https://metro.tempo.co/read/1085447/ketua-perindo-dki-ketua-panitia-sembako-monas-relawan-ok-oce


 Ketua Perindo DKI: Ketua Panitia Sembako Monas


 Relawan Ok Oce

Reporter:


       Irsyan Hasyim (Kontributor)

Editor:


       Jobpie Sugiharto

Kamis, 3 Mei 2018 15:50 WIB
Sandiaga Uno meninjau ruangan kerja OKE OCE di Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 9 Desember 2017. Sesuai instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswesdan di 44 kecamatan se-DKI Jakarta dijadikan tempat pengaduan warga, sehingga warga tidak perlu jauh-jauh lagi menyambangi Balai Kota. TEMPO/ Naufal Dwihimawan Adjiditho <https://statik.tempo.co/data/2017/12/09/id_668608/668608_720.jpg>

Sandiaga Uno meninjau ruangan kerja OKE OCE di Kantor Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, 9 Desember 2017. Sesuai instruksi Gubernur DKI Jakarta Anies Rasyid Baswesdan di 44 kecamatan se-DKI Jakarta dijadikan tempat pengaduan warga, sehingga warga tidak perlu jauh-jauh lagi menyambangi Balai Kota. TEMPO/ Naufal Dwihimawan Adjiditho

*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Identitas penyelenggara acara seni dan bagi-bagi *sembako* <https://metro.tempo.co/read/1085371/temui-sandiaga-uno-panitia-sembako-monas-diantar-ketua-perindo>yang berujung maut di Tugu Monas mulai terkuak.

Menurut Ketua Partai Perindo DKI Jakarta Sahrianta Tarigan, Ketua Panitia Forum Untukmu Indonesia tersebut adalah Dave Santosa, yang juga relawan Program *Ok Oce* <https://metro.tempo.co/read/1075712/rapat-paripurna-dprd-dki-alasan-fraksi-gerindra-ragukan-ok-oce>. Dia menuturkan, selama ini Dave tidak pernah terlibat dalam kegiatan politik melainkan kegiatan seni dan budaya.

“Saya tidak tahu kalau kegiatan politik, tapi (Dave) ikut Program Ok Oce," kata Sahrianta pada saat dihubungi Tempo hari ini, Kamis, 3 Mei 2018.

Program Ok Oce pertama dipromosikan oleh Sandiaga Uno sejak Pilkada DKI 2017. Sekarang, Ok Oce menjadi program Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk pendampingan UKM.

*Simak*: Kata Charles Honoris Soal Uang Tutup Mulut Korban Sembako Monas <https://metro.tempo.co/read/1085431/kata-charles-honoris-soal-uang-tutup-mulut-korban-sembako-monas?TerkiniUtama&campaign=TerkiniUtama_Click_1>

Sahrianta Tarigan yang memfasilitasi pertemuan Wakil Gubernur Sandiaga Uno dengan Dave di Balai Kota pada Senin malam, 1 Mei 2018. “Saya, kan diminta sama Pak Wagub untuk memfasilitasi pertemuan. Itu aja."

Dia memastikan acara FUI di Monas pada Sabtu, 28 April 2018, yang berujung kematian Muhammad Rizki Syahputra, 10 tahun, dan Mahesa Junaedi (12) tidak ada motif politik. Maka Sandiaga ingin meminta klarifikasi dari Dave. Lantas Sahrianta bersama Dave pada Senin malam datang ke Balai Kota untuk menjelaskannya kepada Sandiaga.

Sebelumnya, Sandiaga Uno mengatakan Dave Santosa bersama Sahrianta telah menemuinya pada Senin, 1 Mei 2018 dan menyatakan  kesediaan bertanggungjawab. “Dave ini tokoh, karena ternyata rekam jejaknya cukup bagus di perhelatan-perhelatan sebelumnya sebagai relawan," ujarnya hari ini, Kamis, 3 Mei 2018.

Pemerintah pun tidak akan lepas tangan terhadap insiden pembagian sembako oleh Forum Untukmu Indonesia di *Monas* <https://metro.tempo.co/read/1085208/ini-4-dugaan-kelalaian-panitia-sembako-monas-yang-berujung-maut>. Menurut Sandiaga Uno, Pemerintah DKI Jakarta ikut bertanggungjawab terhadap kematian Rizki dan Mahesa akibat berdesak-desakan dan dehidrasi dalam pembagian sembako.


==============


https://metro.tempo.co/read/1085469/ada-4-hal-janggal-dalam-pembagian-sembako-monas?

