Ini adalah pandangan orang yang "diatas" alias elit... Yang ngundang dia ke 
desa juga sang Menteri... Sepertinya dia sama sekali tidak tahu tentang 
perampasan tanah pertanian rakyat... Dan tanah yang dirampas itu adalah tanah 
subur, seperti tanah yang sekarang digenangi air menjadi waduk raksasa 
Jatigede.... Seperti juga tanah kaum tani di Kulon Progo di sekitar Yogyakarta, 
Jateng. Rakyat sudah mengubah tanah pasir menjadi tanah pertanian yang menjadi 
sumber kehidupannya, sekarang dirampas oleh penguasa feodal untuk dijadikan 
proyek yang mendatangkan uang buat sakunya!!! Sungguh kriminal!!!!Bicara soal 
"menyuburkan" tanah yang tandus... Lha tanah yang subur yang sudah dan sedang 
dikerjakan kaum tani sebagai sumber hidupnya malah dirampas untuk dijadikan 
beton-beton pembangunan infrastruktur.... Lahan pertanian di Jawa terus 
dipersempit, padahal tanah di Jawa terkenal subur untuk tanaman padi. 
Pemerintah malah menggunduli hutan Papua untuk tanam padi...dan akhirnya gagal 
karena memang tanah di Papua tidak subur dan tidak cocok untuk tanaman padi.... 
Makanya proyek "lumbung padi" di Merauke tidak kedengaran lagi beritanya... 
Kalau ada yang tahu, tolong dipostingkan beritanya.... 

    On Monday, April 30, 2018 1:33 PM, "kh djie [email protected] [GELORA45]" 
<[email protected]> wrote:
 

