Strategi Jokowi-JK Genjot Ekspor di 2018 Hingga Tumbuh 11 Persen
SABTU, 14 APR 2018 13:10 | EDITOR : SAUGI RIYANDI
 
Presiden Jokowi (Dok. JawaPos.com)


Berita Terkait
  a.. Birokrasi Kepabeanan Diklaim Bebas Uang Pelicin
   
  b.. Jurus Jokowi Tingkatkan Indeks Kemudahan Usaha di Tanah Air
   
  c.. Defisit Dagang 3 Kali Berulang, Ini Alasan Pemerintah Harus 
Hati-hatiJawapos.com - Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menegaskan 
ekspor dan investasi menjadi kunci peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. 
Hal ini disampaikan pada acara Rapat Koordinasi Pemerintah, Pemerintah daerah, 
dan Bank Indonesia yang berlangsung Jumat (13/4) di Batam, Provinsi Kepulauan 
Riau.

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 11 persen di 2018. Target ini 
ditetapkan dengan mempertimbangkan pertumbuhan kinerja ekspor Indonesia di 2017 
yang mencapai USD 168,7 miliar, atau tumbuh 16,2 persen dibandingkan tahun 
sebelumnya. Selain itu, Indonesia juga berhasil mencatat surplus perdagangan 
sebesar USD 11,8 miliar.

"Kunci pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah ekspor dan investasi. APBN 
merupakan stimulasi," jelas Enggar dalam keterangan resmi di Jakarta, Sabtu 
(14/4).

Ada tiga hal pokok utama yang perlu diperhatikan dalam peningkatan ekspor. 
Ketiga hal tersebut yaitu menjaga ketersediaan bahan baku dan barang modal 
serta stabilitas harga barang modal pada harga internasional yang kompetitif, 
perluasan pasar ekspor, serta peningkatan ekspor jasa.

Upaya menjaga ketersediaan bahan baku dan barang modal, menurut Mendag dapat 
dilakukan melalui penurunan tarif, memberikan kemudahan dalam proses pengurusan 
lisensi dan perizinan ekspor dan impor, serta meningkatkan transparansi 
peraturan ekspor dan impor.

Sedangkan perluasan pasar ekspor dapat dilakukan dengan menjaga jumlah 
perjanjian perdagangan bilateral, regional dan multilateral, penjajakan 
pasar-pasar ekspor nontradisional, reorientasi fungsi atase perdagangan dan 
Indonesian Trade Promotion Center untuk menjadi agen intelijen bisnis guna 
mengetahui kebutuhan konsumen; serta mengoordinasikan promosi perdagangan agar 
dapat dilakukan dalam skala besar secara efisien untuk memperoleh hasil yang 
maksimal.

Selanjutnya, peningkatan ekspor jasa dapat dilakukan antara lain 
denganpengembangan e-dagang, teknologi dan bisnis berbasis internet, serta 
potensi ekspor jasa di bidang desain, arsitektur, akuntansi, serta teknologi 
komunikasi dan informasi.

"Di 2018-2019, perekonomian dunia diprediksi tumbuh 3,9 persen dan Indonesia 
5,4 persen. Indonesia harus dapat menggunakan momentum ini untuk melanjutkan 
reformasi sehingga dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan 
berkesinambungan," pungkas Mendag.

(uji/JPC)

Kirim email ke