Obituari - Ir. Djoko Sri Moeljono (1938-2018)

Pada 3 Mei 2018 Ir. Djoko Sri Moeljono (DSM) telah meninggal di
Jakarta setelah menderita sakit beberapa lama. Ketika masih sehat dia
aktif menghadiri acara-acara di Kontras, LBH, Komnas HAM, bahkan juga
ikut acara Kamisan di depan Istana Merdeka. Sebagai tapol dia
meringkuk di tahanan, kerja rodi dan pembuangan Pulau Buru (Oktober
1965-1978).
Ia termasuk seorang tapol yang mujur dalam arti memiliki kesempatan
menulis buku harian selama beberapa tahun (1966-1971). Ketika itu ia
bersama ratusan tapol lain dijadikan romusa modern melakukan kerja
rodi di daerah Banten dalam proyek Angkatan Darat yang disebut
‘Operasi Bhakti Siliwangi’. Kesempatan menulis buku harian merupakan
barang langka, bahkan suatu kemewahan bagi seorang tapol G30S. Pena,
kertas, buku, informasi dan perangkat peradaban lain merupakan musuh
besar bagi rezim penindas Orba jika jatuh di tangan mereka yang
dianggap lawan politiknya.
Sebagai tapol ia sadar buku harian yang ditulisnya mengandung risiko
besar. Dengan demikian ia secara sadar pula menerapkan berbagai kiat
berkelit. Sebagian catatan itu dibuatnya dalam bahasa Rusia dengan
huruf Kiril, juga dengan huruf Jawa dalam bahasa Jawa, sesuatu yang
cukup langka dikuasai orang. Selanjutnya secara berangsur
dikirimkannya melalui saudara kandung yang menjenguknya untuk disimpan
bersama buku-buku koleksi miliknya yang sebagian masih dapat
diselamatkan. Dengan masgul ia mencatat ketika melihat sebuah buku
tebal kamus teknik miliknya dijadikan ganjal korsi jaksa yang
memeriksanya, “ia seorang terpelajar bergelar sarjana hukum, tetapi
belum berbudaya.”
Ketika menjadi mahasiswa di ITB Bandung, ia memasuki CGMI yang
digolongkan sebagai mantel PKI dengan pertimbangan sederhana: tidak
ada perploncoan. Ketika ia memilih studi ke Moskwa dalam jurusan
metalurgi, hal itu pun dilakukannya dengan pertimbangan lugas, pabrik
baja pertama Indonesia di Cilegon dengan bantuan dan teknologi Uni
Soviet. Ia tamat dan pulang ke Indonesia pada 1964, langsung bekerja
di Pabrik Baja Cilegon. Tidak ada pertimbangan dan semangat politik
atau ideologi yang menggebu sebagai yang menjadi kecenderungan umum
masa itu sebagai respons terhadap retorika politik kebangsaan Presiden
Sukarno. Sekalipun demikian ia tetaplah penuh dengan semangat
idealisme menimba ilmu yang akan berguna bagi tanahair tercinta.
Semangat semacam itulah yang terus-menerus dipeliharanya dalam
bertahan hidup selama 12 tahun sebagai tapol di tahanan, kerja rodi
dan pembuangan dalam ketenangan dan solidaritas tinggi terhadap sesama
tapol sebagai yang menjadi bagian watak pribadinya.
Selepas dari Pulau Buru, di antaranya berdasarkan buku harian dan
dokumen lain yang masih dimilikinya serta memorinya yang kuat, ia
menulis buku “Banten Seabad Setelah Multatuli” (Ultimus 2013) dan
“Pembuangan Pulau Buru” (Ultimus 2017). Tulisan ini sebagian dikutip
dari Catatan Penyunting (Harsutejo) bertengara 2003. Semoga almarhum
mendapatkan tempat yang layak. (Harsutejo)

Kirim email ke