Tiongkok Diprediksi Hancur Usai Xi Jinping Resmi Jadi Presiden Seumur Hidup


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Tiongkok Diprediksi Hancur Usai Xi Jinping Resmi Jadi Presiden Seumur Hidup

Parlemen Tiongkok, Minggu 11 Maret 2018, menyetujui pencabutan pasal di 
konstitusi yang membatasi masa jabatan p...
 |

 |

 |



Oleh: Huminca Sinaga 11 Maret, 2018 - 21:33

Xi Jinping/REUTERS


TIONGKOK, (PR).- Parlemen Tiongkok, Minggu 11 Maret 2018, menyetujui pencabutan 
pasal di konstitusi yang membatasi masa jabatan presiden hanya dua kali periode 
dalam 10 tahun.

Seperti dilaporkan BBC, keputusan tersebut dinilai sebagai langkah politik yang 
dianggap efektif untuk memungkinkan Presiden Xi Jinping menjadi presiden seumur 
hidup. Perubahan ini disahkan dalam Kongres Rakyat Nasional yang berakhir hari 
Minggu 11 Maret 2018.

Masih dilansir BBC, hanya dua delegasi yang menentang perubahan itu, tiga orang 
abstain, sementara sisanya yaitu 2.964 suara menyetujuinya. Dengan keputusan 
ini, maka Presiden Xi Jinping akan tetap bisa menjabat setelah jabatan keduanya 
berakhir pada 2023 mendatang.

Sementara itu, dilansir laman The Guardian, identi​tas ​ dari lima pembangkang 
yang tak setuju Presiden Xi Jinping menjadi presiden seumur hidup, akan tetap 
menjadi misteri. Jumlah lima suara yang menentang perubahan konstitusi sangat 
minim ketimbang hampir 3.000 suara yang setuju konstitusi diubah untuk 
memuluskan jalan Presiden Xi Jinping menjadi pemimpin selamanya di Tiongkok.

Dilansir The Guardian, Yuan Weixia, delegasi dari provinsi Hubei, mengatakan 
bahwa dia sangat senang menjadi bagian dari momen penting dalam sejarah 
Tiongkok dan tidak ragu untuk mendukung pemimpinnya.

"Presiden Xi Jinping telah menunjukkan arah yang benar dalam pengembangan dan 
jika Anda telah menemukan jalan yang benar mengapa berubah?" katanya sebelum 
memasukkan kerta suara ke salah satu dari 28 kotak di Aula Besar di Gedung 
Parlemen Tiongkok yang letaknya dekat dengan Lapangan Tiananmen.

"Kami membutuhkan kepemimpinan yang kuat yang bisa terus memimpin kita ke 
depan," ujar Yuan  dikutip The Guardian.

"Itu yang kita butuhkan untuk terus maju ke arah yang benar," ujar anggota 
parlemen lainnya, Mayisifu yang merupakan perwakilan dari minoritas Hui di 
provinsi Qinghai.

Kehancuran

Para penentang yang jumlahnya lima orang itu menolak konstitusi buatan 1982 itu 
diubah karena khawatir terulangnya kengerian era Mao - bencana yang berisiko 
menenggelamkan Tiongkok ke era baru pergolakan politik dan kediktatoran 
pemimpin tunggal.

"Ini bisa menghancurkan Tiongkok dan rakyat Tiongkok. Jadi saya tidak bisa 
tinggal diam. Saya harus memberi tahu mereka bahwa ada orang-orang yang 
menentangnya, dan melakukannya secara terbuka," protes Li Datong, seorang 
editor surat kabar pensiunan yang menjadi wajah oposisi liberal terhadap 
kekuasaan Presiden Xi Jinping saat dia menerbitkan sebuah surat terbuka yang 
agresif yang menyerang langkah tersebut.

Li mengatakan bahwa dia merasa marah dengan voting di parlemen pada hari Minggu 
11 Maret 2018  itu. "Lebih dari 2.000 anggota parlemen bertindak seperti boneka 
dan membawa kita kembali ke era Mao. Bagaimana dengan mengadakan referendum? 
Berani mereka mengadakan referendum? Tentu saja tidak, " katanya.

"Maaf, ketika saya memikirkan hal ini, saya tidak bisa berhenti marah, dan 
mengatakan kata-kata buruk," ujarnya lagi seperti dilaporkan laman The Guardian.

Sementara komentator politik Cary Huang menyebut usaha Xi untuk menjadi "raja 
de facto" Tiongkok yang mungkin merupakan perkembangan sejarah politik Tiongkok 
yang paling kontroversial.

"Sejarah telah menunjukkan bahwa banyak pemimpin politik yang mencari layanan 
seumur hidup belum berhasil mewujudkan visinya," kata Huang mengingatkan lewat 
surat kabar Hong Kong, seperti dikutip The Guardian. "Beberapa telah 
digulingkan ... yang lainnya telah dibunuh oleh musuh politik".***



Kirim email ke