Kesaksian 1 Mei 1995: Peringatan May Day Pertama Melawan Soeharto
[image: Ilustrasi: Perayaan 1 Mei 1995 di Semarang dan Jakarta, May Day
pertama di masa rezim Soeharto. Tirto/Hafitz]
Kesaksian 1 Mei 1995: Peringatan...
<https://tirto.id/kesaksian-1-mei-1995-peringatan-may-day-pertama-melawan-soeharto-cJAX>
Mei 1923: Aksi Mogok Buruh Kereta...
<https://tirto.id/mei-1923-aksi-mogok-buruh-kereta-api-yang-bikin-sewot-pemerintah-cJAV>
1950: Perseteruan Buruh Komunis...
<https://tirto.id/1950-perseteruan-buruh-komunis-versus-buruh-muslim-cJAM>
Pabrik tanpa Bos itu Mungkin:...
<https://tirto.id/pabrik-tanpa-bos-itu-mungkin-pengalaman-buruh-istana-magnoliatama-cJBa>
Ilustrasi: Perayaan 1 Mei 1995 di Semarang dan Jakarta, May Day pertama di
masa rezim Soeharto. Tirto/Hafitz
Oleh: Petrus Hariyanto - 30 April 2018
Dibaca Normal 10 menit
*Penuturan orang pertama tentang peringatan Hari Buruh 1 Mei 1995, dan
respons kekerasan aparat Orde Baru, tiga tahun sebelum rezim itu kolaps.*
tirto.id - Hari ini, 23 tahun lalu, aku tiba di Semarang setelah menempuh
perjalanan semalam penuh dari Jakarta menggunakan bus. Aku turun di Tambak
Haji, di daerah Mangkang. Sesuai pesan kawan-kawan, aku dilarang langsung
memasuki Kota Semarang.

Tambak Haji terletak di antara perbatasan Kota Kendal dan Semarang. Daerah
ini konsentrasi pabrik, basis utama pengorganisasian Pusat Perjuangan Buruh
Indonesia (PPBI) cabang Semarang.

Sambil menunggu jemputan kurir, aku mampir di sebuah warung mi instan.
Menyeruput kopi dan mengisap kretek, lamunanku mengembara saat aku masih
beraktivitas di Semarang.

Teringat wajah Irmadi, Boy, Oskar, Supri, Bambang—kawan buruh yang pertama
diorganisir sekitar tahun 1991 di Mangkang. Pertama kali yang mengorganisir
adalah Sugeng Bahagijo dari Keluarga Mahasiswa Universitas Gadjah Mada,
Yogyakarta.

Setelah berdiri Solidaritas Mahasiswa Semarang, hasil pengorganisasian
Sugeng diserahkan ke kawan-kawan Semarang. Ignatius Pranowo alias Wowok
adalah salah satu kader mahasiswa di Solidaritas yang diterjunkan ke basis
buruh. Wowok adalah mahasiswa IKIP PGRI Semarang, pengelola majalah
mahasiswa *Vokal*.

Tak banyak mahasiswa yang mau ditempatkan di basis buruh karena enggan
tercerabut dari kampus. Salah satu syarat menjadi organiser buruh harus
fokus ke basis, harus setop dulu beraktivitas di kampus. Tujuannya
melindungi basis pengorganisasian buruh, yang harus dilakukan secara
tertutup, karena masih tahap awal.

Wowok, pemuda bertubuh kecil berkacamata, mengerjakan tugasnya dengan
tekun. Selain memimpin kolektif buruh Semarang, ia bertugas mengorganisir
buruh pabrik di daerah Ungaran sampai kawasan industri sekitar Pabrik Jamu
Jago.
PPBI berdiri pada 23 Oktober 1994 dalam Kongres Buruh di Bandungan, Jawa
Tengah. Wowok dan para organiser buruh di Semarang menjadi peserta kongres
itu.

Dua bulan sebelumnya, 3 Agustus 1994, Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk
Demokrasi (SMID) terbentuk melalui sebuah kongres yang dihadiri Solidaritas
Mahasiswa Semarang, Solidaritas Mahasiswa Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa
Solo, Solidaritas Mahasiswa Surabaya, Solidaritas Mahasiswa Jakarta,
Solidaritas Mahasiswa Salatiga, dan Solidaritas Mahasiswa Manado.

