https://tirto.id/para-politikus-di-belakang-layar-gerakan-0392019-ganti-presiden039-cJKx
Para Politikus di Belakang Layar
Gerakan '2019 Ganti Presiden'
Warga yang menggunakan kaos "Dia Sibuk Kerja" bertemu orang-orang
berkaos "2019 Ganti Presiden" di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Minggu
(29/4/2018). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Setahun Setelah Rizieq Shihab...
<https://tirto.id/setahun-setelah-rizieq-shihab-meninggalkan-indonesia-cJH9>
Agenda Politik di Balik GNPF Ulama...
<https://tirto.id/agenda-politik-di-balik-gnpf-ulama-alumni-212-cJKe>
Apa Kabar (Kasus) Rizieq Shihab...
<https://tirto.id/apa-kabar--kasus--rizieq-shihab-firza-husein-cJKi>
Para Politikus di Belakang Layar...
<https://tirto.id/para-politikus-di-belakang-layar-gerakan-2019-ganti-presiden-cJKx>
"Kita Beri Dukungan Kepada...
<https://tirto.id/kita-beri-dukungan-kepada-gerindra-pks-pbb-dan-pan-cJKg>
Warga yang menggunakan kaos "Dia Sibuk Kerja" bertemu
orang-orang berkaos "2019 Ganti Presiden" di kawasan
Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/4/2018). ANTARA
FOTO/Aprillio Akbar
Oleh: Mawa Kresna - 2 Mei 2018
Dibaca Normal 3 menit
/Gerakan ini secara politis mendapat dukungan dari partai politik./
tirto.id <https://tirto.id/> - “2019!”
“Ganti presiden!”
“2019!”
“Ganti presiden!”
Yel-yel itu diteriakkan Iwan Firdaus dan teman-temannya di sekitar
Bundaran HI, Jakarta, pada Minggu, 29 April 2018. Iwan, 51 tahun, adalah
orang yang dituakan dalam rombongan pada Car Free Day itu.
Di sebelah Iwan, dua lapak kaos dan topi bertuliskan #2019GantiPresiden
digelar di aspal. Mengambil ruang publik dan menjadi salah satu
rutinitas mingguan warga Ibu Kota melakukan olahraga pagi hingga tengah
hari, mereka sadar bahwa mereka bakal terlihat oleh banyak orang,
berdesakan dengan para pedagang lain yang membuka lapak dadakan.
“Ini lapak kami buat menggalang dana sukarela. Keuntungan jualan kaos,
kami buat kaos lebih banyak lagi,” kata Iwan bersemangat.
Keikutsertaan Iwan dalam kampanye "2019 Ganti Presiden" itu dilatari
"kegelisahannya" menilai kinerja pemerintah presiden Joko Widodo.
Menurutnya, baru kali ini ada presiden yang "memperlakukan umat Islam
dengan tidak adil." Ia mencontohkan sesudah Pilkada DKI Jakarta, muncul
tindakan pemerintah yang dia sebut sebagai "kriminalisasi ulama."
“Situ tahu sendiri situasi sekarang. Beras impor, ulama dikriminalisasi,
keadilan terhadap umat Islam tidak ada. Kami ini, kan, enggak
bodoh-bodoh banget,” katanya.
Baca juga:
* Dua Jalan Para Habib di Tengah Politik Jakarta
<https://tirto.id/dua-jalan-para-habib-di-tengah-politik-jakarta-cBWy>
* Pengalihan Isu Ketimpangan & Kemiskinan di Pilgub Jakarta
<https://tirto.id/pengalihan-isu-ketimpangan-kemiskinan-di-pilgub-jakarta-cncC>
Kehidupan Iwan jauh dari gerakan politik. Tinggal di Jakarta Utara,
sehari-hari Iwan mengurusi bisnis kontainer di pelabuhan. Namun, karena
kegelisahannya itu, ia mengajak beberapa teman dan tetangganya untuk
ikut dalam gerakan "2019 Ganti Presiden".
Gayung bersambut. Ketua rukun warga 04 Tugu Utara, Warsito Rahman tempat
Iwan tinggal setuju dengan ide itu. Mereka lalu mengajak beberapa warga
yang satu ide untuk ikut mengampanyekan gerakan tersebut. Mereka
mengumpulkan uang secara sukarela, membuat kaos, lalu menjualnya di CFD
Bundaran HI.
