Persoalan proletarisasi (pemisahan dari sarana produksi) baik melalui perampasan atau dengan diferensiasi kelas, sampai saat ini masih menghantui para petani di Indonesia. Data Sensus Pertanian 2003 ada 31,17 juta RTP menurun menjadi 26,04 juta RTP pada tahun 2013 (BPS, 2013). Dalam satu dekade, ada 5,13 juta rumah tangga petani yang tidak lagi menjadikan pertanian sebagai pekerjaan utama. Persoalan itu memiliki akar sejarah yang cukup panjang. Kebijakan revolusi hijau (intervensi teknologi & input kimiawi di pertanian) yang dijalankan oleh rezim Soeharto pada tahun 1970an turut berperan dalam proses ketimpangan agraria. Kebijakan ini melihat persoalan pertanian bukan dari masalah struktur ketimpangan penguasaan tanah, akan tetapi pada input modern dan teknologi. Kebijakan ini pula menjadi piranti politik rezim Orde Baru untuk mengeksklusi kebijakan land reform yang didorong kelompok kiri dengan dasar UU Pokok Agraria 1960.Sementara organisasi atau serikat tani yang seharusnya menjadi kendaraan pergerakan dalam memperjuangkan kesejahteraan petani telah dihancurkan beriringan dengan lahirnya rezim Orba. Barisan Tani Indonesia (BTI) salah satu organisasi tani kiri yang progresif dibubarkan dan anggotanya dibunuh. BTI merupakan serikat tani yang berjejaring dengan partai dan bergerak aktif memperjuangkan keadilan agraria. Setelah menghancurkan organ kiri, rezim Orba membentuk organisasi tani di bawah kendali mereka. Kini setelah 20 tahun reformasi serikat tani banyak lahir di berbagai penjuru Indonesia. Namun, jumlah mereka masih cukup kecil dan belum mampu menjadi kekuatan politik untuk mengintervensi atau menjalankan kekuasaan di pemerintahan. Dalam arena demokrasi sekarang, kekuatan tersebut menjadi penting untuk dapat menciptakan perubahan-perubahan sosial.Bagaimana kondisi agraria di Indonesia saat ini? Bagaimana peran serikat tani dalam memperjuangkan keadilan agraria? Mengapa serikat tani di Indonesia belum mampu menjadi kekuatan politik dalam arena demokrasi? Apa yang menghambat proses itu? Apakah karena masalah kesadaran petani, diferensiasi kelas sosial, LSMisasi gerakan, atau kuatnya hegemoni penguasa? Apa implikasinya? Bagaiama serikat tani seharusnya berjuang untuk keadilan agraria di Indonesia?Mari mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan di atas dalam diskusi MAP Corner-Klub MKP seri ke-5 untuk memperingati “20 Tahun Reformasi”. Diskusi akan diselenggarakan di Lobby MAP UGM pada 17 April 2018 pukul 15.00 wib dengan tema "Serikat Tani, Partai Politik, & Perubahan Sosial" yang akan dipantik oleh Laksmi Savitri (Dosen FIB UGM) & Erlangga (Ketua AGRA Yogyakarta).Mari Merapat & Nikmati Jajanan Pasar! ______________________________ Website: https://mapcorner.wg.ugm.ac.id/ Email: [email protected] Facebook: MAPCorner-KlubMKP Instagram: mapcornerklubmkp Youtube: MAP Corner Line: @kbw7372v
[GELORA45] Diskusi tentang Serikat Tani, Partai Politik & Perubahan Sosial
Tatiana Lukman [email protected] [GELORA45] Sat, 14 Apr 2018 23:59:33 -0700
