Tong Setan dan Rawon Setan http://www.kbknews.id/2018/04/19/tong-setan-dan-rawon-setan/ Penulis Cantrik Metaram http://www.kbknews.id/author/cantrikmetaram/ -
Kamis, 19 Apr 2018 07:39 SELAMA ini yang diketahui umum, setan sejak jaman Belanda baru membuka usaha hiburan akrobat maut Tong Setan dan belakangan ini bikin usaha kuliner Rawon Setan. Tapi kata bapak reformasi Amien Rais, sekarang ini ada pula partai setan. Haa? Setan sudah bikin partai? Ini sungguh sebuah lompatan besar dari kalangan lelembut (makhluk halus). Bagaimana jika publik ingin lihat Ketum dan Sekjennya, pasti harus menggunakan minyak Jayeng Katon. Setan adalah makhluk yang tidak kasat mata (terlihat), sehingga termasuk kelompok lelembut. Dalam Qur’an (surat Al A’raf 11) disebutkan, ketika Allah Swt menciptakan langit dan bumi beserta isinya, diciptakan pula manusia, malaikat dan setan (iblis). Manusia pertama Nabi Adam-Siti Hawa diciptakan dari tanah, iblis, jin, setan, dhemit berikut jajarannya terbuat dari api, sementara malaikat berasal dari cahaya (nur). Allah Sang Pencipta kemudian memerintahkan malaikat dan iblis bersujud pada Nabi Adam-Siti Hawa. Malaikat langsung sujud, tapi iblis membangkang dengan alasan api lebih mulia ketimbang tanah. Allah Swt pun murka, sehingga dijatuhkan hukuman bahwa di hari kiamat nanti iblis akan tinggal dalam api neraka selamanya. Namanya juga iblis, dalam suasana kritis tetap saja optimis. Dia siap masuk neraka tapi bermohon pada Allah, ijinkanlah untuk menggoda anak cucu Nabi Adam menuju jalan sesat, sebagai teman di neraka kelak. (Surat Al A’raf 16-17). Saat diciptakan kali pertama Nabi Adam-Siti Hawa tinggal di dalam surga. Di sana tumbuh pohon kuldi yang berbuah lebat. Allah Swt telah memperingatkan, jangan mendekati pohon itu (surat Al Bakoroh 35). Setan yang telah dijatah kapling neraka, justru memprovokasi Adam – Hawa untuk makan buah kuldi tersebut (Al A’raf 20-23). Nabi Adam telah mengingatkan, jangan! Tetapi Siti Hawa terus merengek, sehingga keduanya nekad makan buah kuldi tersebut. Karena pelanggaran itu Allah kemudian menurukan Nabi Adam-Siti Hawa ke bumi. Nabi Adam-Siti Hawa mohon ampun dan bertaubat. Allah Swt pun mengampuni dan memerintahkan, “Turunlah kalian dari surga. Kemudian jika benar-benar dayang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, tidak ada rasa khawatir dan sedih. (surat Albakoroh 36-38) Karena itulah, hingga kiamat nanti perilaku umat manusia hanya dua macam, yang selalu mengikuti perintah Allah Swt dan selalu melawannya. Yang berbuat amal saleh masuk surga yang berbuat kebatilan masuk neraka. Allah silih berganti menurunkan nabi dan rasul untuk menyelamatkan umat, tapi tetap saja banyak yang berbuat maksiat melanggar syariat. Iblis pun selalu sibuk selama 24 jam sampai hari kiamat. Tapi iblis kelas lain yang dinamakan setan, di sela-sela tugas menggoda iman manusia, ada juga yang dengan sengaja memperkaya diri manusia. Misalnya diperintah manusia untuk mencuri uang, namanya thuyul. Maka jika ada orang kaya dengan pekerjaan dan penghasilan tak jelas, dituduhnya punya pesugihan entah itu dari Gunung Kawi atau bulus Jimbung Klaten. Setan itu meski doyanannya kembang dan kemenyan, ada pula yang sejak jaman Belanda bisnis di dunia hiburan, berupa akrobat maut yang namanya Tong Setan. Setiap ada pasar malam selalu ada hiburan seperti itu, yakni orang naik sepeda motor dengan ngebut melingkar-lingkar di medan bulat semacam tong. Di era gombalisasi ini, rupanya bisnis Tong Setan tak lagi menjanjikan, sehingga ada yang beralih usaha ke kuliner. Dari Surabaya mereka buka warung Rawon Setan, melebar sampai Jakarta dan Depok. Bila lidah terbakar menikmati rawon yang super pedas itu, bisa diredam dengan minum Es Pocong. Tapi paling mengejutkan, kata bapak reformasi Amien Rais, sekarang ini ada partai setan di samping partai Allah (agama). Wih, setan bikin partai, ini sungguh mengerikan! Bagaimana jika ingin lihat pengurusnya, dari Ketum, Sekjen, DPP, hingga DPC? Apa harus pakai minyak Jayeng Katon sebagaimana milik Raden Harjuna dalam kisah perwayangan? Satriya Madukara ini dulu memang memperoleh sebotol kecil minyak tersebut dari Begawan Wilwuk dari Pringcendani. Cuma sekarang sudah habis, sehingga kemana-mana Harjuna tinggal mengantongi PPO. (Cantrik Metaram)