“Ini murni karena kami khawatir dengan kondisi bangsa. Pilkada Jakarta
ada kegaduhan. Saya rasa sudah pahamlah /ente/,” kata Warsito.
Baca juga: Komnas HAM Sebut Rizieq Bukan Korban Kriminalisasi Ulama
<https://tirto.id/komnas-ham-sebut-rizieq-bukan-korban-kriminalisasi-ulama-cqZj>
Orang di Balik Layar
Ide gerakan "2019 Ganti Presiden" pertama kali dilontarkan oleh Mardani
Ali Sera, Sekjen Partai Keadilan Sejahtera. Menurutnya, ide itu muncul
setelah ia menghadiri acara 'Indonesia Lawyers Club' di tvOne, sebuah
acara temu wicara yang dipandu Karni Ilyas, yang lebih banyak berisi
sensasi ketimbang substansi tapi jadi tontonan warung kopi.
“Setelah melihat banyak pihak dari kubu pemerintah memuji-muji Pak
Jokowi, saya katakan. 'Pak Jokowi bisa dikalahkan.' Landasannya,
elektabilitas dan kinerja yang jauh dari memuaskan. Esoknya
#2019GantiPresiden dibuat dan menyebar,” kata Mardani.
Mardani bukan orang baru dalam gerakan semacam ini. Pada Pilkada DKI
Jakarta 2017, ia dipercaya sebagai Ketua Tim Sukses calon gubernur dan
wakil gubernur Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Kemenangan Anies–Sandiaga
tahun lalu tak lepas dari peran Mardani.
Baca juga:
* Mayoritas Warga Miskin Jakarta Memilih Anies-Sandiaga
<https://tirto.id/mayoritas-warga-miskin-jakarta-memilih-anies-sandiaga-cnce>
* Faktor Agama Menentukan Kemenangan Anies-Sandiaga
<https://tirto.id/faktor-agama-menentukan-kemenangan-anies-sandiaga-cm79>
Esensi gerakan ini, kata Mardani, lebih pada sebagai "/wake up call/"
bagi umat Islam di Indonesia. Ia memperingatkan bahwa Pemilu 2019 "sudah
di depan mata dan saatnya mencari pemimpin yang lebih baik untuk Indonesia."
“Dan adagium '/almost everything rise and fall on leadership/' selalu
berlaku. Hampir segalanya naik dan turun karena kepemimpinan. Apakah
Indonesia akan jadi negara yang bersinar/terbit? Atau menjadi negara
gagal/tenggelam? Ini tergantung siapa presidennya pada 2019,” tulis
Mardani lewat pesan singkat.
Selain Mardani, ada pula nama Eggi Sudjana yang menjadi penggagas
gerakan ini. Ia bergerak menyebarkan ide ke jaringan agar ada kampanye
bersama "2019 Ganti Presiden" di pelbagai daerah.
“Ini muncul begitu saja," ujar Sudjana. "Memang ide awalnya itu dari Pak
Mardani Ali Sera. Saya dan Neno Warisman juga ikut menggagas. Ini sangat
cair. Jadi, kalau ada yang bilang mengklaim koordinator umum, itu tidak
ada. Tidak ada koordinator di gerakan ini,” katanya, Senin terakhir
bulan lalu.
Sudjana menjamin gerakan ini tidak ada kaitan dengan partai atau
dukungan untuk calon presiden selain Jokowi. Sampai saat ini, klaimnya,
mereka bahkan belum memiliki gambaran calon presiden yang akan didukung.
“Kami ini hanya bilang ganti presiden. Siapa yang mengganti, kami belum
tahu,” katanya.
Sudjana juga bukan orang baru dalam gerakan semacam ini. Sebelumnya ia
sudah terlibat dalam gerakan 'Aksi Bela Islam' lewat serangkaian
demonstrasi di panggung Pilkada Jakarta. Ia juga getol membela Rizieq
Shihab dalam kasus dugaan /chat/ berkonten pornografi.
Meski Sudjana mengklaim gerakan ini tidak terkait partai politik, tetapi
tak bisa dimungkiri bahwa penggagasnya adalah kader Partai Keadilan
Sejahtera, yakni Mardani Ali Sera.
Infografik HL #2019GantiPresiden
Persekusi Lagi
Sebagai sebuah gerakan yang cair, "2019 Ganti Presiden" nyaris tak
terkontrol. Bahkan para penggagasnya pun tak memiliki kontrol yang
bersifat organisatoris pada kelompok ini.
