*Kalau Kristen kirim pendeta ke berbagai pelosok, apakah tidak dibiliang
usaha kristanisasi dan apakah tidak ada yang ribut hiruk pikuk?
hehehehehehe*


http://www.panjimas.com/news/2018/05/04/bulan-suci-ramadhan-dewan-dawah-kirim-kafilah-dakwah-ke-pelosok-negeri/


Bulan Suci Ramadhan, Dewan Da’wah Kirim Kafilah Dakwah ke Pelosok Negeri
<http://www.panjimas.com/news/2018/05/04/bulan-suci-ramadhan-dewan-dawah-kirim-kafilah-dakwah-ke-pelosok-negeri/>

4 May 2018

<http://www.panjimas.com/news/2018/05/04/bulan-suci-ramadhan-dewan-dawah-kirim-kafilah-dakwah-ke-pelosok-negeri/>
<http://www.panjimas.com/news/2018/05/04/bulan-suci-ramadhan-dewan-dawah-kirim-kafilah-dakwah-ke-pelosok-negeri/>



*JAKARTA (Panjimas.com)*– Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia melakukan
penglepasan puluhan da’i dan da’iyah Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID)
Mohammad Natsir untuk diterjunkan ke pelosok negeri di bulan Ramadhan 1439
H.

Sekretaris Umum Dewan Da’wah Ustaz Avid Sholihin menuturkan, tantangan
teritorial dakwah ke depan sangat kompleks. Terlebih, Indonesia terdiri
dari 17.000 pulau dengan 34 provinsi memiliki daerah terluar, terisolir,
termaginalkan, dan pedalaman. Sehingga, memerlukan pembinaan intensif dari
para da’i.

“Kerawanan pendangkalan aqidah (pemurtadan) tidak hanya terjadi di
perkotaan, tetapi juga daerah pedalaman dan terasing. Karena itu, sejak
awal didirikan, Dewan Da’wah mengambil porsi perjuangan untuk dakwah di
wilayah terpencil,” ujar Avid di Gedung Menara Da’wah, Kramat Raya, Jakarta
Pusat, Kamis (3/5).

Hal itu selaras dengan fungsi Dewan Da’wah yaitu mengawal aqidah,
menegakkan syariah, menguatkan ukhuwah, mendukung solidaritas, dan menjaga
keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Kami berharap para da’i dapat melakukan fungsi Dewan Da’wah. Nah,
menegakkan syariat bukan hanya potong tangan dan hukum cambuk. Tetapi
syariah adalah tata cara kehidupan yang diatur oleh Allah Swt dan
dicontohkan oleh Rasulullah dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi,”
jelasnya.

Selain itu, kata Avid, da’i Dewan Da’wah juga harus mampu merekatkan
pluralitas masyarakat. “Yang namanya perbedaan itu masih bisa di
kompromikan, tetapi kalau sudah penyimpangan, nah itu yang tidak dapat di
toleransi,” ungkap dia.

Da’i, lanjut Avid, harus mampu merekatkan NKRI yang sudah menjadi konsensus
para founding father, dimana salah satu pencetus NKRI adalah Mohammad
Natsir melalui mosi integral pada 3 April 1950.

Guna mengimbangi gerakan mahasiswa Sekolah Tinggi Teologi (STT) Apostolos
yang mewajibkan mahasiswa semester 6 untuk memiliki 10 masyarakat binaan
sebagai syarat naik ke tingkat selanjutnya, Avid mengimbau setiap da’i dan
da’iyah memiliki 100 jamaah binaan.

“Permintaan umat (terhadap da’i) ini sangat luar biasa. Sehingga, jika
ditangani oleh STID, tentu belum dapat mencukupi kebutuhan. Maka, kami
membutuhkan dukungan dari berbagai elemen,” katanya.

Ia berharap, dukungan dari para muzakki terutama lembaga zakat terus
digulirkan guna mensukseskan kerja-kerja dakwah.

“Dewan Da’wah sangat berterima kasih atas dukungan BAZNAS. Salah satu
program kerjasama Dewan Da’wah (dengan BAZNAS) adalah program Kaderisasi
Seribu Ulama (KSU). Kami berharap program ini tetap berkelanjutan untuk
mencetak generasi-generasi da’i ilaAllah,” pungkasnya.

Direktur Pendayagunaan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Nasir Tajang
berpesan kepada 67 da’i dan da’iyah, agar dapat mewujudkan ekonomi
kerakyatan di tempat tugasnya masing-masing.

Menurutnya, tantangan dakwah saat ini adalah kerja keras dan keikhlasan.
Jika hal ini dapat dikerjakan, maka Allah yang akan menggerakkan hati
masyarakat untuk menerima seruan para dai.

“Kami targetkan daerah-daerah yang membutuhkan dapat dipenuhi. Sebab,
Indonesia masih tertinggal jauh dari kesejahteraan layak. Karenanya, da’i
juga dituntut untuk dapat mewujudkan pemberdayaan ekonomi,” ujar dia.

Para dai dan da’iyah, setelah lulus, kata Nasir, dapat melanjutkan jenjang
pendidikan S2 dan S3 melalui program KSU yang selama ini digulirkan BAZNAS
bekerja sama dengan Dewan Da’wah.

“Tentu (da’i dan da’iyah) menjadi aset dan jaringan kami ke depan. Jika
kebutuhan umat menuntut mereka sekolah lagi, ini menjadi hal strategis
untuk dilakukan BAZNAS. Kita upayakan tahun 2019 (program KSU) dapat
berjalan kembali,” pungkasnya.

Ketua STID Mohammad Natsir Dwi Budiman mengatakan kafilah dakwah adalah
salah satu program STID Jakarta sejak tahun 2004 dalam rangka berdakwah dan
membina masyarakat pedalaman, selama 2 bulan atau lebih pada bulan ramadhan..

Kala itu, tahun 2004 program ini bernama duta dakwah dan baru diikuti 9
orang dari setiap angkatan. Sebelum diberangkatkan, para peserta diberikan
materi pelatihan meliputi orientasi dan pemetaan dakwah, komunikasi massa,
penyusunan progress and reporting, dan pelatihan lifeskill praktis.

“Keseriusan dan komitmen dalam dakwah merupakan kunci keberhasilan.
Mudah-mudahan adik-adik dapat melanjutkan ke jenjang S2 dan S3 setelah
lulus nanti,” harapnya.

Para peserta kafilah dakwah tahun ini dikirim ke 5 provinsi. Diantaranya
NTT, Sulawesi Tengah, Riau, Sumatera Utara, dan Jawa Tengah. (ass)

Kirim email ke