https://tirto.id/20-tahun-reformasi-yang-terjadi-sepanjang-maret-1998-cJCW
<https://tirto.id/q/politik-bpt>
20 Tahun Reformasi: Yang Terjadi
Sepanjang Maret 1998
TVR Kronik Reformasi Maret. tirto.id/Gery
<https://tirto.id/20-tahun-reformasi-yang-terjadi-sepanjang-maret-1998-cJCW>
TVR Kronik Reformasi Maret. tirto.id/Gery
Oleh: Ivan Aulia Ahsan - 30 April 2018
Dibaca Normal 8 menit
/Maret 1998 ditandai pelantikan Soeharto sebagai presiden. Mahasiswa
menyambut dengan demonstrasi yang mulai berakhir bentrok./
tirto.id <https://tirto.id/> - Memasuki Maret 1998, semakin terang
betapa krisis ekonomi berdampak menjadi krisis politik.
Pada 10 Maret 1998, Soeharto resmi ditetapkan sebagai presiden dalam
Sidang Umum MPR untuk masa periode 1998-2003. Ini menjadi yang ketujuh
kalinya Soeharto ditahbiskan sebagai penguasa tertinggi di Republik
Indonesia (pertama kali terjadi pada 1968). Kali ini ia berpasangan
dengan B.J. Habibie sebagai wakil presiden.
Pelantikan Soeharto-Habibie dengan segera disambut rangkaian
demonstrasi, terutama dari mahasiswa. Penolakan terhadap Soeharto tidak
hanya semakin massif, namun juga disampaikan dengan cara-cara yang
verbal. Bentrokan antara demonstran dengan aparat keamanan mulai
bermunculan di bulan Maret ini.
Daya gedor penolakan ini sudah tak bisa disepelekan lagi. Sampai-sampai,
untuk pertama kalinya, ABRI — melalui Wiranto sebagai Pangab — bersedia
melakukan dialog dengan mahasiswa.
Krisis politik tampak pada tuduhan-tuduhan kepada beberapa orang yang
disebut sebagai otak atau master mind rencana kudeta. Arifin Panigoro
dan Amien Rais menjadi salah dua nama yang disebut-sebut merencanakan
kudeta kepada rezim yang sah. Selain problem ekonomi yang semakin
mencekik, Soeharto juga semakin tertekan oleh makin massifnya informasi
tentang penculikan para aktivis.
Berikut peristiwa-peristiwa terpenting sepanjang Maret 1998.
1 Maret 1998
*Selain Habibie, Golkar Tutup Pintu*
Fraksi Karya Pembangunan menutup pintu bagi cawapres selain B.J.
Habibie. Meskipun mereka tetap terbuka bagi masyarakat yang ingin
menyampaikan aspirasi nama lain, hal itu tidak akan mengubah keputusan
fraksi yang sudah final.
/(Kompas, 2 Maret 1998)/
2 Maret 1998
*Cadangan Devisa RI Capai Rekor Terendah*
Cadangan devisa berupa aktiva luar negeri Indonesia kembali mencapai
rekor titik terendah. Posisinya di akhir Februari hanya berjumlah $16,33
miliar. Cadangan devisa ini setara dengan empat bulan impor nonmigas.
Jika dibandingkan posisi 15 Januari 1998 yang sebesar $20,385 miliar
berarti telah terjadi penurunan 4,052 miliar dalam jangka waktu satu
setengah bulan. Pengamat ekonomi Hartojo Wignjowijoto mengatakan,
penurunan itu terjadi lantaran intervensi yang dilakukan BI untuk
menstabilkan rupiah.
/(Republika, 3 Maret 1998)/
3 Maret 1998
*Soeharto Bicara 1,5 Jam dengan Utusan Khusus Clinton*
Utusan Khusus Presiden AS Bill Clinton, Walter Mondale, melakukan
pembicaraan dengan Soeharto selama 1,5 jam. Menurut Mondale, beberapa
waktu terakhir, Soeharto dan Clinton selalu mengadakan kontak secara
teratur dalam rangka membantu Indonesia menyelesaikan kesulitan ekonomi.
Clinton juga disebut sangat prihatin dengan krisis ekonomi yang sedang
dihadapi rakyat Indonesia. Bahkan, secara pribadi Clinton melibatkan
diri dalam masalah ini.