Misalnya, saat kampanye "2019 Ganti Presiden" yang diikuti Iwan Firdaus
dan Warsito Rahman di CFD Bundaran HI, ia malah berakhir dengan tindakan
intimidatif kepada simpatisan pendukung Jokowi berkaos #DiaSibukKerja,
yang saat bersamaan menggelar acara di lokasi yang sama.
Salah satu korbannya adalah Susi Ferawati dan anaknya. Semula ibu ini
mengikuti kampanye #DiaSibukKerja dengan berjalan kaki dari Monas ke
Bundaran HI. Sampai di sana ia diolok-olok oleh kelompok berbaju
#2019GantiPresiden.
“Diolok-olok cebong-lah, nasi bungkus-lah, dasar enggak punya duit-lah.
Karena kami pakai kaos tagline #DiaSibukKerja, kami /dikatain/, 'Dasar
lu kerja /mulu/, lu kayak babu'," kata Susi.
Susi melaporkan insiden persekusi itu ke Polda Metro Jaya pada Senin
kemarin, 30 April 2018.
Baca juga:
* Aksi Intimidasi oleh Kelompok Berkaos #2019GantiPresiden di CFD
<https://tirto.id/aksi-intimidasi-oleh-kelompok-berkaos-2019gantipresiden-di-cfd-cJAK>
* Unsur Pidana dalam Aksi Intimidasi di CFD
<https://tirto.id/unsur-pidana-dalam-aksi-intimidasi-di-cfd-cJEu>
* Korban Intimidasi di CFD Stedi Repki Watung Lapor Polisi
<https://tirto.id/korban-intimidasi-di-cfd-stedi-repki-watung-lapor-polisi-cJDZ>
Soal insiden itu, Eggi Sudjana menolak jika gerakan "2019 Ganti
Presiden" harus bertanggung jawab. Ia menyerahkan proses hukum kepada
kepolisian. Sebab, meski sangat cair dan tanpa komando, kataya, sejak
awal gerakan ini menolak menggunakan cara-cara yang tidak patut.
“Kami tidak akan melakukan pembelaan terhadap pelaku kemarin di CFD,”
kata Sudjana.
Persekusi semacam ini sebelumnya juga marak terjadi pada Pilkada DKI
Jakarta. Salah satu korbannya seorang bocah berumur 15 tahun, yang
dianggap menghina Rizieq Shihab. Si bocah bahkan dipukul dan ditampar
oleh segerombolan orang yang menyebut diri "pembela Rizieq."
Berdasarkan catatan Safenet, sebuah organisasi pemantau kebebasan
berpendapat di internet, sepanjang Januari hingga Mei 2017, ada 87
laporan terkait persekusi. Dari jumlah itu, 66 kasus adalah persekusi,
sisanya sebatas dugaan persekusi.
Penyebab persekusi karena perbedaan sikap politik, dan disuburkan oleh
sentimen agama dalam Pilkada DKI Jakarta. Kasus penodaan agama yang
menjerat Basuki 'Ahok' Tjahaja Purnama menjadi titik mula persekusi itu.
Safenet menyebut kasus ini sebagai "The Ahok Effect."
Baca juga: SAFEnet Sebut dalam Seminggu Ada 87 Kasus Aduan Persekusi
<https://tirto.id/safenet-sebut-dalam-seminggu-ada-87-kasus-aduan-persekusi-cqfW>
Meski begitu, persekusi dalam gerakan "2019 Ganti Presiden" belum
berpola, tidak seperti kasus sebelumnya yang selalu dimulai dari media
sosial.
Kali ini sudah lebih nyata. Dua kelompok langsung bertemu, salah satu
menghujat yang lain. Masih kelompok yang sama, yang bertikai pada
Pilkada DKI Jakarta, yang pembelahannya dimulai sejak Pilpres 2014
antara kubu Jokowi dan kubu Prabowo.
Baca juga artikel terkait PILPRES 2019
<https://tirto.id/q/pilpres-2019-c2Z?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
atau tulisan menarik lainnya Mawa Kresna
<https://tirto.id/author/kresna?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Politik)
Reporter: Mawa Kresna
Penulis: Mawa Kresna
Editor: Fahri Salam
Isu gerakan "2019 Ganti Presiden" masih seputar "kriminalisasi ulama"
dan perpanjangan dari Pilkada Jakarta.