Enggaklah. Ribka memang lagi panik. Sebagai intelektual (dokter yang politikus) dia pasti tahu penyelenggaraan rumahtangga itu juga politik. Setiap keputusan dan penyikapan yang diambil keluarga, itu politik. Politik keluarga. Setiap pemikiran, ucapan, maupun gerakan anggota keluarga yang mengajak atau mendorong terbangunnya kebiasaan / tradisi / peraturan keluarga, untuk gosok gigi sebelum tidur misalnya, nah itu politik praktisnya.
Kelihatan jelas kok, Ribka yang lebih banyak diam dan tiba-tiba buka mulut begini sedang panik. Sama seperti kebanyakan PDIP dan pendukung Jokowi. Entah kenapa, padahal tidak ada serikat buruh yang mengajak apalagi mengatur orang lain untuk mendukung Prabowo dalam acara Mayday kemarin. Tidak ada politik praktis. Sebab, kaum buruh hanya menyatakan dukungan mereka sendiri, yang bagaimanapun itu merupakan bentuk dari kemerdekaan menyatakan pendapat yang dilindungi UUD. Tidak ada ajakan kepada pihak lain / masyarakat. Yang ada cuma paranoia di kubu Jokowi sendiri. Jelas, Ribka dan segenap PDIP panik karena Jokowi malah menawarkan Prabowo sebagai cawapresnya. Jadi, ucapan Ribka dan segenap PDIP ya memang ngawur dan curang karena mereka belagak pilon ketika ketua serikat pekerja pelabuhan ini berpolitik praktis mengajak buruh untuk mencoblos Jokowi: April 2014: Rieke Ajak Buruh Tolak Kenaikan Tarif Dasar Listrik https://nasional.kompas.com/read/2014/04/29/2037260/Rieke.Ajak.Buruh.Tolak.Kenaikan.Tarif.Dasar.Listrik April 2015: Rieke Ajak Buruh Duduki Istana https://nasional.tempo.co/read/661708/kecewa-jokowi-rieke-pdip-ajak-buruh-duduki-istana “Saya minta maaf kepada teman-teman karena dulu saya mengajak mencoblos Pak Jokowi (sebagai presiden),” kata Rieke --- jonathangoeij@,,, wrote: Sebagai buruh seseorang seringkali juga jadi anggota serikat buruh, katakanlah buruh pabrik sepatu jadi anggota serikat buruh sepatu seluruh Indonesia misalnya merupakan hal yg lumrah saja. Tetapi tentu saja para anggota SB itu belum tentu mempunyai pandangan politik yang sama, mungkin ada yg golput ada yg pdip pan pks golkar psi pkb dan macam2 yg lain, ada yg simpatisan #ganti presiden ada yg simpatisan #sibukkerja, ada yg pingin Jokowi presiden lagi ada yg pingin Prabowo ada yg pingin lain lagi, kesemuanya itu tergabung dalam SB yg sama. Hal yg wajar karena jadi keanggotaan SBSepatu berdasarkan pekerjaan sebagai buruh pabrik sepatu. Mungkin itulah kira2 alasan Ribka Tjiptaning menyayangkan SB berpolitik praktis. --- ajegilelu@... wrote : Politik sudah ada sejak manusia mengenal adab berkeluarga, suatu ikatan yang berstrukturkan suami, istri, anak dst. Bagaimana suami-istri menyelenggarakan rumahtangga, nah itu politik sudah. Karena itu keluarga disebut sebagai unit terkecil dari negara. Buat penyeruput kopi di warung-warung mah, komentar Ribka ini sekedar mengekspresikan kepanikan kubu Jokowi-PDIP. Seperti rata-rata jagoan PDIP, kepanikan Ribka juga menyiratkan pembungkaman kemerdekaan menyatakan pendapat. Kecuali, tentu, kebebasan menyatakan dukungan kepada Joko Widodo. Praktis, yang namanya politik jadi rusak oleh orang-orang kayak gini. --- lusi_d@... wrote: Saya pun tidak mengerti yang dimaksudkan dengan kata politik praktis itu. Sebab, yang dikatakan tidak berpolitik itupun adalah suatu tindakan politik. Nyoblos atau tidak nyoblos dlm pemilu itu juga politik. Mana yang dikategorikan bukan berpolitik atau politik praktis? Bukankah perubahan dalam suatu masyarakat apapun itu baru terlaksana kalau kesadaran politik rakyat makin meningkat. Am Wed, 2 May 2018 20:41:33 +0000 (UTC) schrieb jonathangoeij@... : > Pada saat seseorang nyoblos sebenarnya saat itu juga sudah berpolitik > praktis. Yang saya takjub melihat perkembangan politik adalah > pergeseran posisi, pada umumnya Serikat Buruh secara natural > berpandangan kiri karena memperjuangkan hak2 buruh. Sementara orang2 > seperti Ribka Tjiptaning dan Rieke Diah Pitaloka seringkali dikatakan > oleh kelompok