/(Kompas, 4 Maret 1998)/
4 Maret 1998
*PPP Belum Putuskan untuk Menerima LPJ Soeharto*
Fraksi Persatuan Pembangunan (F-PP) menjadi satu-satunya fraksi MPR yang
belum secara eksplisit memutuskan menerima atau menolak laporan
pertanggungjawaban Presiden/Mandataris MPR dalam SU MPR. Sikap F-PP
belum final dan masih akan dibahas dalam rapat-rapat komisi berikutnya.
Sementara juru bicara Fraksi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(F-ABRI) Hari Sabarno menyatakan bersyukur berkat kepemimpinan Soeharto,
bangsa Indonesia bisa lepas dari kemelut 1966 dan dapat menikmati Orde
Baru yang ditandai adanya ciri kehidupan konstitusional yang mantap.
/(Kompas, 5 Maret 1998)/
5 Maret 1998
*Mahasiswa UI Serahkan Pemikiran Reformasi kepada Fraksi ABRI*
Delegasi mahasiswa UI yang terdiri dari 20 orang menyerahkan dokumen
berisi pemikiran mengenai upaya melakukan reformasi politik dan ekonomi
di Indonesia kepada F-ABRI. Dokumen tersebut diterima Letjen. Yunus
Yosfiah selaku Ketua F-ABRI. Di UGM, sejumlah dosen bergabung dengan
belasan ribu mahasiswa yang melakukan aksi keprihatinan. Mereka menuntut
diturunkannya harga-harga dan reformasi politik sesegera mungkin. Aksi
serupa juga dilakukan para mahasiswa di Bandung, Padang, Surabaya, dan
Ujungpandang.
/(Kompas, 6 Maret 1998)/
6 Maret 1998
*Rupiah Tembus 12.000 per Dolar*
Nilai tukar rupiah makin melemah dan sempat menembus angka Rp 12.100 per
dolar AS. Terpuruknya nilai tukar rupiah antara lain dipicu kabar
menyangkut kerugian Bank Exim dalam transaksi valuta asing.
/(Republika, 7 Maret 1998)/
7 Maret 1998
*IMF Tunda Pencairan Dana*
Tanri Abeng, Anggota Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan
menyayangkan sikap IMF yang menunda pelaksanaan rapat pembahasan
pencairan bantuan tahap kedua. Pencairan dana dari IMF tahap kedua
sejumlah $3 miliar hampir dipastikan tidak turun bulan Maret. Sejauh
ini, Indonesia telah menerima $3 miliar dari total $43 miliar dalam apa
yang disebut paket penyelamatan ekonomi guna memulihkan kepercayaan
serta stabilitas pasar dan ekonomi Indonesia.
/(Republika, 8 Maret 1998)/
8 Maret 1998
*Soeharto Bersedia Dicalonkan Lagi*
Presiden Soeharto secara resmi menyatakan kesediannya untuk dipilih
kembali sebagai Presiden Republik Indonesia periode 1998-2003.
Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan lima fraksi MPR (F-ABRI,
F-KP, F-PDI, F-PP, F-UD) dalam pertemuan di kediaman Soeharto.
/(Media Indonesia, 9 Maret 1998)/
9 Maret 1998
*Aksi Keprihatinan Terus Berlanjut di Berbagai Kota*
Aksi keprihatinan dari kelompok mahasiswa terus berlanjut dalam bentuk
mimbar bebas di sejumlah daerah seperti Semarang, Solo, Surabaya,
Denpasar, dan Padang. Mereka menuntut penurunan harga sembako, reformasi
ekonomi, reformasi politik, dan pemerintahan yang bersih. Di
Ujungpandang, sedikitnya 500 mahasiswa dari berbagai kampus berunjukrasa
di kampus IAIN Alauddin menolak sikap AS yang dianggap menekan Indonesia
melalui IMF.
*Program IMF Tetap Jalan*
Pemerintah tetap melangsungkan program IMF yang sudah disepakati sejak
15 Januari 1998. Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Ali Alatas.
Penundaan pencairan dana tahap kedua sebesar $3 miliar oleh IMF dikecam
Soeharto. Menurutnya, program reformasi yang diajukan IMF menjurus
kepada liberalisme.
