*Sering diberitakan tentang ”Islamophobia”, tetapi bagaimana dengan
”kafirphobia dan/atau Nasraniphobia di NKRI?*



http://www.panjimas.com/news/2018/04/14/pakar-university-of-leeds-tegaskan-islamophobia-ubah-hubungan-warga-dan-negaranya/



Pakar University of Leeds Tegaskan “Islamophobia Ubah Hubungan Warga dan
Negaranya”
<http://www.panjimas.com/news/2018/04/14/pakar-university-of-leeds-tegaskan-islamophobia-ubah-hubungan-warga-dan-negaranya/>

14 Apr 2018

<http://www.panjimas.com/news/2018/04/14/pakar-university-of-leeds-tegaskan-islamophobia-ubah-hubungan-warga-dan-negaranya/>



*ISTANBUL, (Panjimas.com)* –  “Islamophobia mengubah hubungan antara warga
dan negara,” demikian pernyataan seorang pakar dari Universitas Leeds, yang
juga merupakan co-editor buku “Thinking Through Islamophobia: Global
Perspectives”.

Salman Sayyid menuturkan, “”Kita perlu memiliki cara berpikir tentang
bagaimana kita memahami fenomena Islamophobia”, dilansir dari Anadolu.

“Secara konseptual daripada hanya menjelaskan berbagai macam daftar-daftar
sepanjang waktu, berdebat tentang definisi,” jelasnya.

Sayyid juga mengungkapkan bahwa untuk waktu yang lama orang berpikir bahwa
Islamophobia hanya berarti penganiayaan terhadap minoritas Muslim.

“Karena itu, jika Anda bukan minoritas Muslim, Anda tidak terlalu peduli.
Itu tidak memengaruhi apa pun, ” tandas Sayyid.

Hal ini disampaikan Salman Sayyid di Universitas Sabahattin Zaim Istanbul
saat Konferensi Internasional Islamophobia yang bertajuk “Contextualizing
Islamophobia: Its Impact on Culture and Global Politics”
[“Mengkontekstualkan Islamophobia: Dampaknya pada Budaya dan Politik
Global”]. Dalam konferensi internasional itu khusus dibahas mengenai
strategi dan kebijakan untuk memerangi Islamophobia

Syaikh Mehmet Gormez, mantan Kepala Direktorat Urusan Agama Turki turut
menyampaikan tentang peran para cendekiawan Muslim dalam memerangi
Islamophobia.

“Apa yang kami lihat di Eropa dan Amerika Utara, tetapi saya akan
mengatakan di seluruh dunia sekarang adalah Islamophobia dan ini menjadi
sarana untuk mengubah hubungan antara warga dan pemerintah mereka,” imbuh
Sayyid.

Menurut Sayyid, Islamophobia tidak lagi mempengaruhi kaum minoritas saja.

“Ini benar-benar mengubah cara negara berpikir tentang dirinya sendiri,”
pungkasnya, Ia pun mengutip larangan visa perjalanan oleh Presiden AS
Donald Trump terhadap Muslim.

“Apa yang telah dilakukan Trump adalah berdasarkan undang-undang yang telah
diterapkan oleh [pendahulunya Barack] Obama,” jelasnya.

Sayyid mengatakan bahwa banyak orang melihat Islamophobia “lebih seperti
jatuhnya topeng daripada kenyataan baru.”

“Aspek yang lebih mengkhawatirkan adalah Islamophobia tidak lagi terbatas
di mana ada minoritas Muslim. Ini adalah wacana global, sebuah fenomena
global,” pungkasnya.

“Jadi Anda memiliki negara-negara seperti misalnya Angola, di mana hampir
tidak ada Muslim, yang mencoba untuk menutup masjid-masjid,” tambahnya.

Selain menampilkan para ulama dan cendekiawan dari seluruh dunia,
konferensi ini juga berfokus mengenai isu Islamophobia pada budaya,
masyarakat, politik, dan hubungan internasional.

Konferensi ini dimaksudkan untuk memacu diskusi tentang “strategi dan
kebijakan yang perlu diadopsi dan dikejar untuk mengakhiri atau mengurangi
efek berbahaya dan merugikan dari Islamophobia,” menurut laman web
Universitas Sabahattin Zaim Istanbul.



*Gelombang Islamophopia Eropa*

Lembaga Kajian Politik, Ekonomi, dan Sosial yang berbasis di Ankara,
Foundation for Political, Economic and Social Research (SETA) dalam laporan
tahunannya yang dirilis Senin (02/04) mengevaluasi kejahatan anti-Muslim di
Eropa berdasarkan laporan tiap negara-negara Eropa.

Menurut European Islamophobia Report 2017, gelombang Islamophobia meningkat
tajam di Eropa.

Laporan European Islamophobia Report 2017 (EIR) mengungkapkan 908 kejahatan
terhadap umat Islam, mulai dari serangan verbal dan fisik hingga upaya
pembunuhan, dan serangan-serangan ini menargetkan Muslim di Jerman, serta
664 serangan di Polandia, 364 serangan di Belanda, 256 serangan di Austria,
121 serangan di Prancis, 56 serangan di Denmark, dan 36 serangan di Belgia,
dilansir dari Anadolu Ajansi.

Serangan itu berkisar diantara serangan verbal dan fisik bahkan hingga
upaya pembunuhan muslim.

Laporan EIR 2017 itu menjelaskan bahwa sebagian besar pemerintah Eropa,
bagaimanapun, tidak menerapkan kebijakan khusus untuk melawan Islamophobia,
dan hanya memasukkan mereka dalam subkategori “kejahatan kebencian” dalam
statistik Kepolisian resmi bahwa itu hanyalah “tindakan kriminal bermotif
politik”.

“Jika angka-angka ini cukup mencolok untuk membingungkan kami, mereka tidak
bisa dibandingkan dengan keadaan nyata materi,” ungkap laporan EIR 2017 itu.

SETA menambahkan bahwa data dan statistik yang tersedia tentang
Islamophobia di Eropa “hanyalah puncak dari gunung es”.

Laporan itu menunjukkan bahwa Muslim Eropa akan terus menghadapi kebijakan
diskriminatif tanpa pengakuan resmi dan tak terbantahkan tentang
Islamophobia sebagai jenis kejahatan rasisme tertentu.

SETA mendesak lembaga Uni Eropa untuk mengakui dan mengatasi Islamofobia
secara politik sebagai “suatu bentuk rasisme” yang dapat menyebabkan
pelanggaran hak asasi manusia.

Laporan EIR itu menambahkan: “Pengakuan hukum dan politik Islamophobia
adalah yang paling penting. Oleh karena itu, konferensi tingkat Eropa
tentang Islamophobia harus diorganisir dengan dukungan setidaknya salah
satu negara anggota Uni Eropa atau Parlemen Eropa.” [IZ]

Kirim email ke