https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?
_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768
Jumat 20 April 2018, 17:29 WIB
Kolom Kalis
Memparadekan Pikiran Kartini
Kalis Mardiasih - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
Kalis Mardiasih
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
2 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
Memparadekan Pikiran Kartini Kalis Mardiasih (Ilustrasi: Kiagoos
Auliansyah/detikcom)
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
<https://news.detik.com/kolom/d-3982202/memparadekan-pikiran-kartini?_ga=2.36211232.1209045386.1524421769-749915692.1524421768#>
*Jakarta* - Penelitian-penelitian terbaru mengenai Kartini mengungkap
bahwa sosok perempuan yang menghidupkan semangat perlawanan awal abad
ke-20 ini tidak sekadar kanonisasi narasi yang menempatkan sosoknya
sebagai simbol perlawanan pada budaya feodal dan patriarki. Banyak
surat-surat Kartini yang tidak terangkum dalam /Door Duisternis tot
Licht/ yang mendorong terbitnya karya lain berjudul /Kartini: The
Complete Writings 1898-1904/ pada 2014. Rumah Kartini, sebuah komunitas
sosial yang meneliti arsip sejarah dan seni di Jepara, terus menelusuri
surat-surat Kartini kepada Rosa Abendanon yang hilang.Terungkap, Kartini
adalah seorang pemikir kemanusiaan, pendidik, seniman, pengusaha,
penggerak dan makelar kriya Jawa ke pasar Eropa sekaligus diplomator ulung.
Sementara itu, di tempat mangkal tukang sayur keliling, serombongan
ibu-ibu saling bertukar informasi harga sewa kebaya termurah. Seorang
ibu mengeluh karena tiga anaknya adalah perempuan seluruhnya, yang itu
artinya, selain harus menyewa tiga kebaya untuk perayaan hari Kartini di
sekolah, ia juga harus membayar biaya berdandan di salon untuk sejumlah
tiga anak. Seorang ibu lain bersyukur karena anaknya laki-laki. Anak
laki-laki tidak perlu berdandan dengan menggunakan kosmetik di salon,
bahkan banyak yang tidak menyewa pakaian adat sebab penampilan bocah
laki-laki bisa diakali cukup dengan baju koko, sarung dan peci.
Setelah dua dekade, perayaan Kartinian dengan berdandan mengenakan
kostum adat ternyata belum berubah. Momentum ini mengesankan bagi saya,
sebab masa kecil dulu, saya pernah tidak berani pergi ke sekolah sebab
Ibu tak cukup mampu untuk menyewa kostum dan mengantar saya ke salon.
Saya datang ke sekolah esok harinya setelah parade berkostum usai. Pada
perayaan Kartini hari selanjutnya, kakak kelas mementaskan drama yang
menarasikan cerita Kartini, Roekmini, dan Kardinah yang cerdas namun
terkungkung adat pingitan keluarga bangsawan Jawa ketika menjelang
remaja. Dari lakon sederhana itu, saya mengingat Kartini bersama dua
saudara perempuannya yang lain sebagai bocah yang memiliki hobi membaca
hingga mampu mendirikan sekolah untuk anak-anak perempuan di pesisir
utara Jawa.
Di /Instagram/ hari ini, pencarian terkait kata kunci Kartini pun
menghasilkan glorifikasi Kartini dalam parade berbusana. Kita akan
menemukan kata kunci lain seperti "kartini day", "kartini masa kini",
"kartinian", dan "baju kartini" yang merujuk pada ratusan ribu gambar
unggahan. Kata kunci itu akan membawa kita pada foto anak-anak sekolah
dari PAUD, TK, dan SD yang berakting penuh gaya, atau foto para pegawai
negeri dan pegawai perkantoran swasta yang juga berdandan anggun
disanggul dan berkebaya warna-warni lengkap dengan kain jariknya.
Kata kunci "lomba kartini" akan membawa kita pada potret anak-anak TK
yang sedang berlomba berjalan di atas panggung bak model, dan lomba
mewarnai wajah Kartini, wajah bulat lugu yang telah sangat kita kenal
itu. Seusai mewarnai, mungkin anak-anak itu akan mulai bertanya siapa
gerangan perempuan berwajah sendu yang baru saja mereka gambari, mengapa
perempuan dengan tampilan masa lalu itu disebut pendekar bangsa dan
pendekar kaumnya untuk merdeka dalam lagu karangan WR Supratman. Wajah
yang menurut Pramoedya Ananta Toer dalam /Panggil Aku Kartini Saja/
adalah wajah separuh jelata dan separuh bangsawan, sebab hidung Kartini
yang tidak mancung, tidak tinggi dan tidak tipis bukanlah warisan khas
Sosroningrat, ayahnya yang bangsawan, tetapi lebih mirip hidung
Ngasirah, ibunya, seorang buruh pabrik gula Mayong Jepara yang diangkat
selir Asisten Wedana.
