Release Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI)

Menyambut Peringatan Hari Buruh Internasional (MayDay) 2018
Merespon sikap pihak Kepolisian dan Kemnaker RI yang berusaha melakukan 
intimidasi dan provokasi kepada buruh agar tidak memperingati Mayday dan 
menggantinya dengan kegiatan lain.Referensi : Rudi HB Daman, Ketua Umum GSBI
No Kontak : 081213172878
Tanggal : 24 April 2018.Hentikan Intimidasi Terhadap Buruh Menjelang Peringatan 
Mayday 2018!Puncak peringatan hari buruh sedunia (Mayday) 2018 tinggal satu 
minggu lagi. Di berbagai wilayah, terlihat kesibukan organisasi-organisasi 
buruh, maupun organisasi massa lainnya melakukan pekerjaan-pekerjaan persiapan 
menuju Mayday. Semua sedang fokus untuk mensukseskan aksi dan kampanye Mayday 
agar lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.Di sisi lain, persiapan yang sama 
juga dilakukan oleh pemerintah beserta jajarannya guna terus memerosotkan makna 
sesungguhnya dari peringatan Mayday 2018. Setelah minggu lalu Kemenaker merilis 
tema Mayday is Fun Day, kali ini giliran pihak kepolisian yang berusaha 
melakukan intimidasi dan provokasi kepada buruh agar tidak memperingati Mayday 
dan menggantinya dengan kegiatan lain. Upaya pelemahan dilakukan melalui 
penyebaran meme, diantaranya bertuliskan; “daripada pusing mikirin UMK, lebih 
baik pikirin bagaimana cara skak mat”, dengan latar belakang permainan olahraga 
catur. Ada juga yang lainnya; “daripada ikut demo, mending ikut mancing”, 
dengan latar belakang orang sedang memancing.Rudi HB Daman, Ketua Umum GSBI 
bereaksi keras atas meme-meme yang disebarkan oleh pihak kepolisian tersebut. 
“Kami berpandangan, pembuatan meme tersebut membuktikan kedangkalan pikiran 
pemerintah atas persoalan kaum buruh di Indonesia. Bagi buruh, mereka hanya 
bisa menjual tenaga dan mendapatkan upah (UMK) untuk keberlangsungan hidup 
keluarganya. Jika pemerintah melarang buruh memikirkan upah, sama artinya 
pemerintah melarang buruh memikirkan hidupnya. Ini semakin membuktikan, bahwa 
sesungguhnya pemerintah memang tidak pernah peduli dengan nasib hidup 
rakyatnya”, jelas Rudi.“GSBI tidak akan pernah menghentikan pelaksanaan 
aksi-aksi demonstrasi, sepanjang masih terdapat persoalan yang dihadapi oleh 
buruh dan rakyat Indonesia, maka organisasi akan terus menyelenggarakan 
demonstrasi. Ini (demo) adalah hak politik rakyat, jadi tidak perlu negara 
melarang-larang rakyatnya untuk menyampaikan aspirasi sejatinya melalui 
demonstrasi”, tambah Rudi.Di dalam akhir pesannya Rudi menjelaskan, “Kami kaum 
buruh tidak usah disuruh-suruh olahraga, kami paham kesehatan itu penting dan 
buruh akan selalu menjaga hal itu. Pemerintah pikirkan saja agar bisa membuat 
kebijakan yang menjamin upah kami cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, buat 
saja kebijakan agar buruh tidak bekerja dengan jam kerja yang panjang, sehingga 
mempunyai waktu yang cukup untuk mengembangkan kebudayaan maju kaum 
buruh”.Terimakasih !




Sambut May Day Aksi Massa Tentang Kebijakan Presiden Jokowi 
Posted on 7:20 pm, April 24, 2018 by 
http://www.beritaekspres.com/author/indrasukma/


