Abraham Samad: Kasus Century ujian terbesar KPK
 Senin, 16 April 2018 05:59 WIB
 
Mantan ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Abraham Samad menjawab 
pertanyaan wartawan saat dialog bersama Jurnalis Yogyakarta di Sleman, DI 
Yogyakarta, Minggu (15/4/2018). Dalam dialog tersebut Abraham Samad membahas 
berbagai permasalahan pengelolaan sumber daya di Indonesia serta arah bangsa 
Indonesia kedepan. (ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

Yogyakarta (ANTARA News) - Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) 
Abraham Samad mengatakan kasus dugaan korupsi talangan Bank Century merupakan 
ujian terbesar yang harus bisa dilalui Komisi Pemberantasan Korupsi.

"Kasus Century ini adalah ujian terbesar dalam sejarah Komisi Pemberantasan 
Korupsi (KPK) dan KPK harus lulus dari ujian ini," kata Abraham Samad dalam 
acara "Abraham Samad Bicara Arah Bangsa Ke depan dengan Jurnalis Jogja" di 
Yogyakarta, Minggu malam.

Menurut Abraham, melalui kasus Century marwah dan kredibilitas KPK ditentukan. 
Jika KPK sampai tidak lulus dalam ujian tersebut maka akan menjadi preseden 
buruk yang berdampak pada pemberantasan korupsi di Indonesia. "Kalau tidak 
lulus berarti terjadi arah balik pemberantasan korupsi," kata dia.

Ia berharap dugaan keterlibatan mantan pimpinan atau pejabat tinggi negara 
dalam kasus itu tidak menghambat langkah KPK untuk menuntaskan kasus Century 
dengan menjunjung asas "equality before the law" atau persamaan di hadapan 
hukum. "Menurut saya inilah yang harus menjadi fokus kita. Kita tidak boleh 
membiarkan ada seseorang yang kebal hukum karena jabatannya," kata dia.

Meski demikian, Abraham memiliki keyakinan kasus Century bisa ditindaklanjuti 
dan tidak akan ditelantarkan oleh KPK.

Terkait putusan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan yang meminta KPK untuk 
menetapkan Mantan Wakil Presiden yang juga mantan Gubernur BI Boediono sebagai 
tersangka terkait kasus Century, Abraham menduga keterlibatan Boediono dalam 
kasus itu karena dalam kondisi terpaksa.

"Saya yakin keterlibatan dia bukan keterlibatan seorang diri. Mungkin 
keterlibatan itu karena dia berada dalam rezim yang tidak terlalu tepat yang 
kadang-kadang ia terpaksa melakukan itu," kata dia.

"Tetapi keterpaksaan itu tidak bisa dijustifikasi dan tidak boleh dibenarkan 
karena dia seorang guru besar," kata Abraham lagi. 
Pewarta: Luqman Hakim
Editor: Ruslan Burhani
  • [GELORA45] Abraham Samad:... 'Chan CT' sa...@netvigator.com [GELORA45]

Kirim email ke