https://nasional.tempo.co/read/1081336/jika-2019-umat-terbelah-lagi-buya-syafii-lebih-
bodoh-dari-unta
<https://nasional.tempo.co/read/1081336/jika-2019-umat-terbelah-lagi-buya-syafii-lebih-bodoh-dari-unta>
Jika 2019 Umat Terbelah Lagi, Buya Syafii: Lebih
Bodoh dari Unta
Reporter:
Caesar Akbar
Editor:
Juli Hantoro
Kamis, 19 April 2018 22:54 WIB
0 komentar
<https://nasional.tempo.co/read/1081336/jika-2019-umat-terbelah-lagi-buya-syafii-lebih-bodoh-dari-unta#comments>
7100072
#
#
#
#
Ahmad Syafii Maarif menyampaikan sambutan dalam acara Diversity Award
2018 di Wisma Antara, Jakarta, 29 Maret 2018. Tempo/Vindry
<https://statik.tempo.co/data/2018/03/30/id_694404/694404_720.jpg>
Ahmad Syafii Maarif menyampaikan sambutan dalam acara Diversity Award
2018 di Wisma Antara, Jakarta, 29 Maret 2018. Tempo/Vindry
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah
Ahmad Syafii Maarif atau Buya Syafii
<https://nasional.tempo.co/read/1055068/wejangan-buya-syafii-maarif-untuk-capres-cawapres-2019>
menyoroti semakin mengecilnya peran partai Islam dalam politik Indonesia
saat ini. "Kenapa partai sekuler lebih besar, karena partai Islam belum
bisa melahirkan negarawan," kata Buya Syafii dalam talkshow dan bedah
buku 'Krisis Arab dan Masa Depan Dunia Islam' di Jakarta Convention
Center, Kamis, 19 April 2018.
Sampai sekarang, kata Buya Syafii Maarif, menurutnya partai politik
Islam belum banyak melahirkan politisi yang berintegritas dan bisa
menjadi seorang negarawan. Walau pun, Buya Syafii mengatakan partai
politik Islam di Indonesia masih lebih baik ketimbang di kawasan Arab.
Baca juga: Buya Syafii Maarif: Politikus Dulu Itu Intelektual,
Sekarang...
<https://nasional.tempo.co/read/1064134/buya-syafii-maarif-politikus-dulu-itu-intelektual-sekarang>
Menurut Buya Syafii politisi yang baik adalah yang berpihak pada
keadilan, rakyat jelata, dan kebenaran. "Tapi itu kan masih jauh. Meski
dibanding dengan Arab, masih lebih baik," kata dia.
Buya Syafii Maarif mengatakan sampai sekarang memang tidak ada partai
politik yang ideal. Dia mendorong parpol berkaca pada kelakuan masa
lampau yang masih tidak sesuai dengan prinsip demokrasi untuk bisa
membangun demokrasi yang sehat. "Partai Islam sama saja."
Buya Syafii Maarif pun mengomentari maraknya ujaran kebencian di tahun
politik menjelang pesta demokrasi tahun depan. "Ujaran kebencian sudah
sejak dahulu tahun 2014," kata dia. "Seharusnya sebagai bangsa beradab
jangan seperti itu," tuturnya.
Baca juga: Buya Syafii: Indonesia Berjibun Politisi Instan Bermental
Duafa
<https://nasional.tempo.co/read/1054615/buya-syafii-indonesia-berjibun-politisi-instan-bermental-duafa>
Menjelang Pemilu 2019, Buya Syafii mengimbau partai politik untuk
berkompetisi secara wajar dan adil, serta selanjutnya menghormati dengan
lapang dada. Dengan begitu, dia merasa umat muslim di Indonesia tak akan
terpecah seperti 2014. "Kecuali tidak mau belajar."
Menurut Buya Syafii Maarif
<https://nasional.tempo.co/read/1054795/pilpres-2019-syafii-maarif-politisi-mesti-kenal-sub-kultur>
kondisi umat islam terpecah lantaran politik seperti saat itu sangat
memprihatinkan dan sangat disesalkan. "Kalau berulang lagi kita lebih
bodoh dari unta," tutur dia.