Aku terpilih menjadi pengurus pusat sebagai ketua departemen pengembangan
organisasi. Kemudian, awal tahun 1995, dalam Dewan Nasional SMID di Solo,
aku terpilih menjadi sekretaris jenderal.

Setelah gerakan buruh di Semarang membesar, PPBI Semarang dan SMID cabang
Semarang mengusulkan Aksi Aliansi Mahasiswa dan Buruh untuk merayakan May
Day (Hari Buruh Internasional). Aksinya bersifat nasional, dengan
menggerakkan seluruh cabang SMID.

Aku mewakili SMID bertemu Dita Indah Sari, Ketua Umum Pusat Perjuangan
Buruh Indonesia. Diputuskanlah aksi 1 Mei di Jakarta, dengan mendatangi
kantor Departemen Tenaga Kerja, serta di Semarang. Isu yang kami angkat, di
antara hal lain, adalah upah minimum nasional Rp7.000 per hari.

Kami berpendapat bahwa perlawanan kaum buruh adalah pondasi yang paling
mungkin untuk diraih dan diorganisir dalam perjuangan demokratik. Jumlah
massa yang semakin besar, kesetiaan perlawanan, dan makna strategisnya bagi
perekonomian kapitalisme Orde Baru, akan membuat kaum buruh mampu menjadi
benteng demokrasi di masa kini dan masa depan. Salah satu kelompok di luar
PPBI yang melakukan perlawanan adalah Serikat Buruh Sejahtera Indonesia
(SBSI). Muchtar Pakpahan, Ketua SBSI, bahkan dipenjara.

Dalam persiapan aksi May Day di Semarang, aku telah membuat surat instruksi
kepada semua cabang untuk melakukan mobilisasi nasional. Anggota SMID
cabang harus dimobilisasi ke Semarang, satu hari menjelang aksi.

Rapat Persiapan Aksi
Aku dijemput seorang kurir dan menuju rumah Radjimo S. Wijono, mahasiswa
jurusan sejarah Universitas Diponegoro, angkatan 1993. Kami langsung ke
lantai dua di sebuah ruangan seluas sekitar 5 x 5 meter persegi.

Di rumah Momok, sapaan Radjimo, sudah ada Bimo Petrus dan Sardiyoko dari
SMID Surabaya. Ada juga kawan-kawan dari SMID Semarang: Aan Rusdianto, Ari
Trismana, Dody Ardiansyah, Fransica Ria Susanti, Nurul Qoiriyah, Rivani
Noer, Sulaiman Akbar, dan Wirayanti. SMID Solo diwakili Prijo Warsono dan
Sindu. SMID Yogyakarta mengutus Afandi, Jayadi, Nezar Patria, dan Samsul
Prihatmo. Garda Sembiring dan Ardian Fadilah mewakili Jakarta. Para
organiser buruh yang datang antara lain Ignatius Pranowo, Hari Sutanta,
Indah Tri Arifah, dan Yahya Gunawan.

Sekitar pukul dua siang, kami mulai rapat. Para organiser buruh di Semarang
melaporkan kondisi massa yang dimobilisasi dan cara membawanya ke kampus
Undip. Dari laporan ke pengurus pusat SMID dan PPBI, pengorganisasian buruh
sudah disiapkan tiga bulan sebelumnya.

Ada dua kawasan industri yang digarap: kawasan Mangkang dan Semarang Barat
(dari pabrik Jamu Jago sampai ke Ungaran). Di Mangkang ada beberapa pabrik:
PT Wira Petra Plastindo, PT Murti Plastindo, PT Surya Indah Garmindo, PT
Kreasi Plastik Utama, dan satu pabrik roti. Organisernya Irmadi, Boy,
Oscar, dibantu Indah Tri Arifah dan Yahya Gunawan.

Di Semarang Barat: PT Queen Ceramic Setiabudi, sebuah pabrik plastik di
seberang Markas Kodam VII/Diponegoro (kini berganti Kodam IV), dan
perkampungan buruh di sekitar Markas Brimob Semarang. Organisernya Ignatius
Pranowo, Rivani Noer, Hari Sutanta, Bambang, dan Jemek.