MAY DAY – Front Perjuangan Rakyat (FPR) memastikan akan melakukan mobilisasi 
aksi dan kampanye massa untuk memperingati Hari Buruh Sedunia, 1 Mei 2018 (May 
Day). Momentum bersejarah dalam tradisi berjuang klas buruh dan rakyat 
tertindas di seluruh dunia melawan klas penghisap dan penindas.Perjuangan tanpa 
kenal menyerah oleh jutaan klas buruh yang telah memberikan inspirasi tiada 
terkira. Keteguhan sikap, pengorbanan, serta disiplin baja dalam perjuangan 
yang bergelora membuahkan hasil yang dapat dinikmati oleh rakyat di seluruh 
penjuru dunia hingga saat ini. Salah satu kemenangan besar yang diraih adalah 
penetapan jam kerja bagi buruh, 8 jam sehari dan 40 jam seminggu (lima hari 
kerja). Tanggal 1 Mei 2018 juga menjadi momentum istmewa 10 tahun perjuangan 
FPR menentang 3 musuh rakyat, imperialisme, feodalisme, dan kapitalis 
birokrat.FPR mengkoordinasikan mobilisasi dan aksi massa di luar negeri, yakni 
Hong Kong dan 21 Provinsi di Indonesia, DKI Jakarta, Sumatera Utara, Riau, 
Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara 
Timur, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Kalimantan Barat, 
Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, 
Gorontalo, Maluku Utara, dan Papua Barat.Puncak aksi massa akan dilaksanakan 
pada hari Selasa, tanggal 1 Mei 2018 yang berpusat di Istana Negara, Jakarta 
dan secara serentak di tiap Kota/Kabupaten dan luar negeri.   Menjelang 1 Mei 
2018, FPR juga melaksanakan berbagai kegiatan melalui kerjasama dengan berbagai 
organisasi sektoral anggota FPR ataupun jaringan organisasi lainnya. Edukasi 
massa, dialog, seminar, aksi piket, penyebaran selebaran menjadi rangakain 
kegiatan dalam rangka memperkuat semangat dan kesadaran massa luas tentang 
pentingnya perjuangan klas buruh, kaum tani, dan rakyat tertindas lainnya dalam 
momentum May Day 2018. FPR telah menetapkan tema kampanye May Day tahun 2018 
adalah “Galang Persatuan Rakyat, Lawan Kebijakan dan Tindasan Fasis Rezim 
Jokowi-JK Boneka Imperialis Amerika Serikat” Tema ini mendasarkan pada kondisi 
klas buruh, kaum tani, dan rakyat di berbagai sektor lainnya yang terus 
mengalami kemerosotan ekonomi, politik, militer dan kebudayaan akibat dominasi 
dan belenggu Imperialisme dan feodalisme melalui pemerintah yang berkuasa saat 
ini.Imperialisme AS terus melipat gandakan penindasan dan penghisapan terhadap 
rakyat di seluruh negeri demi bertahan hidup dari derita krisis over produksi 
dan kapital yang tak terpulihkan. Rezim Jokowi-JK terus melahirkan kebijakan 
karpet merah, dan jalan mulus bagi kepentingan bisnis kapitalis monopoli 
internasional (imperialis). Paket Kebijakan Ekonomi (PKE) terus digulirkan 
hingga 16 jilid yang menjadi payung seluruh skema neoliberal di Indonesia.PKE 
jilid IV telah melahirkan PP No.78 Tahun 2015 tentang Pengupahan untuk 
memastikan politik upah terus berjalan. Sejak diterapkan, kini upah buruh pada 
setiap tahunnya hanya naik rata-rata 8 persen. Klas buruh dan pekerja lainnya 
mengalami defisit yang semakin tajam karena kenaikan upah tidak sebanding 
dengan kenaikan harga kebutuhan pokok yang sangat tinggi dan cepat.Skema Labour 
Market Flexibility (fleksibilitas pasar tenaga kerja) berupa kontrak jangka 
pendek, outsourching, dan pemagangan terus diperkuat untuk memastikan 
keuntungan super bagi imperialis dan borjuasi besar komparador.Skema ini 
merampas hak klas buruh atas kepastian kerja dan kesejahteraan. Pemagangan 
Nasional meningkatkan keuntungan bagi pengusaha karena mengurangi pengeluaran 
untuk upah buruh (merampas upah). Dengan skema ini, buruh (magang) bekerja 
dengan beban yang sama dengan buruh (tetap), namun hanya diberikan upah (uang 
saku) sekitar 60 – 70 persen dari upah minimum.Rezim Jokowi juga terus 
mengintensifkan perampasan tanah lebih sistematis melalui program Reforma 
Agraria Palsu. Program bagi-bagi sertifikat dan perhutanan sosial sesungguhnya 
melegitimasi perampasan dan monopoli tanah yang semakin luas dan sama sekali 
tidak mengatasi ketimpangan penguasaan tanah.Sebaliknya, semakin menjerat kaum 
tani dalam skema perampasan tanah, dan melahirkan buruh tani ataupun 
pengangguran di perdesaan. Kondisi ini semakin memperburuk krisis di Indonesia. 
Pada momentum May Day tahun ini, gerakan buruh dan rakyat Indonesia juga akan 
dihadapkan dengan kontestasi elektoral; Pilkada Serentak 2018 dan Pemilu 
2019.Kontestasi seperti ini berpotensi menyeret klas buruh dalam politik 
praktis dukung-mendukung calon, ilusi janji perubahan nasib buruh, gesekan 
horizontal di kalangan gerakan buruh, ataupun langkah praktis membangun 
kekuatan alternatif sebagai pembanding bagi politik penguasa saat ini. FPR 
menegaskan bahwa fokus perjuangan politik klas buruh dan rakyat Indonesia saat 
ini adalah mengintensifkan perlawanan terhadap seluruh kebijakan dan tindasan 
fasis yang menyengsarakan klas buruh, dan kaum tani serta rakyat tertindas 
lainnya.Sedangkan tuntutan utamanya adalah menuntut perbaikan upah bagi klas 
buruh, menentang program reforma agraria palsu dan wujudkan reforma agraria 
sejati sebagai dasar  bagi terbangunnya industrialisasi nasional yang kuat dan 
mandiri untuk terciptanya keadilan dan kesejahteraan sejati seluruh rakyat 
Indonesia. Tuntutan ini menjadi dasar bagi persatuan politik perjuangan rakyat 
Indonesia. Peringatan Hari Buruh Internasional adalah momentum perjuangan 
seluruh rakyat tertindas dan terhisap di Indonesia. Oleh karena itu, pada 
peringatan May Day 2018, Front Perjuangan Rakyat (FPR) menyerukan kepada 
seluruh klas buruh dan rakyat Indonesia agar terus memperkuat dan memperluas 
persatun serta mengintensifkan perlawanan dengan gegap gempita melancarkan 
aksi-aksi dan mobilisasi massa seluas-luasnya menentang semua kebijakan yang 
menindas dan menghisap serta menyengsarakan rakyat secara ekonomi, politik dan 
kebudayaan. (***)Jakarta 23 April 2018 Front Perjuangan Rakyat (FPR) Rudi HB. 
Daman Koordinator Umum

Kirim email ke