/(Kompas dan Media Indonesia, 10 Maret 1998)/
10 Maret 1998
*Soeharto Resmi Menjabat Lagi*
H.M. Soeharto resmi ditetapkan sebagai Presiden RI periode 1998-2003
dalam Rapat Paripurna ke-10 MPR RI. Rapat tersebut dipimpin Ketua
MPR/DPR Harmoko dan hanya berlangsung selama 30 menit. Dari seribu
anggota MPR, 923 orang yang menghadiri rapat paripurna sepakat bulat
memilih Soeharto sebagai presiden. Soeharto menjadi calon tunggal yang
diajukan lima fraksi MPR dengan satu alasan: penilaian atas kemampuan
dan pengalaman demi kesinambungan nasional.
Setelah SU MPR, Sekjen Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan
(DPKEK) Widjojo Nitisastro beserta timnya dikabarkan segera berangkat ke
Washington untuk menemui pejabat IMF. Hasil perundingan tersebut akan
dijadikan patokan tentang langkah apa yang akan diambil Indonesia.
/(Republika, 11 Maret 1998)/
11 Maret 1998
*Terpilihnya Soeharto-Habibie Disambut Unjuk Rasa*
Dalam sidang paripurna SU-MPR ke 13, B.J. Habibie mengucapkan sumpah
jabatan sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Soeharto. Mengakhiri SU
MPR, Harmoko selaku Ketua MPR RI mengharapkan presiden, wapres, dan para
menteri Kabinet Pembangunan VII untuk segera mengambil langkah-langkah
mengatasi krisis.
Sementara itu, pekik “Merdeka” dan “Allahu Akbar” mewarnai unjuk rasa di
kampus UGM dengan peserta berjumlah 30 ribu mahasiswa. Mereka
menginginkan dibentuknya pemerintahan yang bersih, bebas dari korupsi,
kolusi, dan nepotisme. Di Surabaya dan Solo, aksi serupa berakhir
bentrok antara petugas dan pengunjukrasa.
/(Republika, 12 Maret 1998)/
12 Maret 1998
*Wiranto Tawarkan Dialog dengan ABRI*
ABRI siap membuka dialog terkait merebaknya aksi keprihatinan mahasiswa
di berbagai daerah. Jenderal TNI Wiranto selaku Panglima ABRI
menyatakan, daripada melakukan aksi unjukrasa, lebih baik para mahasiswa
melakukan dialog dan TNI siap membuka diri dengan para mahasiswa maupun
tokoh pengkritik seperti Amien Rais dan Megawati.
/(Media Indonesia, 13 Maret 1998)/
13 Maret 1998
*Tawaran Dialog dari Wiranto Disambut Baik*
Tawaran Panglima ABRI Jendral Wiranto mendapat banyak dukungan baik dari
berbagai pihak. Amien Rais selaku Ketua Umum PP Muhammadiyah
mengharapkan dialog melibatkan tokoh dari berbagai organisasi baik
kampus maupun LSM. Komandan Korem 163/Wirasatya Kolonel Inf I Made Yasa
menyatakan, unjuk rasa dilakukan mahasiswa karena selama ini ide-ide
mereka tidak tersalurkan.
/(Republika, 14 Maret 1998)/
14 Maret 1998
*PM Jepang Tiba di Indonesia*
PM Jepang Ryutaro Hashimoto tiba di Indonesia dan dijadwalkan melakukan
pembicaraan empat mata dengan Soeharto di Jalan Cendana esok harinya.
Hashimoto berharap dapat membantu Indonesia untuk bisa keluar dari
kesulitan ekonomi.
/(Kompas, 15 Maret 1998)/
15 Maret 1998
*Soeharto dan Hashimoto Sepakat soal Program IMF*
Presiden Soeharto dan PM Jepang Ryutaro Hashimoto sepakat tentang
pelaksanaan reformasi dalam kaitannya dengan penerapan program IMF.
Mereka juga sepakat bahwa Indonesia tetap perlu mengadakan kerjasama
dengan lembaga keuangan internasional dan negara sahabat lainnya.
/(Media Indonesia, 16 Maret 1998)/
16 Maret 1998
*Aksi Keprihatinan Terjadi Lagi*
Setelah sempat berhenti, aksi keprihatinan mahasiswa kembali terjadi di
beberapa kampus seperti Universitas Nasional (Unas) Jakarta, Universitas
Lampung (Unila), Universitas 11 Maret dan Universitas Muhammadiyah
Surakarta. Sejumlah mahasiswa Unas sempat bentrok dengan aparat keamanan
yang melarang mereka keluar dari kampus. Sementara ribuan mahasiswa dan
pelajar di Unila memprotes masalah kenaikan harga dan menuntut reformasi
ekonomi dan politik.
Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Kanezo Muraoki mengatakan,
pemerintahnya siap mengimbau masyarakat internasional untuk membantu
upaya membuka blokade pencairan bantuan Dana Moneter Internasional (IMF)
untuk Indonesia. Hal itu dilakukan menyusul pertemuan antara PM Jepang
dengan Soeharto.
/(Media Indonesia, 17 Maret 1998)/
17 Maret 1998
*Soeharto: Tanpa Bantuan IMF, Reformasi Tetap Jalan*
PM Jepang Ryutaro Hashimoto mengirimkan pesan kepada Australia, Inggris,
Jerman, Singapura, Korea Selatan, dan Amerika Serikat. Hashimoto
mendesak pemimpin enam negara untuk mendukung Indonesia yang tengah
berada dalam krisis keuangan. IMF telah menghentikan pembayaran cicilan
paket bantuan penyelamatan kepada Indonesia dengan alasan Soeharto gagal
mewujudkan reformasi yang telah disepakati.
Sementara itu, Soeharto menegaskan terus melakukan reformasi ekonomi
tanpa atau dengan bantuan IMF dalam sidang Kabinet Pembangunan VI
pertama di Bina Graha. Ia menolak kesan bahwa reformasi dilakukan karena
program IMF. Sebaliknya, Soeharto menuturkan, reformasi adalah kebutuhan
dan tekad bangsa dengan atau tanpa bantuan siapapun.
/(Pikiran Rakyat, 18 Maret 1998)/
18 Maret 1998
*Gas Air Mata Bubarkan Rapat Akbar Mahasiswa*
Gas air mata membubarkan acara rapat akbar keluarga besar Universitas
Muhammadiyah Surakarta (UMS). Rapat akbar yang berlangsung di kampus itu
menuntut reformasi ekonomi dan politik. Menhankam Pangab Jenderal TNI
Wiranto menilai selama aksi mahasiswa bicara masalah yang esensial dalam
rangka memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional, maka
diperbolehkan. Tetapi bila aksi mengarah ke anarkis dan destruktif, maka
tidak ditolerir.
*Pemerintah & IMF Sepakat Reformasi Ekonomi Dikaji Kembali*
Pemerintah Indonesia dan IMF sepakat mengkaji kembali program reformasi
ekonomi Indonesia. Kesepakatan itu melibatkan pembicaraan empat mata
antara Menko Ekuin/Kepala Bappenas Ginandjar Kartasasmita dengan
Direktur Departemen Asia dan Pasifik IMF Hubert Neiss.
/(Media Indonesia dan Pikiran Rakyat, 19 Maret 1998)/
19 Maret 1998
*Habibie: Pembicaraan RI dan IMF Berjalan Baik*
Wakil Presiden BJ Habibie mengisyaratkan bahwa pembicaraan antara IMF
dan pemerintah RI sudah berjalan baik dan kembali pada jalurnya. Habibie
menyampaikan itu kepada para politikus Partai Liberal Demokratik (LDP)
Jepang. Ia juga menyatakan bahwa Indonesia berkeinginan
mengimplementasikan 50 butir reformasi yang tercantum dalam kesepakatan
dengan IMF.
*Rektor Unpad Tak Melarang Mahasiswa Berdemo*
Rektor Unpad Prof. Dr. Maman P. Rukmana meminta para mahasiswa agar
menyampaikan unek-unek terkait masalah bangsa berikut pemecahan
solusinya ke dalam sebuah proposal dan nantinya diberikan kepada
MPR/DPR. Maman juga menegaskan bahwa pimpinan universitas tidak pernah
mengganggu atau melarang aksi demonstrasi sepanjang membawa aspirasi
rakyat dan murni pemikiran mahasiswa.
/(Pikiran Rakyat, 20 Maret 1998)/
20 Maret 1998
*ABRI Mewaspadai Demonstrasi Mahasiswa*
Menteri Pertahanan Keamanan/Pangab Jenderal TNI Wiranto mulai mewaspadai
gejala ketidaksabaran yang ditunjukkan lewat serangkaian aksi
demonstrasi mahasiswa di berbagai daerah. Wiranto membagi menjadi dua
kelompok, yaitu mereka yang memposisikan diri sebagai bagian dari
pemecah persoalan dan mereka yang menjadi bagian dari persoalan.
Kelompok yang terakhir menjadi kewaspadaan ABRI.