“Kami kekurangan kurir yang akan mendampingi buruh menuju kampus. Kendala
lain tidak semua buruh memahami tempat *start* awal di Fakultas Sastra
Undip. Agar tak tersesat, sebaiknya ada beberapa titik kumpul yang mudah
dikenali buruh. Mereka akan menunggu di titik tersebut untuk bergabung
dengan barisan massa yang akan melewati mereka,” ujar Ignatius Pranowo
alias Wowok.

Forum rapat menunjuk Ari Trismana bertugas di titik kumpul di Jalan
Airlangga. Aan Rusdianto ditunjuk menjadi kurir di titik Matahari Mall di
Simpang Lima, jantung Kota Semarang.

Aku menjelaskan bahwa aparat akan melakukan kekerasan untuk menghentikan
aksi karena kita berani mengambil tema peringatan hari buruh sedunia. Belum
pernah sekalipun hari buruh sedunia diperingati sejak Soeharto berkuasa.

Rezim Orde Baru mengharamkan peringatan 1 Mei dan selalu berpropaganda
bahwa Hari Buruh 1 Mei "berbau komunis." Gantinya, Presiden Soeharto
menetapkan 20 Februari sebagai Hari Pekerja Nasional sejak 1973, merujuk
pada hari lahir Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), wadah tunggal
bagi organisasi buruh di masa Orde Baru—sebagaimana pemerintah Soeharto
membuat saluran tunggal lain pada banyak organisasi politik dan profesi.

“Selain akan dituduh komunis, aksi reli ini akan mengundang sikap represif
aparat,” ujarku.

Kami memutuskan bahwa Lukman Hakim, pengurus pusat PPBI, dan Aan Rusdianto
harus siap menghadapi hal paling buruk. Bila ada peserta aksi yang
tertangkap, demi perlindungan, mereka harus mengatakan penanggung jawab
utama aksi adalah Sekjen SMID. Kartu identitas harus ditinggal, dan harus
memakai nama palsu.

Perangkat keamanan akan dikoordinasi oleh Sulaiman Akbar, dibantu kurir
dalam dan kurir luar. Yang harus selamat untuk nantinya melanjutkan
kepemimpinan SMID di Jakarta adalah Nurul Qoiriyah (Ketua SMID Semarang)
dan Andi Arief (Ketua SMID Yogyakarta).

Nezar Patria dan Wirayanti bertugas membuat catatan kronologi peristiwa
bila aksi berujung kekerasan, untuk disampaikan ke sejumlah pihak termasuk
ke kantor redaksi media massa. Mereka tidak boleh bergabung dalam barisan
massa.

Fransisca Ria Susanti dan Rivani Noer juga harus di luar barisan massa,
dengan tugas utama membagi rilis kepada awak media.

Peringatan: 1 Mei 1995
Senin pagi, 1 Mei 1995, Fakultas Sastra Universitas Diponegoro terlihat
ramai oleh para mahasiswa. Sudah hampir setahun kampus ini kutinggal ke
Jakarta sejak aku ditunjuk sebagai Sekjen SMID.

“Bung, lebih dari seratus buruh baru saja masuk ke kampus Sastra. Aku dan
Rivani yang membawanya keluar dari pabrik,” ujar Gombloh, panggilan akrab
Hari Sutanta.Teman kuliah satu angkatan pun menceritakan bahwa sejak pagi
tentara sudah berjaga di depan pabrik.

“Rivani berhasil mengeluarkan seratus lebih buruh untuk ikut aksi, walau
diadang dan direpresi militer. Sayangnya, yang diadang dan dicegah untuk
aksi juga banyak,” ujarnya.

Ignatius Pranowo alias Wowok mengatakan sejak pagi para organiser sudah
memobilisasi buruh di pabrik untuk mengikuti aksi hari ini. Beberapa di
antaranya sudah tiba di Jalan Airlangga Timur dan di Jalan Ahmad Yani,
dekat Simpang Lima.

