---------- Pesan terusan ----------
Dari: Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] <
[email protected]>
Tanggal: 4 Mei 2018 01.40




Berita dalam bahasa Indonesia <http://www.abc.net.au/news/indonesian/>


Peneliti Australia Buktikan Keterlibatan Militer dalam Pembunuhan Massal
1965

   -  Share on Facebook
   
<http://www.facebook.com/sharer.php?u=http%3A%2F%2Fwww.abc.net.au%2Findonesian%2F2018-04-19%2Fpeneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh%2F9675626&t=Peneliti%20Australia%20Buktikan%20Keterlibatan%20Militer%20dalam%20Pembunuhan%20Massal%201965>
   -  Share on Twitter
   
<http://twitter.com/intent/tweet?text=Peneliti%20Australia%20Buktikan%20Keterlibatan%20Militer%20dalam%20Pembunuhan%20Massal%201965%20http%3A%2F%2Fwww.abc.net.au%2Findonesian%2F2018-04-19%2Fpeneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh%2F9675626>
   - Print
   - Mail
   
<?subject=Peneliti%20Australia%20Buktikan%20Keterlibatan%20Militer%20dalam%20Pembunuhan%20Massal%201965&body=http%3A%2F%2Fwww.abc.net.au%2Findonesian%2F2018-04-19%2Fpeneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh%2F9675626>
   - Other share options

Oleh Farid M. Ibrahim
Updated 19 April 2018 at 6:08 am
First posted 19 April 2018 at 5:58 am
[image: jess melvin.jpg]
<http://www.abc.net.au/indonesian/2018-04-19/peneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh/9675626#lightbox-content-lightbox-8>Peneliti
Australia Dr Jess Melvin.
<http://www.abc.net.au/indonesian/2018-04-19/peneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh/9675626#lightbox-content-lightbox-8>

((Foto: Istimewa))

Peneliti Australia Dr Jess Melvin berpendapat pembunuhan massal 1965-1966
di Indonesia bukanlah hasil aksi spontan rakyat yang marah terhadap PKI.
Narasi resmi versi Pemerintah RI seperti itu justru didukung oleh
pemerintah negara-negara Barat waktu itu, termasuk Australia.

Dr Jess Melvin meneliti pembunuhan orang yang dituduh anggota dan
simpatisan PKI di Aceh hampir 10 tahun, dan menyelesaikan PhD-nya di
Melbourne University pada tahun 2015.

Hasil penelitiannya diterbitkan menjadi buku berjudul *"The Army and the
Indonesian Genocide: Mechanics of Mass Murder"* yang diluncurkan di Centre
for Indonesian Law, Islam and Society, Rabu (18/4/2018) malam, seperti
dilaporkan wartawan ABC Australia Farid M. Ibrahim.

Berbeda dengan peneliti lainnya dengan topik pembunuhan massal 1965, Dr
Melvin berhasil menemukan hampir 3000 halaman arsip militer di Aceh.

Peneliti yang kini menjadi Postdoctoral Fellow di Sydney University
menjelaskan, pembunuhan massal tersebut dilakukan tersentralisasi secara
nasional oleh pihak militer yang waktu itu di bawah kendali Soeharto.

"Suharto mengendalikan semua komando militer yang menjalankan aksi yang
mereka sebut penumpasan PKI, yang dituduh sebagai dalang Gerakan 30
September," katanya.

Dr Melvin menguraikan Suharto saat itu memimpin Kostrad dan menjadi Wakil
Panglima KOTI. Setelah mengambil-alih pimpinan Angkatan Darat, otomatis
Suharto juga membawahi Kodam-Kodam dan RPKAD (kini Kopassus) yang waktu itu
dipimpin Sarwo Edhi Wibowo.

Dalam pemaparannya, Dr Melvin menjelaskan aksi penumpasan PKI tersebut
dilakukan oleh Kostrad di Jakarta, RPKAD di Jateng, Jatim dan kemudian
Bali, KOTI di Kalimantan serta Kodam dan KOTI di Sumatera.
[image: KOTI.jpg]
<http://www.abc.net.au/indonesian/2018-04-19/peneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh/9675626#lightbox-content-lightbox-13>Skema
penumpasan PKI oleh berbagai komando militer yang dikendalikan Suharto
seperti diuraikan Dr Jess Melvin.
<http://www.abc.net.au/indonesian/2018-04-19/peneliti-australia-buktikan-keterlibatan-militer-dalam-pembunuh/9675626#lightbox-content-lightbox-13>

((Foto: ABC Australia/Farid M. Ibrahim))

Penelitian Dr Melvin menganalisa arsip militer yang di antaranya berisikan
uraian pembunuhan secara terperinci. Inilah yang membedakannya dengan
seluruh penelitian 1965 terdahulu
*Rantai komando*

Arsip tersebut di antaranya menunjukkan rantai komando dari Suharto kepada
pimpinan militer di Sumatra Jenderal Mokoginta sampai ke pimpinan militer
di Aceh.

Rantai komando itu kemudian diteruskan ke tingkat kabupaten dan seterusnya
ke bawah.

Arsip yang ditelitinya di antaranya menunjukkan adanya rapat-rapat untuk
melakukan aksi penumpasan, yang melibatkan pimpinan militer dan kalangan
sipil.

Arsip itu juga menyebutkan jumlah yang dibunuh sebanyak 1.941 orang
disertai lokasi penguburannya.

"Ada juga arsip surat pembentukan Front Pembela Pancasila dan catatan
pembagian senjata kepada warga sipil," ungkapnya.

Meskipun kasus studinya di Aceh, namun dia menemukan adanya pola-pola
serupa yang terjadi di daerah lainnya.

Bagaimana Dr Melvin mendapatkan arsip militer tersebut?

Sutradara Joshua Oppenheimer pembuat film The Act of Killing dan The Look
of Silence mengomentari buku ini dan menyatakan, Dr Melvin mengambil
langkah sangat fatal namun menentukan dalam sejarah penelitian yang
dilakukan orang asing mengenai topik ini.

"Dia datang ke bagian arsip militer dan menanyakan arsip-arsip mereka,"
katanya.

Langkah tersebut, bagi Dr Melvin sendiri, masih terngiang dengan jelas.
"Saya ingat betapa gugupnya saya waktu itu," katanya.

Dalam diskusi salah satu penanya mengemukakan, apakah dia tidak khawatir
pengungkapan hasil risetnya ini justru akan membuat institusi militer di
Indonesia jadinya akan menutup diri dan tak lagi mau memberikan akses
kepada arsip-arsip mereka.

Menurut Dr Melvin, hasil penelitian ini justru harus disampaikan sehingga
semuanya menjadi jelas.

Dalam wawancara dengan ABC beberapa waktu lalu, Dr Melvin mengatakan
sebenarnya Komnas HAM telah mengumpulkan bukti-bukti adanya genosida di
tahun 1965 tersebut.

"Mereka menghasilkan laporan 800 halaman mengenai apa yang terjadi,
penuturan saksi korban serta arsip-arsip resmi dari era tersebut, namun
laporan ini tidak dipublikasikan," katanya.

Dr Jess Melvin juga berencana untuk menerbitkan terjemahan bukunya itu
dalam Bahasa Indonesia. Bukunya dalam Bahasa Inggris diterbitkan dan dijual
oleh Routledge


Kirim email ke