Paham komunisme adalah ilmu, dia tidak bisa dibendung oleh siapapun.
   ----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: 
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Kamis, 3 Mei 2018 21.22.19 
GMT+2Judul: [GELORA45] Bacakan Pleidoi, Alfian Tanjung Ungkap Indikasi 
Kebangkitan PKI
     


Rabu 02 Mei 2018, 20:17 WIB


Bacakan Pleidoi, Alfian Tanjung Ungkap Indikasi Kebangkitan PKI
Yulida Medistiara - detikNews
Alfian Tanjung (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Alfian Tanjung menyinggung Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dalam 
sidang pleidoinya. Ia membeberkan, indikasi bangkitnya PKI salah satunya karena 
ditiadakannya pemutaran film G-30-S/PKI.

"Saya akan tegaskan indikasi bangkitnya PKI, membaca zaman yang sedang 
bergerak, dinamika sosial-politik secara nasional cukup banyak dan banyak tanda 
kebangkitan paham komunisme PKI," kata Alfian saat membaca pleidoi di 
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jl Bungur Raya, Jakarta Pusat, Rabu 
(2/5/2018)..


| Baca juga: Alfian Tanjung: Cuitan tentang PDIP Ekspresi Kekhawatiran |



"Pertama, ditiadakanya pemutaran film G-30-S/PKI. Termasuk ikrar dari Panglima 
TNI yang sekarang, tidak akan memutarkan film G-30-S/PKI. Sebagai langkah awal 
melenyapkan jejak hitam sejarah PKI. Hal ini mereka lakukan secara sistematis 
sejak 1980-an," imbuh Alfian. 

Dikutip dari pleidoinya, indikasi kedua adalah dihilangkannya kata 'PKI' dari 
'G-30-S' pada 2004. Menurut Alfian, hal ini untuk menegaskan bahwa PKI tidak 
terlibat dalam peristiwa itu.

Ketiga, menurut Alfian dalam pleidoinya, gencarnya penerbitan berupa buku 
setelah terbitnya 'Aku Bangga Jadi Anak PKI 2002', terbit buku 'Anak PKI Masuk 
Parlemen 2005'. Selanjutnya, terbit buku sejarah dan pedoman membangun kekuatan 
komunis di Indonesia sebagai modal bagi mereka untuk mewujudkan cita-cita 
mereka. 


| Baca juga: Ketum PA 212 Hadiri Sidang Pleidoi Alfian Tanjung |



Keempat, kata Alfian, HUT PKI dirayakan secara terbuka pada 2015. Dilanjutkan 
dengan event kegiatan PKI di berbagai daerah: Sumatera, Jawa Tengah, Jakarta, 
dan Jawa Timur. 

Kelima, Alfian menyinggung soal adanya simposium tentang PKI di Jakarta pada 
18-21 April 2016 di Aryaduta, Jakarta. Kemudian keenam, pada 16-17 September 
2017, ada diskusi di LBH Jakarta untuk mencabut Tap MPRS 25/1966 dan menganulir 
kudeta 1948. Menurut Alfian, mereka ingin meyakinkan publik bahwa Tap MPRS 
25/1966 sudah tidak relevan lagi dan harus dicabut dan membalik fakta sejarah 
bahwa peristiwa kudeta Madiun 1948 merupakan kudeta politik dan provokasi 
Hatta. 

Selain itu, dalam pleidoinya, Alfian juga menyebut nama beberapa tokoh. 
Nama-nama tokoh itu dianggap sebagai salah satu penyebab eksisnya PKI. 

"Kemunculan kader-kader PKI di berbagai event, baik secara umum maupun yang 
tegas-tegas menyatakan dirinya sebagai komunis/PKI. Seperti Ribka Tjiptaning, 
Teguh Karyadi, Wahyu Setiaji, dll. Ada yang diam-diam terus bekerja, seperti 
Dita Indah Sadi dan Budiman Sudjatmiko," ujar Alfian.


Tonton juga video tentang "Berpuisi Alfian di Sidang Pleidoi"





    

Kirim email ke