Tepat pukul 10.00, Sardiyoko dari SMID Surabaya sebagai komando lapangan
berseru agar para mahasiswa dan buruh segera merapat dan bersiap diri. Ia
naik ke sebuah panggung dan mulai membakar semangat peserta aksi lewat
pelantang suara.

Di barisan depan terbentang sejumlah spanduk dan poster. Isinya seruan:
Peringatan Hari Buruh Se-dunia. Upah Minimum Nasional 7000 Sekarang Juga!
Bebaskan Buruh Berorganisasi. SPSI No Way. Kami Emoh SPSI. Buruh Terisap,
Rakyat Melarat. Stop Intervensi Militer dalam Kasus Perburuhan. Cabut 5 UU
Politik.

Setelah keluar dari Fakultas Sastra, kami berbelok melewati Universitas
Semarang menuju Jalan Airlangga Timur, yang sudah dipadati puluhan buruh.
Dari sana kami menuju Jalan Ahmad Yani. Tepat di dekat Matahari Mall,
Simpang Lima Semarang, kami pun berhenti dan melakukan orasi. Ratusan buruh
kemudian bergabung.

“Buruh dan mahasiswa harus berjuang bersama. Bila bersatu, semakin mudah
kita merebut demokrasi,” ujarku saat berorasi.

Pelantang suara lalu kuserahkan ke Bimo Petrus dan Lukman Hakim; keduanya
bertugas menjadi dinamisator lapangan.

Dalam skenario aksi, 30 menit dipakai untuk orasi di Simpang Lima. Namun,
tiba-tiba, barisan belakang sudah berteriak-teriak meminta agar kami segera
reli.

Sulaiman Akbar sibuk mengoordinasi perangkat keamanan agar menghalau pihak
di luar peserta aksi, yang berusaha merangsek ke barisan. Barisan massa
sudah dibatasi dengan tali rafia.

Ketika massa bergerak, sepanjang sisi kanan barisan banyak pedagang
bergerobak mengikuti kami. Jalanan lebih sepi dari biasanya. Barisan aksi
tetap berjalan, meski polisi memerintahkan massa agar berhenti melalui
pengeras suara.

Ketika kami memasuki Jalan Pahlawan, terlihat polisi sudah mengadang di
Bundaran Air Mancur—terletak di persimpangan Jalan Pahlawan dan Jalan Imam
Barjo serta Jalan Menteri Supeno.

Ada yang mengendarai motor *trail*, ada yang membawa pentungan. Kapoltabes
Semarang saat itu, Adang Rismanto, dan Komandan Kodim 0733/Semarang saat
itu, Letkol Putu Satra, memimpin anak buahnya untuk menghadang barisan
massa.

Kekerasan
Sulaiman Akbar dan Prijo Warsono bertanya, “Apakah tetap jalan?” Aku jawab:
“Tetap sesuai skenario, walau harus berhadapan dengan aparat.”

Rubaidah, organister tani, dan aku melakukan negosiasi dengan polisi.
Sardiyoko dan para dinamisator aksi menggelar mimbar bebas, tepat di
sebelah Bundaran Air Mancur, sekitar 200 meter dari kantor DPRD Jawa Tengah..


“Sebaiknya kami diberi jalan untuk lewat. Kami hanya mau menyampaikan
aspirasi kepada anggota DPRD I Jateng. Setelah itu kami akan bubar,” ujarku.


Aparat keamanan bersikeras agar kami bubar saat itu. Terdengar suara Letda
Imam Saputra, perwira polisi dari Poltabes Semarang melalui pengeras suara
di mobil patroli, meminta kami segera membubarkan barisan.

Tiba-tiba pedagang bergerobak, yang sejak dari Simpang Lima mengikuti kami,
mendorong massa paling belakang dan merebut beberapa poster. Mereka juga
berusaha menarik massa keluar dari barisan. Suasana menjadi kacau. Kami
terdesak ke trotoar, ke seberang Bundaran Air Mancur.

Sardiyoko berusaha menenangkan massa. Samsul Prihatmo, David Kris, Heru,
dan beberapa mahasiswa lain membuat pagar hidup dengan cara bergandengan
tangan agar massa tetap solid.