PilihanUtama&campaign=PilihanUtama_Click_5


 Ada 4 Hal Janggal dalam Pembagian Sembako


 Monas

Reporter:


       Fajar Pebrianto

Editor:


       Untung Widyanto

Kamis, 3 Mei 2018 16:49 WIB
0 komentar <https://metro.tempo.co/read/1085469/ada-4-hal-janggal-dalam-pembagian-sembako-monas?PilihanUtama&campaign=PilihanUtama_Click_5#comments>
00022
#

#


#



#




Pembagian sembako oleh Forum Untukmu Indonesia di Monumen Nasional atau Monas, Sabtu, 28 April 2018. Foto: TMC Polda Metro Jaya <https://statik.tempo.co/data/2018/05/01/id_702062/702062_720.jpg>

Pembagian sembako oleh Forum Untukmu Indonesia di Monumen Nasional atau Monas, Sabtu, 28 April 2018. Foto: TMC Polda Metro Jaya

*TEMPO.CO, Jakarta —* Kepala Bidang Kesejahteraan Masyarakat Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK) Pademangan, Jakarta Utara, Robi, menilai ada sejumlah keanehan dalam acara bagi-bagi sembako di lapangan Monas <https://nasional.tempo.co/read/1085006/insiden-monas-charles-honoris-laporkan-muchlisthassan-ke-polisi> yang menyebabkan dua anak tewas.

Pertama, saat peserta acara dari Pademangan berkumpul sebelum berangkat ke Monas pada Sabtu pagi, 28 April 2018.

Baca: Korban Sembako Monas Mengaku Diberi Uang Tutup Mulut <https://metro.tempo.co/read/1085203/korban-sembako-monas-mengaku-diberi-uang-tutup-mulut>

Ratusan peserta dikumpulkan di ruko Permata Ancol, Jalan RE Martadinata, Pademangan Barat, Jakarta Utara.

"Tapi polisi dan Satpol PP ga ada satupun, Binmas juga diam saja," kata Robi saat ditemui di Gedung Bareskim Mabes Polri, Gambir, Jakarta Pusat pada Rabu 2 Mei 2018. Ia hadir mendampingi Komariyah, ibunda dari Rizki, anak 10 tahun yang meninggal dalam acara tersebut.

Kedua, pada setiap keramaian di lokasi itu biasanya selalu dalam pengawasan polisi. Ia juga mengaku sering mengumpulkan Jakmania, fans klub bola Persija, untuk menonton pertandingan bola.

Biasanya, polisi selalu datang mengawasi dan menanyakan kepada rombongan tersebut. "Jadi kayaknya ada pembiaran," kata Robi.

Baca: Kronologi Bocah Meninggal Setelah ikut Pembagian Sembako di Monas <https://metro.tempo.co/read/1084866/kronologi-bocah-meninggal-setelah-ikut-pembagian-sembako-di-monas>

Acara hiburan dan pembagian sembako ini diadakan oleh panitia Forum Untukmu Indonesia di Monas pada Sabtu, 28 April 2018. Karena ramainya peserta yang mengantre untuk mendapatkan sembako dan makanan gratis, dua orang anak meninggal. Yakni Rizki dan Mahesa Junaedi, 12 tahun.

Keanehan ketiga disampaikan Sri Aisyah, teman dari guru mengaji Mahesa. Wanita yang tinggal di daerah Priok, Jakarta Utara itu juga menyaksikan langsung warga di tempat tinggalnya bergerombolan hadir ke Monas.

"Bus untuk pergi ditanggung panitia, tapi pulangnya enggak," kata Sri di Gedung Bareskrim.

Sri hadir di gedung Bareskrim menemani Komariyah untuk melaporkan panitia ke polisi. Ia mengaku berinisiatif sendiri untuk mendampingi karena tergerak hatinya sebagai sesama muslim.

Ia juga kenal dengan ketua RW tempat tinggal Rizki dan Mahesa. Kedua bocah itu memang tinggal berdekatan.

Simak: Anak Tewas di Pembagian Sembako Monas, Ibu Korban Datangi Bareskrim <https://metro.tempo.co/read/1085072/anak-tewas-di-pembagian-sembako-monas-ibu-korban-datangi-bareskrim>

Keanehan keempat, kata Sri yang ikut hadir di Monas. Dia hadir bukan untuk mengantre sembako gratis, tapi mengajak beberapa tetangganya yang ikut untuk segera pulang.

"Acaranya kacau, saya miris, untuk nasi yang dibagikan saja cuma nasi dan dua nugget," kata dia mengingat kembali kejadian di Monas <https://metro.tempo.co/read/1084847/dua-anak-tewas-di-monas-kpai-bakal-panggil-panitia-penyelenggara> hari Sabtu tersebut.






Kirim email ke