/(Media Indonesia, 21 Maret 1998)/
21 Maret 1998
*Arifin Panigoro Dituduh Makar*
Eksponen 66 sekaligus pengusaha minyak Arifin Panigoro dan Meliyono
Suwondo terkena tuduhan berat berbuat makar setelah mereka hadir dalam
diskusi Pusat Pengkaji Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Hotel Radisson
pada 5 Februari 1998. Ini sebagai buntut dari memo Prof. Dr. Sofian
Effendi, Dewan Direktur PPSK, yang menyebut bahwa Amien Rais akan
menggerakkan satu juta massa ke Gedung MPR/DPR Senayan. Peran Arifin
sendiri disebut sebagai wakil dari pengusaha dan elit politik yang
mendukung gerakan itu.
*Pertemuan RI dan IMF Capai Kemajuan*
RI dan IMF capai banyak kemajuan dalam pertemuan hari ketiga antara
Menko Ekuin/Kepala Bappenas Ginandjar Kartasasmita dengan Direktur IMF
untuk Asia Pasifik Hubert Neiss. Mereka setuju menjamin ketersediaan
sembako dengan harga wajar. Juga sepakat bakal memperkuat Badan
Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) guna mengembalikan kepercayaan
masyarakat.
/(Media Indonesia, 22 Maret 1998)/
22 Maret 1998
*Dirjen Dikti: Membawa Nama Kampus untuk Demo Tak Etis*
Dirjen Dikti Bambang Soehendro menyebut, tidak etis bila mahasiswa yang
melakukan aksi keluar kampus masih membawa nama perguruan tinggi. Mereka
harus membawa nama diri sendiri sebagai warga negara. Bambang juga
menekankan sudah ada komitmen antara aparat keamanan dengan Depdikbud
yang mengacu pada SKB Tiga Menteri (Mendagri, Menhankan, Mendikbud)
bahwa semua kegiatan mahasiswa di dalam kampus menjadi tanggung jawab
rektor.
/(Media Indonesia, 23 Maret 1998)/
23 Maret 1998
*Amien Rais Bantah Merancang Kudeta*
Amien Rais sebagai Ketua Pusat Pengkajian Strategis Kebijakan (PPSK)
membantah pertemuan di Hotel Radisson Yogyakarta 5 Februari 1998 sebagai
langkah untuk merancang kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Berkaitan
dengan pertemuan tersebut, beberapa orang sudah diperiksa polisi seperti
Arifin Panigoro dan Dr. Afan Gaffar.
*Mahasiswa Lampung Mempraperadilankan Kapolda*
Tiga mahasiswa Lampung korban “Unila Berdarah” akan mempraperadilkan
Kapolda Lampung atas penangkapan dan penganiayaan yang dilakukan petugas
terhadap mereka. Ibrahim Bastari selaku Ketua Komisi Perlindungan HAM
LBH Bandarlampung menyatakan siap mendampingi para mahasiswa untuk
mempraperadilkan Polda Lampung.
/(Media Indonesia, 24 Maret 1998)/
24 Maret 1998
*Dua Penyusup dalam Demo Mahasiswa Lampung*
Dua penyusup yang masuk ke dalam kampus Unila babak belur dipukuli massa
mahasiswa ketika aksi protes berlangsung di Unila. Mereka mencurigai dua
orang tersebut sebagai intel aparat. Ditemukan kartu identitas kesatuan
intel aparat di salah satu penyusup, sementara satu orang lainnya adalah
seorang salesman dari perusahaan asuransi.
*Indonesia Akan Tiru Cara Meksiko*
Tanri Abeng, anggota Dewan Pemantapan Ketahanan Ekonomi dan Keuangan
(DPKEK), mengatakan bahwa Indonesia akan meniru cara Meksiko dalam upaya
menyelesaikan utang swasta. Saat kriris ekonomi 1980-an, Meksiko
memberikan intensif kepada debitor berupa tenggang waktu bebas cicilan
selama 3-4 tahun. Namun, Meneg Pembinaan BUMN mengatakan tidak akan
melakukan cara Meksiko secara penuh karena ada beberapa aspek yang harus
disesuaikan.
/(Media Indonesia, 25 Maret 1998)/
25 Maret 1998
*Mahasiswa Solo Bentrok dengan Aparat*
Pengunjuk rasa di UNS Solo terlibat bentrok dengan aparat keamanan. Lima
mahasiswa luka-luka, dua diantaranya harus dirawat di rumah sakit.