Di suatu tempat terdengar raungan motor *trail*. Dua di antaranya
ditabrakkan kepada massa paling depan. Kawan-kawan kami terpental dan roboh
ke jalan beraspal.

Mengabaikan kecaman kami, aparat berseragam dan berpakaian preman merangsek
ke barisan massa. Dengan tongkat, mereka menghajar secara membabibuta;
merebut spanduk dan poster. Terdengar tangisan dan jeritan.

Sardiyoko, yang berusaha menenangkan massa, dipukul hingga roboh kemudian
ditangkap.

Bagian belakang kepala Anom Astika, ketua departemen agitasi dan propaganda
SMID, terkena pukulan, tapi ia berhasil lolos dari penangkapan polisi.

Fransisca Ria Susanti, yang berada di luar barisan, berteriak histeris
ketika menyaksikan polisi menginjak-injak kepala Ardian Fadilah alias Ardi.
Kamera yang dibawa Ardi jatuh. Lensa lepas dari bodi kamera. Dalam keadaan
pingsan, tubuh Ardi diseret lalu dinaikkan ke truk.

Ari Trismana, mahasiswa bertubuh kerempeng dan berkacamata, menendang motor
*trail* yang mencoba menabrak barisan massa dari sisi trotoar. Tak lama ia
diringkus dan diseret ke truk polisi.

Peristiwa kekerasan itu secepat kilat. Aku menyaksikan sekilas lalu aku
terjatuh dan terkapar di jalan. Seorang aparat mendorong tubuhku. Belum
sempat bangkit, sudah ada dua orang yang memegang kedua tanganku. Ketika
berdiri, sebuah pukulan keras menghantam rahang kiriku. Aku diseret ke
mobil Daihatsu Hijet, lalu diseret ke bagian depan mobil itu. Ternyata di
situ sudah ada Kapoltabe Semarang Adang Rismanto.

“Kalian ini komunis. Kalian memperingati hari kemenangan komunis,”
bentaknya dengan murka.

Aku berkata balik bahwa anak buahnya biadab, bertindak brutal, menabrak
massa seenaknya dengan motor *trail*.

"Kami tidak terima,” ujarku, geram. “Kami akan membawa kasus ini ke Komnas
HAM. Kami juga akan mengampanyekan kekerasan yang kalian lakukan ke dunia
internasional.”

Adang Rismanto, dengan muka marah, meninggalkan aku sendirian di mobil.
Lantas ia memimpin kembali operasi kekerasan yang dilancarkan anak buahnya.

Aku sempat melihat detik-detik terakhir kawan-kawan bertahan. Teriakan dan
tangisan memilukan. Pukulan tongkat bertubi-tubi. Kawan-kawan yang
menyelamatkan nyawa menuju kampus utama Undip.

Aku melihat Nia Damayanti berlari kencang mengejar mobil bak terbuka. Dari
kejauhan, aku melihat Nia bersama David Kris, Heru, dan Icha—semuanya
anggota SMID cabang Surabaya—akhirnya berhasil menumpang mobil itu,
meninggalkan kejaran aparat.

Interogasi
Aku tiba paling awal di Kantor Poltabes Semarang. Kantor ini terletak di
seberang Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi. Dalam perjalanan, aku terus
mengomel. Salah satu polisi berpakaian preman dan berambut gondrong
membentakku.

“Aku bukan polisi yang berurusan dengan aksi mahasiswa. Aku bagian
kriminal. Kalau kamu tidak diam, aku tusuk kamu! Aku tidak ada urusan
dengan politik,” ancamnya.

Sejak awal interogasi, aku berkata bahwa aku yang bertanggungjawab atas
aksi 1 Mei 1995.

“Silakan saya dijadikan tersangka. Lepaskan buruh yang tertangkap,” ujarku
kepada dua polisi yang memeriksaku.

Proses berita acara pemeriksaan berjalan cepat karena aku lancar menjawab.
Beda dari setahun lalu ketika aku tertangkap dan harus memakai nama palsu,
harus berbohong. Kini, setelah Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk
Demokrasi menyatakan diri sebagai organisasi yang terbuka dan
terang-terangan melawan Soeharto, pengurus pusat harus berani pasang badan.

