada 2016 dari pada mereka 
yang tidak percaya berita palsu sama sekali, setelah dinilai dari semua faktor”.

“Kami tidak bisa membuktikan percaya berita palsu menyebabkan mantan pemilih 
Obama membelot dari kandidat Demokrat pada 2016. Tapi, data ini secara kuat 
menunjukkan paparan berita palsu memiliki dampak signifikan terhadap keputusan 
memilih,” kata mereka.

Studi lain yang dipimpin oleh universitas Princeton mengenai konsumsi berita 
bohong selama kampanye 2016 juga menunjukkan artikel palsu mengisi 2,6 persen 
pemberitaan selama masa tersebut, kebanyakan menjangkau partisan yang mungkin 
tidak mudah terbujuk.

Baca juga: Kalimat Hillary Clinton yang bikin heboh Grammy Award
Baca juga: Hillary Clinton muncul di Grammy, sindir Trump
Baca juga: Keluarga Donald Trump sewot kenapa Grammy munculkan Hillary 
Penerjemah: Natisha Andarningtyas

Mencla-mencle, Trump ingin AS masuk lagi TPP
 Jumat, 13 April 2018 08:50 WIB
 
Presiden Amerika Serikat Donald Trump. (REUTERS/Yuri Gripas)

Jakarta (ANTARA News) - Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah 
memerintahkan para pembantu seniornya untuk mengeksplorasi bergabungnya kembali 
negara itu dalam Kemitraan Trans Pasifik atau TPP, dengan syarat ada kesepakan 
yang lebih baik yang bisa dicapai, kata Gedung Putih seperti dikutip AFP.

Keputusan yang disambut baik para wakil rakyat dari negara bagian-negara bagian 
pertanian di AS itu bisa menjadi perubahan wajah presiden yang selama ini 
selalu menentang perjanjian TPP yang dengan cepat mengeluarkan AS dari TPP 
begitu naik berkuasa tahun lalu.

Gedung Putih buru-buru menepis anggapan bahwa keputusan Trump itu sebagai bukan 
mencla-mencle, melainkan konsisten dengan pernyataan-pernyataan Trump 
sebelumnya.

"Tahun lalu, presiden memegang janjinya mengakhiri kesepakatan TPP karena tidak 
adil terhadap pekerja dan petani Amerika," kata Wakil Sekretaris Pers Gedung 
Putih Lindsay Walters.

"Tetapi beliau (Trump) konsisten berkata akan terbuka kepada kesepakatan yang 
secara substansial lebih baik, termasuk dalam pidatonya di Davos belum lama 
tahun ini," kata Walters.

Trump sudah meminta Kepala Kadin Amerika Serikat Robert Lighthizer dan 
penasihat ekonomi Larry Kudlow  untuk melihat kembali apakah ada kesepakatan 
yang lebih baik yang bisa dirundingkan, sambung dia.

Trump kerap mencampakkan kesepakatan-kesepakatan perdagangan multilateral, 
bahkan pernah menyebut Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA) yang 
sudah berumur 24 tahun sebagai "bencana."

Baca juga: Trump desak Saudi rujuk dengan Qatar

  
Pewarta: SISTEM
Editor: Jafar M Sidik

Kirim email ke