"Saja ada satoe botjah Budha, maka itoe ada mendjadi satoe alesan mengapa saja 
kini tiada memakan barang berdjiwa," tulis Kartini. 

 ,,,
 Sabtu 21 April 2018, 07:22 WIB
 Memahami Kartini Alasan Kartini Mengaku Anak Budha dan Jadi Vegetarian 
https://news.detik.com/berita/d-3982823/alasan-kartini-mengaku-anak-budha-dan-jadi-vegetarian
 
 Aryo Bhawono - detikNews
 

 
Alasan Kartini Mengaku Anak Budha dan Jadi VegetarianMemahami Kartini 
(Ilustrasi: Kiagoos Auliansyah)
 

 Jakarta -
 Raden Ajeng Kartini mengaku sebagai anak Budha setelah minum abu hio dari 
Kelenteng Hian Thian Siang Tee, Welahan, Jepara, Jawa Tengah. Air abu hio itu 
menyembuhkan Kartini dari sakit demam.
 Pengakuan sebagai anak Budha ini dimuat dalam kumpulan Surat Kartini 
tertanggal 27 Oktober 1902 kepada Rosa Abendanon-Mandri. Kartini menuliskan 
kalimat dalam surat itu dengan tulus. Ia adalah seorang Budha dan pantang makan 
daging.
 "Saja ada satoe botjah Budha, maka itoe ada mendjadi satoe alesan mengapa saja 
kini tiada memakan barang berdjiwa," tulis Kartini. 


 Baca juga: Nyekar ke Rembang, Puti: Cara Pikir Kartini Out of The Box 
https://news.detik.com/read/2018/04/20/195243/3982488/475/nyekar-ke-rembang-puti-cara-pikir-kartini-out-of-the-box
 
 Ia-pun bercerita mengenai awal kepercayaannya ini. Semasa kecil Kartini 
menderita demam, seorang Tionghoa hukuman menawarkan bantuan pengobatan. 
Pengobatan dokter yang didatangkan ayahnya, Bupati Jepara Raden Mas Adipati 
Ario Sosroningrat, tak manjur.
 Orang Tionghoa itu-pun menawarkan obat berupa air yang diberi abu hio dari 
Kelenteng Hian Thian Siang Tee, atau dikenal dengan Kelenteng Welahan. Hasilnya 
mujarab, obat tabib itu justru menyembuhkan Kartini yang masih belia. "Lantaran 
minoem obat itoe saja djadi anaknja orang soetjie itoe, Santikkong Welahan," 
terang Kartini.
 Kartini-pun mengunjungi Kelenteng itu setahun kemudian untuk bertemu dengan 
orang suci penyembuhnya yang sering diziarahi orang-orang di kelenteng itu. 
Orang Soetji itu digambarkan dalam patung emas kecil yang selalu dipenuhi oleh 
asap hio. Setiap kali ada yang sakit, ia selalu dibawa berkeliling untuk 
mengusir roh jahat. 


 Baca juga: Hari Kartini, Pentingnya Kesehatan Pekerja Perempuan Demi Keluarga 
Sehat 
https://health.detik.com/read/2018/04/21/070657/3982819/763/hari-kartini-pentingnya-kesehatan-pekerja-perempuan-demi-keluarga-sehat
 
 Benny G. Setiono menuliskan dalam buku Tionghoa Dalam Pusaran Politik, orang 
Soetji yang dimaksud adalah Hian Thiang Siang Tee atau Siang Teekong dan lebih 
sering disebut sebagai Kongco Welahan. Sosok ini disebut Budha tetapi bukan 
Budha Gautama, dan menjadi tokoh di daerah Welahan.
 "Tetapi pada umumnya segala toapekong itu berasal dari Tionghoa yang pada masa 
hidupnya menganut agama Budha atau juga agama Tao," jelasnya.
 Sejarawan JJ Rizal menyebutkan surat Kartini ini menunjukkan keterbukaan 
pemikirannya mengenai agama-agama yang ada di sekitarnya. Kartini tidak 
membatasi dirinya sebagai seorang keluarga Islam ningrat tetapi menerima 
kepercayaan yang ada di sekitarnya.
 "Ia seorang muslim, terkesan dengan Budha, dan bergaul dengan orang Kristen, 
makanya pemikirannya terbiasa dengan perbedaan dan terbuka," ujarnya saat 
ditemui detik.com https://detik.com/, Jumat malam (20/4/2018).
 Lebih lanjut dalam surat tertanggal 27 Oktober 1902 itu Kartini menjelaskan 
sikap vegetarian ini dimulai bermula saat ia berumur 14-15 tahun. Namun Kartini 
tak memiliki keberanian mengumumkan sikap ini hingga beberapa lama sebelum 
menulis surat ia memberitahu ibunya dan ditanggapi dengan gembira. 


 
 
 Baca juga: Memparadekan Pikiran Kartini 
https://news.detik.com/read/2018/04/20/164716/3982202/103/memparadekan-pikiran-kartini
 
 Humas Indonesia Vegetarian Indonesia (IVS), Karim Taslim, menyebutkan sikap 
vegetarian inilah yang juga membentuk kepribadian Kartini dengan kasih. Tak ada 
jejak siksaan kepada hewan di piring makannya. Kartini-pun kian peka terhadap 
lingkungan sekitarnya.
 "Vegetarian itu doa tanpa fakta kepada Yang Maha Tinggi," ucap Karim 
membacakan isi penggalan surat Kartini.
 Menurut Taslim, rasa iba inilah yang menuntun Kartini dalam menyikapi 
kesenjangan dengan masyarakat sekitarnya. Bahkan dalam surat yang sama, ia juga 
menolak untuk dicium kakinya oleh rakyat biasa.
 
(ayo/jat)
 
 
 

Kirim email ke