Saat interogasi, aku mendengar kamar sebelah gaduh. Ada suara bentakan saat
Lukman Hakim tak bisa menghafalkan Pancasila. Mungkin penyidik menghajarnya..


Ketika interogasi dihentikan, Nurul Qoiriyah dan Aan Rusdianto serta
pengacara dari Lembaga Bantuan Hukum Semarang datang. Mereka ingin
memastikan kami dalam keadaan baik.

“Kenapa kamu ke sini? Kamu menyalahi keputusan rapat. Kamu harus
bersembunyi. Bila terjadi sesuatu dengan pengurus pusat, kamu yang harus
menggantikan kepemimpinan kami,” ujarku dengan nada marah kepada Nurul.

Nurul menjelaskan, karena tidak ada orang, ia dan Aan terpaksa mendatangi
kami di kantor Poltabes Semarang.

“LBH Semarang hanya mau datang kemari bila ada pengurus SMID Semarang yang
mendampingi mereka,” ujarnya dengan tersenyum.

Setelah Nurul pergi, aku melihat Lukman Hakim berlari menuju parkiran
mobil. Ia segera masuk ke mobil operasional LBH Semarang, langsung keluar
areal kantor kepolisian. Mungkin, saat itu, tak ada polisi yang berjaga di
ruang pemeriksaannya.

Sore hari kami dikumpulkan di aula. Ada 15 orang yang tertangkap. Afandi,
Ardian Fadilah, Ari Trismana, Bimo Petrus, Garda Sembiring, Fanani
(mahasiswa Sastra Undip), Rivani Noer, Sardiyoko, dan beberapa kawan buruh.

“Mengapa kamu bisa tertangkap?” ujarku kepada Rivani.

“Memang seharusnya aku tidak boleh tertangkap. Tetapi Santi (Fransisca Ria
Susanti) menjerit histeris sambil memegang tanganku. Padahal setingnya kita
berdua tidak saling kenal,” ucapnya dengan tawa.

“Tapi tenang, mereka tetap susah mengetahui identitasku. Sepanjang jalan
menuju ke sini, aku berhasil melukai sidik jariku. Walau mereka mengambil
sidik jariku, pasti kabur dan tidak akurat,” ujar Rivani.

Ardian Fadilah bercerita ketika siuman sudah dalam truk. “Karena aku
mengaku wartawan foto dan kebetulan aku membawa kartu nama seorang
fotografer sebuah majalah, kamera yang mereka ambil dikembalikan. Itu
kameranya Santi. Bagaimana aku harus mengatakannya nanti? Kameranya rusak,
dan ketika terjatuh terlihat berantakan.” Muka Ardi terlihat biru, bekas
dihajar aparat.

Ari Trismana, setiba di kantor kepolisian, langsung dimasukkan ke sel
bercampur tahanan kriminal. “Aku sempat diperas untuk beli makan siang.
Untungnya, satu jam berikutnya Bimo Petrus ikut nyusul. Ketakutanku
berkurang. Mungkin karena aku menendang motor *trail*, ya?”

Saat itu kami belum melihat Garda Sembiring. Kata kawan-kawan, Garda
bertengkar dengan penyidik sejak pertanyaan pertama saat interogasi.

[image: Infografik HL Indepth May Day]


Dibebaskan
Sehari kemudian, 2 Mei 1995, kami dibebaskan pada sore hari. Aku menuju
Kampus Undip, tepatnya di Rumah Joglo, pusat kegiatan mahasiswa. Di sanalah
letak markas Resimen Mahasiswa Undip, sekretariat mahasiswa pencinta alam
(Wapeala), dan kantor lembaga pers mahasiswa *Manunggal*.

Di sana sudah ada Aan Rusdianto dan beberapa anggota Forum Komunikasi
Lembaga Kemahasiswaan (FKLK), antara lain Asmono Wikan, Ikwan, dan
Iswardani. Saat kami ditangkap, mereka melakukan advokasi dengan mendatangi
DPRD I, bertemu dengan E. Susilo, Sekretaris Komisi E Bidang Kesra.