     https://ekonomi.kompas.com/ read/2018/04/30/060000426/ 
efek-disrupsi-mungkinkah- kembali-ke-desa-
Rhenald Kasali Guru Besar Manajemen Akademisi dan praktisi bisnis yang juga 
guru besar bidang Ilmu manajemen di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.. 
Sejumlah buku telah dituliskannya antara lain Sembilan Fenomena Bisnis (1997), 
Change! (2005), Recode Your Change DNA (2007).
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Efek Disrupsi, Mungkinkah 
Kembali ke Desa?", https://ekonomi. kompas.com/read/2018/04/30/ 
060000426/efek-disrupsi- mungkinkah-kembali-ke-desa-. 
Efek Disrupsi, Mungkinkah Kembali ke Desa?
By : Rhenald Kasali
Senin, 30 April 2018 | 06:00 WIBSaya baru saja meninggalkan kawasan pedesaan 
yang dipenuhi kebun-kebun anggur yang indah di Tuscany, Italia. Kawasan seperti 
ini tiba-tiba menjadi lapangan kerja baru, menyusul upaya Uni Eropa untuk 
kembali ke desa.
Menyeberang ke Porto, guide saya, calon dokter dari Lisbon bercerita tentang 
mundurnya perekonomian dan lapangan pekerjaan di Portugal. Sambil menarik nafas 
dalam, ia menyampaikan, kekasihnya harus pindah ke Brazil untuk mendapatkan 
pekerjaan.
“Di Portugal..” ujarnya. “Lebih dari 40 persen kaum muda sudah pindah untuk 
bekerja ke luar negeri,” tambahnya. Itu sebabnya, Uni Eropa sudah berkomitmen 
menyalurkan 100 miliar Euro dana desa selama 6 tahun (2014-2020) untuk 
membangun pertanian dan ekologi,
Kembali ke Desa
Tetapi Indonesia lebih serius. Memang bukan karena ancaman disrupsi, tapi 
hampir pasti disruption akan memasuki tahap transisi sehingga ada banyak 
pekerjaan di kota yang hilang. Bila EU hanya fokus pada 118 titik, Indonesia 
membidik 77.000 desa.
Tetapi eforia terhadap kota memang tak dapat dihindari. Sebanyak tiga perempat 
penduduk Asia diketahui akan berpindah ke kota. Dan sebanyak 8 dari 10 kota 
yang berpenduduk diatas 23 juta orang berada di Asia. Dua teratasnya adalah 
Tokyo dan Jakarta.
China memiliki lima belas dari total 46 megacity di dunia sedangkan Amerika 
Serikat hanya 2, yaitu New York dan Los Angeles.
Tetapi kini dunia sepertinya tengah disadarkan untuk kembali ke desa, sebab 
hanya di sanalah ada pangan dan udara segar. Dan Indonesia, dengan dana desa 
dan BUMDES-nya berada di garis depan. Tidak mengherankan bila saat ini sejumlah 
negara sudah disarankan badan-badan dunia melakukan studi banding ke sini.
Walaupun kita sendiri masih merasa banyak yang belum. Masih banyak jalan di 
desa yang belum terhubung meski sudah 121.000 kilometer yang dibangun. Lalu 
82.000 lebih MCK dan 5.000 tambatan perahu.
Indonesia konsisten membangun desa dan membawa kaum muda yang masih produktif 
untuk berkarya di desa.
Berkarya apa? Bisnis online yang kini jadi andalan kaum muda perkotaan itu 
tentu ada batasnya. Ketika internet memotret gaya hidup baru dan mendekatkan 
manusia, maka ribuan produk konsumsi yang kita kenal pun akan menjadi barang 
inferior. Artinya, peningkatan pendapatan justru bisa membuat permintaan 
produk-produk tertentu menjadi barang inferior dan turun.
Artinya terjadi shifting besar-besaran yang berakibat banyak pekerjaan hilang. 
Tak pernah terbayangkan cokelat buatan Mayora bisa menjadi inferior goods 
karena konsumen yang pendapatannya naik malah memilih menabung lebih banyak 
supaya bisa berkunjung ke Umbul Ponggok di Klaten, menjalankan ibadah umroh 
atau melihat tembok raksaksa di Tiongkok.
Bisa dibayangkan bila pekerjaan-pekerjaan yang biasa “menarik” kaum muda itu 
terdisrupsi.
Beruntung di sini, semenjak Undang-Undang Desa disahkan pada (2014), pemerintah 
Indonesia menggenjot pembangunan di desa. Lihat saja, dana desa yang 
didistribusikan sejak 2015 sudah mencapai sekitar Rp 120 triliun. Memang sampai 
tahun lalu dana desa itu sulit dipakai untuk pengentasan kemiskinan karena ada 
ketentuan pengadaan yang melaras swakelola.
Tetapi, saya senang bahwa Ppresiden dan menterinya bekerja cepat. Melalui SKB 4 
menteri, 30 persen dari dana desa itu kini bisa dipakai untuk program padat 
karya tunai. Jadi kini tak perlu lagi menggunakan kontraktor dari luar desa. 
Artinya dana dipakai oleh orang desa dengan tenaga masyarakat desa. Artinya 
perputaran uang akan lebih banyak lagi terjadi di desa.
Peran Offtaker
Beberapa waktu yang lalu saya diundang Eko Putro Sandjojo, Menteri Desa, 
Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi juga untuk melihat desa-desa di 
Sumba Timur.
Dari bandara Halim Perdana Kusuma, saya ditemui oleh CEO PT Muria Sumber Manis, 
Iwan Suhardjo yang menjadi lokomotifnya
Kebetulan Sdr. Iwan pernah menjadi mahasiswa saya. “Dari akuntansi ke marketing 
lalu ke pertanian” ujarnya.
Iwan bukanlah orang pertama yang saya temui dan bisa belajar hal-hal baru. 
Makanya para pendidik perlu melakukan shifting, dari mengajar “what to learn” 
menjadi “how to learn”. Dan itulah yang dari dulu saya lakukan.
“Saya belajar kembali dari nol, dan kami berkesimpulan tanah-tanah tandus di 
Sumba Timur bisa kembali disuburkan.” Iwan mengakui belajar dari Google dan 
Youtube. Ia mengajukan pertanyaan kritis: “Bagaimana mungkin Israel yang 
tanahnya tandus bisa menghasilkan jeruk dan anggur yang manis-manis?”
Setelah melihat topografi dan curah hujan, dipilihlah desa Wanga di Sumba 
Timur. Mulanya mereka membuat 18 buah embung sedalam 6 meter ke bawah dengan 
sistem membran untuk menampung sekitar 200.000 meter kubik air hujan.
Gayung pun bersambut. Menteri Desa mempercepat kemajuan desa dan mengentaskan 
desa tertinggal dengan melibatkan CEO perusahan-perusahaan besar. Bulan lalu, 
sekitar 200 orang CEO menandatangani kesepakatan dengan 102 Bupati di Jakarta.
Tiba-tiba saja banyak CEO terhentak. Jambu klutuk yang diimpor dari India untuk 
bahan baku jus seperti Buavita, ternyata ada di desa Sukorejo Kabupaten Kendal 
(791 hektar). Jadi buat apa harus impor?
Di Sumba Timur, Menteri Desa membagikan tanah negara seluas 10.000 hektar 
kepada rakyat untuk menanam tebu dengan teknologi yang saya sebutkan tadi. 
Masing-masing petani mendapat 3 hektar. Dengan model ini, kalau tak ada aral 
melintang, setiap kepala keluarga bisa mendapatkan penghasilan baru sebesar Rp 
85 juta.
Dengan modal sosial masyarakat yang bagus, PT Muria Sumba Manis (Kelompok usaha 
Djarum), minggu lalu melakukan peletakkan pertama bangunan pabrik gula dengan 
kapasitas 12.000 tcd (ton of cane per day). Artinya, Indonesia bisa segera 
nengurangi impor gula (saat ini 4 juta ton).
Diperkirakan akan ada 3.000-4.000 orang bekerja di pabrik, ribuan lainnya akan 
menjadi petani plasma. Bisa saya bayangkan bagaimana perputaran uang di desa 
Wanga dan desa-desa sekitarnya di Kabupaten Sumba Timur menyusul terbentuknya 
infrastruktur perdesaan yang jauh lebih baik.
Apa yang saya ceritakan ini sesungguhnya masih baru pada tahap awal dari ribuan 
inisiatif pembangunan desa yang mulai berbuah lainnya. Bersiap-siaplah kembali 
ke desa.

