Soal Hukum Rimba SBY, Demokrat Ingatkan Partai Penguasa
Martahan Sohuturon, CNN Indonesia | Rabu, 18/04/2018 09:54 WIB
Demokrat menyebut maksud hukum rimba yang dicuitkan SBY dalam twitternya 
bermakna agar partai penguasa tak menghalalkan segala cara memenangkan pemilu 
2019. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga).Jakarta, CNN Indonesia -- Ketua Divisi 
Hukum Partai Demokrat, Ferdinand Hutahaean mengingatkan partai politik yang 
sedang berkuasa agar tidak menghalalkan berbagai cara untuk memenangi Pemilihan 
Umum (Pemilu) 2019 mendatang.

Hal tersebut ia sampaikan dalam menjelaskan arti hukum rimba yang sempat 
dicuitkan oleh Ketua Umum Demokrat, Susilo Bambang Yudhyono (SBY), lewat akun 
media sosial Twitter-nya @SBYudhoyono, Selasa (17/4).

Ferdinand mengatakan hukum rimba yang dimaksud SBY adalah mengingatkan partai 
petahana yang sedang berkuasa agar tidak menghalalkan segala cara dalam 
memenangkan kontestasi Pemilu 2019, seperti menggunakan kekuasaan dan kekuatan 
yang dimiliki. 


"Semua wajib menjalankan kontestasi secara jujur dan adil serta menggunakan 
cara-cara bermartabat," kata Ferdinand lewat pesan singkat kepada 
CNNIndonesia.com, Rabu (18/4).

      Lihat juga: Setahun Jelang Pilpres, SBY Berharap Hukum Rimba Tak Berlaku 
Partai yang sedang berkuasa menurutnya juga tidak boleh menggerakkan lembaga 
negara tertentu untuk berpihak dan membantu meraih kemenangan di Pemilu 2019. 

Ferdinand menuturkan, SBY juga sangat berharap netralitas seluruh jajaran 
aparatur negara mulai dari Tentara Nasional Indonesia (TNI), Kepolisian Negara 
Republik Indonesia (Polri), Badan Intelijen Negara (BIN) hingga lembaga negara 
lain dan kementerian. Menurutnya, SBY mengharapkan demokrasi yang bersih, 
jujur, dan bermartabat dapat lahir di Pemilu 2019.

"Jangan sampai ada penyalahgunaan kekuasaan untuk menang. Itu yang dimaksud 
dengan hukum rimba, yang kuat menang dengan segala cara," tuturnya.

Senada, Wakil Sekretaris Jenderal Demokrat Didi Irawadi Syamsudin juga 
menyatakan makna hukum rimba dalam cuitan SBY merupakan bentuk peringatan agar 
penyelenggara dan pihak-pihak yang berada di dalam kekuasaan seperti TNI, 
Polri, dan BIN bersikap netral di Pemilu 2019.

Bahkan, menurutnya, sikap tersebut sudah harus mulai dilakukan di Pemilihan 
Kepala Daerah (Pilkada) Serentak 2018 yang berlangsung di 171 wilayah.

"SBY mengingatkan kita semua pada hajatan besar, baik Pilkada 2018 dan Pemilu 
2019 agar penyelenggara dan pihak-pihak lain yang berada dalam kekuasaan tetap 
netral, menjalankan tugasnya dengan baik dengan menjunjung tinggi asas adil dan 
fairness bagi seluruh konstestan hajatan demokrasi," ucap dia.

      Lihat juga: SBY: Pemimpin Tak Boleh Saling Bermusuhan 
Didi pun mengajak semua pihak untuk bergerak melawan praktik politik uang yang 
kerap mewarnai ajang pesta demokrasi di Indonesia. Hal itu berpotensi merusak 
proses demokrasi.

Menurutnya, pemenang yang lahir dari ajang Pilkada 2018 dan Pemilu 2019 bukan 
disebabkan faktor kekuatan dan kemampuan finansial yang besar, melainkan menang 
karena kualitas, ide, dan program yang berpihak pada rakyat.

Didi juga meminta semua pihak tidak memainkan isu yang bernuansa suku, agama, 
ras, dan antargolongan (SARA).

"Harus dihasilkan pemimpin yang baik dan amanah, bukan pemimpin yang 
mengakibatkan terpecahnya bangsa ini," tutur dia.

Sebelumnya, SBY berharap Pemilu 2019, termasuk Pilpres berlangsung aman, 
tertib, jujur dan adil. Hal itu ia sampaikan lewat Twitter bertepatan dengan 
satu tahun hitung mundur menjelang Pemilu 2019.

"Semoga setiap peserta pemilu bertanding secara ksatria," katanya.

SBY juga berharap tidak terjadi kampanye hitam dan pembunuhan karakter pada 
Pemilu 2019. Dia juga menginginkan supaya ajang itu bebas dari serbuan kabar 
bohong, ujaran kebencian serta intimidasi.

"Semoga yang berlaku bukan hukum rimba. Yang kuat pasti menang dan yang lemah 
pasti kalah, tak perduli salah atau benar," kata SBY. (osc)

Kirim email ke