Mendadak muncul Nur Hidayat, Ketua Senat Mahasiwa (Sema) Undip. Dengan
suara tinggi, ia memarahi anggota Forum.

“Sema Undip tidak mengakui FKLK. Jangan bawa nama kelembagaan mahasiswa
Undip. Hanya ada Sema Undip sebagai institusi resmi di sini. Sema menolak
kampus dijadikan tempat aksi SMID dan buruh,” kecamnya.

Sikap Sema sudah dapat kami duga. Forum Komunikasi Lembaga Kemahasiswaan
baru terbentuk kemarin karena institusi kampus memang mandul. Itulah
keberhasilan rezim Soeharto menerapkan NKK/BKK (Normalisasi Kehidupan
Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan). Kampus dilarang berpolitik secara
kritis. Lembaga mahasiswa dibatasi hanya untuk menyalurkan minat dan bakat.

Sore itu juga aku baru mendengar ada penangkapan saat peringatan Hari Buruh
Sedunia di Jakarta, yang dipimpin oleh Dita Indah Sari, Ketua Umum Pusat
Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI). Dita dan beberapa aktivis PPBI ditangkap
setelah mendatangi Kantor Departemen Tenaga Kerja.

Sudah ada sekitar 60 buruh PPBI mendatangi Kantor Komisi Nasional Hak Asasi
Manusia. Baharudin Lopa, anggota Komnas HAM (1993-1998), menerima tuntutan
kawan-kawan agar aktivis SMID dan PPBI, baik yang di Jakarta dan Semarang,
segera dibebaskan.

Mereka juga mengadukan telah terjadi pelanggaran HAM dalam aksi di
Semarang. Selain ditangkap, beberapa massa buruh dan mahasiswa terluka
karena ditabrak motor *trail*, dipukul dan dihajar dengan pentungan.
Beberapa di antaranya harus dirawat di Rumah Sakit Roemani Muhammadiyah,
Semarang.

Epilog: Kejatuhan Soeharto
Aksi Buruh 1 Mei 1995 yang dilawan dengan kekerasan oleh aparat menunjukkan
wajah asli Orde Baru. Politik kekerasan menjadi senjata utama pemerintahan
Soeharto mempertahankan kekuasaannya, yang dilandasi pembantaian massal
1965-1966.

Mesin Orde Baru dibikin sangat represif terhadap gerakan buruh. Buruh
dilarang membangun organisasinya sendiri. Hukum melarang pendirian serikat
buruh. Hanya ada satu serikat buruh yang boleh berdiri, yakni Serikat
Pekerja Seluruh Indonesia. Di luar itu, gerakan buruh dibonsai.

Buruh yang berani melawan sistem terpusat mesin Orde Baru akan menghadapi
militer sejak di tingkat pabrik. Aparat militer dan paramiliter tak segan
memenjarakan pimpinan serikat buruh yang dianggap ilegal dan berani
melawan, seperti terjadi pada Muchtar Pakpahan karena mendirikan Serikat
Buruh Sejahtera Indonesia. Bahkan, tentara-tentara Orde Baru telah membunuh
salah satu aktivis buruh perempuan yang pemberani seperti Marsinah pada
1993.

Tahun-tahun berikutnya menjelang kerontokan pemerintahan Soeharto, gerakan
buruh sudah tidak dapat dibendung. Kaum buruh menemukan kawan
sejatinya—gerakan mahasiswa yang progresif. Bersama-sama, kedua elemen ini
saling menumbuhkan kesadaran perlawanan. Bersama-sama, mereka membangun
kemampuan teknik mogok, melancarkan aksi, dan menyusun tuntutan politik
sejati.

Buntutnya adalah tiga tahun kemudian. Disaksikan dan dirayakan oleh lautan
massa di seluruh negeri, Soeharto mengundurkan diri pada 21 Mei 1998.

Baca juga artikel terkait HARI BURUH
<https://tirto.id/q/hari-buruh-c1y?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword>
 atau tulisan menarik lainnya Petrus Hariyanto
<https://tirto.id/author/petrushariyanto?utm_source=internal&utm_medium=topauthor>
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Petrus Hariyanto
Penulis: Petrus Hariyanto
Editor: Fahri Salam

Kirim email ke