kanan sebagai komunis PKI atau sesedikitnya anak PKI > baik karena secara biologis keturunan PKI ataupun juga pandangan > politiknya yg cenderung kekiri. Tetapi kali ini terkesan banyak > sekali SB seakan di kanan bersama dengan mereka yg berpaham > konservatisme/radikalisme kanan. > > --- jetaimemucho1@... wrote : > > Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan "berpolitik praktis"? Kalau > ada "berpolitik praktis", apa ada "berpolitik teoritis"? Karena ada > serikat buruh yang dikooptasi Prabowo, terus kadernya PDI-P > marah-marah... seolah-olah serikat buruh tidak boleh "berpolitik > praktis". apakah SB yang tidak bisa dikooptasi oleh para penguasa, > lantas berarti SB itu tidak berpolitik praktis??? Lantas apa nama > posisi dan pendapat politik SB yang tidak bisa dikooptasi itu??Di > sisi lain, rupanya mbak Ning lupa, dulu pernah juga Jokowi ngundang > "kepala" beberapa serikat buruh naik kapal terbang sama-sama, ngobrol > ngalor ngidul, makan-makan...hasilnya serikat buruh itu tidak ikut > dalam mobilisasi May Day!!! apa namanya itu??? Kok nggak ada kader > PDI-P yang mengkritik SB yang sudah berhasil dikooptasi Jokowi > itu???? Ah, dasar permainan para politikus Statusquo alias > elit.....Rebutan kursi, rebutan jabatan...sama saja semuanya, tidak > ada yang berguna untuk kepentingan Rakyat!!! > > On Wednesday, May 2, 2018 3:59 AM, Gelora Tan wrote: > > Disayangkan Serikat Buruh Berpolitik Praktis Saat “May Day” > Selasa , 01 Mei 2018 | > 22:00http://www.sinarharapan.co/hukumdanpolitik/read/1227/disayangkan_serikat_buruh_berpolitik_praktis_saat____may_day___ > Sumber Foto Dok/Ist Ribka Tjiptaning POPULER10 Poin Kontrak Politik > Prabowo-BuruhDisayangkan Serikat Buruh Berpolitik Praktis Saat “May > Day”Prabowo Hadiri Peringatan Hari Buruh di SenayanListen to > thisJAKARTA - Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDI Perjuangan Ribka > Tjiptaning menyayangkan masih adanya serikat buruh yang melakukan > politik praktis dengan menyatakan mendukung calon presiden tertentu > dalam aksi Hari Buruh Sedunia (May Day), Selasa (1/5/2018)."Sayang, > beberapa serikat buruh mulai berpolitik praktis dengan dimulai > mendukung salah satu pasangan dalam Pilgub DKI, bahkan dengan > menggunakan taktik isu SARA, dan sekarang, ada serikat buruh > mendukung salah satu bakal calon presiden untuk Pemilu 2019," kata > Ribka dalam keterangan tertulisnya di Jakarta malam ini.Ribka > mengatakan keterlibatan serikat buruh dalam politik praktis selain > dapat mengundang politik transaksional, juga hanya akan melemahkan > gerakan buruh itu sendiri."Harusnya gerakan buruh menjadi kekuatan > politik alternatif, ditengah peran parpol yang tidak maksimal dalam > memperjuangkan kepentingan kaum pekerja," ujarnya.Ia mengingatkan > sejarah peringatan May Day, adalah peringatan kemenangan kaum buruh > memperjuangkan tuntutan delapan jam bekerja sehari, pada tahun 1886 > di Amerika Serikat. Di Indonesia, kata dia, May Day sudah diperingati > sebelum Republik Indonesia berdiri sampai orde lama.Sementara pada > masa orde baru peringatan May Day dilarang, hingga pada tahun 1995 > buruh yang melakukan peringatan itu ditangkap dan mengalami sejumlah > tindak kekerasan dari aparat masa itu, seperti ditabrak motor trail, > dipukul dan ditendang.Kemudian, lanjut dia, memasuki reformasi, buruh > boleh berserikat dan melakukan aksi mogok kerja. Di era reformasi > pula tumbuh banyak serikat buruh yang berani menuntut haknya."Era > keterbukaan politik adalah jembatan bagi gerakan buruh untuk membesar > dan mampu memperjuangkan hak-hak pekerja," katanya.Dia menilai > serikat buruh semestinya tidak berpolitik praktis. Dia menekankan > masih banyak "pekerjaan rumah" bagi gerakan buruh, seperti menuntut > penghapusan buruh outsourcing, menolak upah murah (penghapusan PP No > 78Tahun 2015), menolak kriminalisasi buruh, hingga menuntut > pengusutan kembali kasus kematian Marsinah.(pr/ant) > >