  #yiv9571367574 #yiv9571367574 -- #yiv9571367574ygrp-mkp {border:1px solid 
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-mkp #yiv9571367574hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mkp #yiv9571367574ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mkp .yiv9571367574ad 
{padding:0 0;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mkp .yiv9571367574ad p 
{margin:0;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mkp .yiv9571367574ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-sponsor 
#yiv9571367574ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-sponsor #yiv9571367574ygrp-lc #yiv9571367574hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-sponsor #yiv9571367574ygrp-lc .yiv9571367574ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv9571367574 #yiv9571367574actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv9571367574
 #yiv9571367574activity span {font-weight:700;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv9571367574 #yiv9571367574activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv9571367574 #yiv9571367574activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv9571367574 #yiv9571367574activity span 
.yiv9571367574underline {text-decoration:underline;}#yiv9571367574 
.yiv9571367574attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv9571367574 .yiv9571367574attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv9571367574 .yiv9571367574attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv9571367574 .yiv9571367574attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv9571367574 .yiv9571367574attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv9571367574 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv9571367574 .yiv9571367574bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv9571367574 
.yiv9571367574bold a {text-decoration:none;}#yiv9571367574 dd.yiv9571367574last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9571367574 dd.yiv9571367574last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv9571367574 
dd.yiv9571367574last p span.yiv9571367574yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv9571367574 div.yiv9571367574attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv9571367574 div.yiv9571367574attach-table 
{width:400px;}#yiv9571367574 div.yiv9571367574file-title a, #yiv9571367574 
div.yiv9571367574file-title a:active, #yiv9571367574 
div.yiv9571367574file-title a:hover, #yiv9571367574 div.yiv9571367574file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv9571367574 div.yiv9571367574photo-title a, 
#yiv9571367574 div.yiv9571367574photo-title a:active, #yiv9571367574 
div.yiv9571367574photo-title a:hover, #yiv9571367574 
div.yiv9571367574photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv9571367574 
div#yiv9571367574ygrp-mlmsg #yiv9571367574ygrp-msg p a 
span.yiv9571367574yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv9571367574 
.yiv9571367574green {color:#628c2a;}#yiv9571367574 .yiv9571367574MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv9571367574 o {font-size:0;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574photos div {float:left;width:72px;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv9571367574
 #yiv9571367574reco-category {font-size:77%;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574reco-desc {font-size:77%;}#yiv9571367574 .yiv9571367574replbq 
{margin:4px;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-mlmsg select, #yiv9571367574 input, #yiv9571367574 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-mlmsg pre, #yiv9571367574 code {font:115% 
monospace;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-mlmsg #yiv9571367574logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-msg 
p#yiv9571367574attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-reco #yiv9571367574reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-sponsor 
#yiv9571367574ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-sponsor #yiv9571367574ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-sponsor #yiv9571367574ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv9571367574 #yiv9571367574ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv9571367574 
#yiv9571367574ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv9571367574 

   

Kirim email ke