Sebanyak 39 peserta lain terkena gas air mata. Bentrokan terjadi pukul
13.50 karena kedua pihak tidak mencapai kata sepakat tentang batas
demarkasi wilayah kampus.
*Subsidi Dikurangi Secara Bertahap*
Pemerintah akan mengurangi subsidi secara bertahap. Guna menjamin harga
bahan-bahan kebutuhan terutama bahan pangan, pemerintah mengundang
investor asing untuk pengadaan bahan pangan. Selama ini, menurut
Kabulog, banyak subsidi yang membebani anggaran pemerintah seperti
subsidi bahan bakar, sembako, dan gula pasir.
/(Kompas dan Pikiran Rakyat, 26 Maret 1998)/
26 Maret 1998
*Krisis Moneter Picu PHK*
Menteri Tenaga Kerja Theo L. Sambuaga mengungkapkan, krisis moneter yang
melanda Indonesia dalam sembilan bulan terakhir mengakibatkan 133.459
pekerja mengalami PHK. Jumlah tersebut berasal dari sekitar 676
perusahaan. Angka PHK itu berdasarkan laporan Menaker per 21 Maret 1998.
*Dialog Mahasiswa dengan Soeharto Tidak Memungkinkan*
Menko Polkam Feisal Tanjung menegaskan, keinginan mahasiswa untuk
berdialog secara langsung dengan Soeharto tidak memungkinkan karena
tidak ada aturan yang mengatur tindakan tersebut. Sebaliknya, ABRI
menawarkan dialog dengan melibatkan pejabat yang lengkap baik Tingkat I,
II, maupun pusat.
/(Kompas dan Pikiran Rakyat, 27 Maret 1998)/
27 Maret 1998
*Perwira Tinggi ABRI Bertemu Amien Rais*
Letjen. Susilo Bambang Yudhoyono mengundang Amien Rais untuk bertemu dan
berdialog di Sheraton Mustika Hotel. Termasuk bersama perwira tinggi
ABRI lainnya seperti Mayjen. Zaky Anwar Makarim, Mayjen. Mardiyanto, dan
Kolonel Djoko Santoso. Amien mengatakan bahwa pertemuan tersebut
dilakukan untuk mempererat silaturahim.
/(Jakarta Post 28 Maret 1998)/
28 Maret 1998
*Aktivis SMID Diculik Orang Tak Dikenal*
Aktivis Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) Andi
Arief diculik orang tidak dikenal pada pukul 11.00 WIB di ruko milik
kakaknya di Bandar Lampung. Pihak keluarga menyerahkan masalah tersebut
ke YLBHI.
/(Kompas, 30 Maret 1998)/
29 Maret 1998
*Panglima ABRI akan Temui Perwakilan Mahasiswa*
Panglima ABRI Jenderal Wiranto mengkonfirmasi bahwa ia akan menemui
perwakilan mahasiswa dari 17 kampus. Pertemuan tersebut akan digelar di
Gedung YTKI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.
/(Jakarta Post, 30 Maret 1998)/
30 Maret 1998
*Pemerintah Harus Jelaskan soal Penculikan Aktivis*
Guru besar ilmu hukum Prof. Dr. Dimyati Hartono, Sekretaris Sub Komisi
Pemantauan Pelaksanaan HAM Komnas HAM Clementino dos Reis Amaral, dan
Anggota Komnas HAM Asmara Nababan menyatakan bahwa pemerintah harus
menindaklanjuti dan memberikan penjelasan resmi seputar hilangnya
beberapa aktivis mahasiswa. Peristiwa tersebut mulai mengganggu hak
masyarakat untuk hidup tenteram. Kapuspen ABRI Birgjen. Abdul Wahab
Mokodongan menyatakan, pihaknya tidak mengetahui tentang hilangnya
sejumlah aktivis.
/(Kompas, 31 Maret 1998)/
31 Maret 1998
*Mahasiswa Tolak Dialog dengan Menteri*
Beberapa senat mahasiswa menolak hadir dalam dialog dengan sembilan
menteri yang diprakarsai Eksponen ’66. Mereka juga menolak dialog yang
ditawarkan Panglima ABRI. Para mahasiswa hanya mau berdialog dengan
presiden.
/(Media Indonesia, 1 April 1998)/
Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA
<https://tirto.id/q/sejarah-indonesia-dwA?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Ivan Aulia Ahsan
<https://tirto.id/author/ivanauliaahsan?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Tony Firman
Penulis: Ivan Aulia Ahsan
Editor: Zen RS