Kata kunci referensi kebaya akan memperlihatkan akun-akun toko kain yang
menjual kebaya berbagai model. Sejarah kebaya pada abad ke-16 terkait
dengan Islamisasi yang masuk pada akhir kekuasaan Majapahit. Kebaya
mengekspresikan status sosial, model lengan panjang disebut-sebut
menggantikan kemben yang terlalu terbuka pada bagian dada yang menurut
syariat Islam harus ditutup. Kini, kebaya bukan lagi jenis pakaian
tradisional yang hanya layak digunakan oleh keluarga kerajaan atau
perempuan aristokrat keturunan bangsawan. Kebaya telah bebas nilai dan
menjadi bagian dari budaya pop berpakaian yang dikenakan perempuan di
acara kondangan pernikahan, hajat keluarga atau reuni sekolah. Dan
terakhir, kata kunci promo Kartini akan menuntun kita pada brosur-brosur
diskon perawatan kecantikan dan produk pakaian di toko /online/.
Begitulah Kartini dikenang dan diparadekan. Anak-anak mengenangnya lewat
lagu dan cerita tentang pahlawan nasional. Para perempuan bekerja
menganggap diri mereka adalah produk emansipasi dunia modern yang ada
berkat pikiran Kartini. Industri menangkap momen Kartinian tetap sebagai
pasar, layaknya momen peringatan hari apa pun.
Tetapi, tak dipungkiri, mengenang Kartini selamanya adalah membicarakan
adat perempuan serta bagaimana perempuan dibicarakan dalam sebuah zaman.
Meski dikritik dengan tuduhan glorifikasi Jawa-sentris dan etalase bagi
feminisme ala Barat, saya pikir tuduhan itu tak cukup kuat. Batin
Kartini adalah debur ombak kemanusiaan yang ingin menenggelamkan segala
bentuk penindasan. Dalam roman /Gadis Pantai/, novel yang ber-/setting/
awal abad ke-20, sezaman dengan masa Kartini hidup, Pramoedya Ananta
Toer menyajikan sebuah babak dialog antara tokoh Gadis Pantai dan
Mardinah. Mardinah menertawakan Gadis Pantai yang menjadi seorang selir
Bendoro, tetapi wujud identitas aslinya adalah orang kampung, sebangsa
kuli, anak seorang nelayan miskin dan tidak bisa baca tulis.
/"Sahaya bisa baca tulis, Mas Nganten bisa?/" begitu Mardinah meremehkan
Gadis Pantai.
Baca tulis sejak dulu ternyata serupa gengsi. Perkara pekerjaan yang
berhubungan dengan alam seperti meladang dan melaut, dianggap tidak
lebih tinggi derajatnya ketika ada profesi bernama juru tulis yang
faktanya adalah buruh pemerintah kolonial. Hingga hari ini, pendidikan
masih berada pada posisi serupa ironi. Tidak semua yang punya status
sosial dan bergelar dapat mengubah nasib buruk orang lain. Toh, Kartini
tetap percaya pada pendidikan. Pendidikan yang serupa ruh.
Kartini, selamanya jelas bukan tentang busana dan parade. Kartini adalah
kisah perempuan remaja yang berpikir melampaui dinding bangunan yang
mengungkungnya. Pendidikan bagi Kartini adalah pencair kebekuan nalar
agar mampu mengajukan pertanyaan hingga terbentuk kesadaran untuk
mengubah nasib. Manusia-manusia yang mampu menemukan hikmah berpikir
yang tidak sesuai semangat zamannya selalu tercatat sebagai pahlawan.
Kartini menulis, "/Pendidikan ialah mendidik budi dan jiwa, kewajiban
seorang pendidik belumlah selesai jika ia hanya baru mencerdaskan
pikiran saja; bahwa tahu adat dan bahasa serta cerdas pikiran belumlah
lagi jaminan orang hidup susila ada mempunyai budi pekerti../."
*Kalis Mardiasih* /menulis opini dan menerjemah. Aktif sebagai periset
dan tim media kreatif Jaringan Nasional Gusdurian dalam menyampaikan
pesan-pesan toleransi dan kampanye #IndonesiaRumahBersama. Dapat disapa
lewat @mardiasih
/
*(mmu/mmu)
*