http://www.beritasatu.com/opini/5358-luka-indonesiaku-so-few-have-so-much-so-many-have-so-little.html



Luka Indonesiaku: 'So Few Have So Much, So Many Have So Little'

   -


[image: Luka Indonesiaku: 'So Few Have So Much, So Many Have So Little']
<http://www.beritasatu.com/opini/5358-luka-indonesiaku-so-few-have-so-much-so-many-have-so-little.html#>
<http://www.beritasatu.com/opini/5358-luka-indonesiaku-so-few-have-so-much-so-many-have-so-little.html#>
Opini: dr. Gamal Albinsaid

Seorang dokter, wirausaha sosial, inovator kesehatan, dan inspirator pemuda
Indonesia. Mengembangkan berbagai inovasi kesehatan sosial, diantaranya
Klinik Asuransi Sampah, Livestock Waste Insurance, Homedika, Sabuk Bayi
Pintar, Mother Happiness Center, Care4Mother, Siapapeduli.id. dr. Gamal
Albinsaid menjadi pemuda pertama di dunia dan satu-satunya di Asia yang
meraih penghargaan Kehormatan, HRH The Prince of Wales Young Sustainability
Entrepreneur Award dari Kerajaan Inggris. Beliau telah meraih lebih dari 40
perhargaan dan 9 penghargaan internasional dari Jerman, Inggris, Jepang,
Korea Selatan, Amerika, Thailand, Kamboja, Jerman, dan Peru.

Rabu, 31 Mei 2017 | 12:01 WIB

Dua tahun lalu ketika ada World Economic Forum, kami aktivis wirausaha
sosial internasional bersama Oxfam launch World Equality Forum memperoleh
data, kekayaan 85 orang terkaya di dunia sama dengan kekayaan separuh
populasi dunia.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Agaknya tidak jauh berbeda. Pada tahun
2008, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kakayaan 30 juta
penduduk Indonesia. Tahun 2009, kekayaan 40 orang terkaya di Indonesia sama
dengan kekayaan 42 juta penduduk Indonesia. Tahun 2010, naik lagi, kekayaan
40 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 60 juta penduduk
Indonesia. Tahun 2011 kian menyakitkan, kekayaan 40 orang terkaya di
Indonesia sama dengan kekayaan 77 juta penduduk Indonesia.

Tidak cukup sampai disitu, Bulan Februari kemarin, hati kita semakin
tersayat, bayangkan kekayaan 4 orang, bukan lagi 40 orang, saya ulangi
kekayaan 4 orang terkaya di Indonesia sama dengan kekayaan 100 juta
penduduk Indonesia. Ya kawan, kita terus berjalan ke arah kesenjangan yang
memicu ledakan sosial. Menyakitkan mengetahui bahwa di negara kita *so few
have so much, so many have so little*. Saya yakin dan berterima kasih penuh
hormat pada Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang membacakan puisi
"Tapi Bukan Kami Punya" yang mengingatkan kita kembali akan janji
kemerdekaan yang tertuang dalam sila ke 5, Keadilan sosial bagi seluruh
rakyat Indonesia.

Luka itu semakin mengaga, tatkala kita tahu bahwa koefisien gini kita naik
pesat dari 0,3 ditahun 2000 menjadi 0,42 saat ini. Yang lebih menyesakkan
dada lagi, Credit Suisse mengatakan, Indonesia kita sudah menjadi negara
peringkat ke-4 yang memiliki kesenjangan ekonomi yang timpang setelah
Rusia, India, dan Thailand. Bayangkan, 1 persen orang terkaya di Indonesia
menguasai 49,3% aset di Indonesia. Bank Dunia juga angkat bicara,
pertumbuhan ekonomi selama 1 dasawarsa terakhir hanya menguntungkan 20
persen orang terkaya, sementara 80% sisanya tertinggal di belekang. Apa
akibatnya, 61%  masyarakat kita memilih menerima pertumbuhan ekonomi yang
lebih rendah asalkan ketimpangan juga berkurang. Lalu saya bertanya, dimana
keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu?

Kesenjangan yang ada di negeri kita tidak boleh dilihat hanya soal angka,
tapi itu soal luka. Luka yang harus kita ingat dan rasakan bersama.
Pemerintah boleh berbangga mengatakan angka kemiskinan kita turun menjadi
10,9% masyarakat miskin atau sekitar 28 juta penduduk dan menargetkan
menjadi 9-10% pada tahun ini. Tapi jika garis kemiskinan kita hanya Rp
354.386, maka saya yakin bahwa banyak orang-orang miskin yang tidak diakui
miskin.

Wirausaha tidak cukup untuk menyelesaikan berbagai masalah di negeri kita.
Kita butuh Wirausaha sosial, orang – orang yang bukan hanya berfikir
tentang uang di tangan, tapi juga berfikir tentang kebaikan,
kebermanfaatan, dan kepedulian. Kita butuh orang-orang yang bukan hanya
berpikir *“How to make money”*, tapi mereka juga berpikir “*How to solve
social problems”*. Sudah 2 tahun terakhir saya berkeliling Indonesia
memperkenalkan tentang konsep wirausaha sosial dan mengajak sebanyak
mungkin pemuda menjadi wirausaha sosial.

Saya yakin tanpa wirausaha sosial pertumbuhan ekonomi kita tidak akan
berkorelasi dengan perbaikan kesejahteraan bangsa kita. Kawan, keluarlah
sejenak dari kantor atau tempat kerja kita, sejenak singgahlah di
kampung-kampung yang sempit sesak dan penuh dengan kemiskinan. Rasakan
cobaan dan penderitaan mereka, mencobalah sedikit berempati. 'The great
gift of human beings is that we have the power of empathy'.

Tapi marilah kita tatap masa depan bangsa ini dengan penuh optimisme.
Sudahlah, selesaikan dan kita tutup rapat-rapat soal perbedaan dan
perselisihan. Hari ini saya yakin, Indonesia sedang memasuki era baru
dimana nilai-nilai penghormatan bukan hanya diberikan kepada mereka yang
punya kesejahteraan finansial, tapi kepada mereka yang punya ide, gagasan,
dan kepedulian. Jadilah wirausaha negarawan yang bekerja untuk
menyelesaikan berbagai masalah bangsa dengan dompetnya sendiri.

Pekan ini, kita memperingati Hari Lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 2017.
Jangan jadikan Pancasila pemanis lisan, tapi cobalah rasakan dan amalkan.
Mari kita bangun Persatuan Indonesia untuk mencapai Keadilan Sosial. Jangan
ada lagi seseorang ayah yang pulang ke rumahnya dengan penuh rasa bersalah
karena tak mampu membawa makan untuk anak-anaknya… Jangan ada lagi seorang
Ibu yang harus memohon belas kasih di rumah sakit agar sang anak bisa
mendapatkan pengobatan… Jangan ada lagi seorang anak yang tak mampu
mengangkat kepala dan dadanya di kelas karena tak mampu membayar biaya
sekolah…

Kirim email ke