Apakah juga akan ada aksi solidaritas seperti ini bila yang ngomong "kitab suci 
fiksi" itu Ahok atau Sukmawati?Hal ini sebenarnya menunjukkan secara kasat mata 
politiksasi penista agama. Cabut UU Penista Agama dan rehabilitasi semua 
penista agama!
---Dengan latar belakang Islam garis konservatif bahkan menurut media 
mainstream bisa dikategorikan radikal, Ustadz Mudzakir menyempatkan datang pada 
acara aksi solidaritas pada Rocky Gerung, seorang non muslim yang  dituding 
sebagai penista agama. 
....

Ustadz Mudzakir Dan Aksi Solidaritas Rocky Gerung

 RABU, 18 APRIL 2018 , 10:16:00 WIB

Alireza Alatas dan Ustadz Mudzakir/Dok
ADA yang menarik dalam pertemuan aksi solidaritas atas Rocky Gerung di kawasan 
Manteng, Jakarta Pusat, Selasa malam 17 April 2018. Saya bertemu seorang guru 
kharismatik saat  saya menjadi santri di sebuah pesantren Jawa Timur sekitar 27 
tahun lalu.

Namanya adalah Ustadz Mudzakir. Beliau termasuk sosok yang menggembleng santri 
dengan tegas. Saat itu, saya melihatnya penuh rasa takut dan khawatir. Tadi 
malam saya temui beliau dengan rasa bahagia berikut bangga dan tak lupa cium 
tangannya di depan para aktivis dan politisi yang saat itu berkumpul dukung 
Rocky Gerung.

Ustadz Mudzakir yang tampak masih muda dan segar, persilakan saya untuk mampir 
ke pesantren beliau di Solo. Ustadz bisa dikatakan sebagai sosok ulama yang 
konservatif. Beliau tak menggunakan fasilitas SMS, apalagi Whatsapp. "Saya 
hanya menerima via telepon. Hampir semua telepon yang masuk saya angkat," kata 
Ust Mudzakir.

Saya mengenal beliau sejauh ini sebagai sosok pejuang pergerakan Islam. Hampir 
semua tokoh pergerakan Islam dekat dengan beliau.  Di antara tokoh yang dekat 
dengan beliau adalah Ustadz Abu Bakar Baashir yang saat ini dipenjara karena 
tuduhan terlibat dalam terorisme. Bahkan disebut-sebut, Ustadz Mudzakir adalah 
rujukan masalah-masalah fikih Ustadz Abu Bakar Baashir. Pengadilan Negeri 
Jakarta Selatan menjatuhkan vonis 15 tahun penjara kepada Baasyir 16 Juni 2011. 

Dengan latar belakang Islam garis konservatif bahkan menurut media mainstream 
bisa dikategorikan radikal, Ustadz Mudzakir menyempatkan datang pada acara aksi 
solidaritas pada Rocky Gerung, seorang non muslim yang  dituding sebagai 
penista agama. 

Sebelumnya, Dosen Universitas Indonesia, Rocky Gerung dilaporkan ke Polda Metro 
Jaya terkait pernyataannya di stasiun televisi swasta yakni 'kitab suci itu 
fiksi'. Rocky mengatakan siap memberikan klarifikasi jika dipanggil oleh pihak 
kepolisian. 

Sejauh ini Majelis Ulama Indonesia belum memberikan sikap terkait apa yang 
disampaikan Rocky Gerung di televisi swasta berapa hari lalu. 

Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid mengatakan perlu 
mendalami dan mempelajari terkait makna dari kalimat tersebut.  Apalagi Rocky 
Gerung juga tak sebutkan jenis kitab suci yang dimaksud. Natalius Pigai dalam 
aksi solidaritas tadi malam juga menegaskan kembali bahwa apa yang disampaikan 
Rocky Gerung tidak menyebutkan jenis kitab suci yang dimaksud. Sementara 
sebagian pihak memaksa bahwa kitab suci yang dimaksud termasuk Alquran sehingga 
nasibnya pun harus di-Ahok-kan. 

Belum lama ini, Persekutuan Gereja-gereja Indonesia (PGI) memberikan tanggapan 
terkait pernyataan dosen Universitas Indonesia Rocky Gerung soal 'kitab suci 
itu fiksi'. Kepala Humas PGI Jeirry Sumampow mengatakan tidak ada unsur 
penistaan dari pernyataan yang dilontarkan Rocky. Sementara itu, Direktur Riset 
Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra Jakarta mengajak untuk menilai fair 
pernyataan Rocky  Gerung. 

"Orang sah-sah saja membuat definisi baru untuk sesuatu. Dan saya kira, 
definisi Gerung untuk fiksi itu agak unik. Selanjutnya, perlu kita amati 
pernyataannya sejauh definisi yang dia maksud, bukan berdasarkan definisi di 
tempat lain," tegasnya.

"Kadang-kadang definisi dari sesuatu bisa dibantu dengan antonimnya. Kebetulan 
kita dibantu dengan uraian Rocky Gerung. Di ILC saat itu, dia membuat hanya dua 
pilihan untuk publik, ‘Apakah kitab suci itu fiksi atau fakta?’ Ini menunjukkan 
oposisi fiksi itu adalah fakta," ujar Ammar.

Ammar sependapat dengan cara Rocky Gerung membuat definisi untuk memperjelas 
makna fiksi dengan mengoposisikannya dengan fakta.

Menurutnya, definisi fiksi yang dihubungkan dengan kitab suci, dalam pandangan 
Rocky Gerung, bukan definisi esensial, namun definisi fungsional. 

Maksudnya, kata Ammar, sekalipun fiksi itu secara esensial tidak berbasis 
fakta, tapi berfungsi sebagai energi untuk mengaktifkan imajinasi dalam rangka 
mengarah pada satu tujuan atau telos.

Dalam mendudukkan kitab suci, Ammar mempertanyakan kitab suci yang disebutkan 
Rocky Gerung itu. Pasalnya, kitab suci di satu agama tidak sama dengan di agama 
lain.

"Ini kitab suci yang mana? Di agama yang mana? Tidak semua kitab suci itu 
sama," ujar Ammar

"Kaitannya dengan Islam, apakah dengan demikian, kalau kita katakan kitab suci 
itu fiksi, maka seluruh ayat dan seluruh unit ajaran dalam salah satu kitab 
suci, yakni Alquran, itu fiksi?! Ini yang barangkali jadi keberatan umat 
Islam," ujar Ammar.

Namun menurut Ammar, bisa dibenarkan jika ada hal-hal dalam Alquran berisi 
fiksi dalam pengertian Gerung, yakni tidak ada fakta konkretnya sekarang secara 
aktual, tetapi itu bukan berarti tidak ada sama sekali secara potensial sebagai 
telos, tujuan yang diharapkan akan terjadi fakta dan realisasinya melalui 
narasi kitab suci ini, seperti prinsip kehidupan setelah kematian, hari 
keadilan, dan peristiwa kiamat.[***] 


Alireza Alatas
pembela ulama dan NKRI/aktivisi Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (Silabna)







Kirim email ke