Voice of freedom
 

 PENGUASA YANG DUNGU, SUKA MAIN KASAR
 

 Mei 8, 2018 14:30
 
 
 Sejumlah masyarakat mengenakan kaus #2019GantiPresiden di Car Free Day (CFD) 
di Bundaran HI, Jakarta, Minggu (29/4/18). Kaus dan atribut lain dipakai 
masyarakat untuk olahraga. AKTUAL/Tino Oktaviano
 

 Pada 28 Maret 1928, di depan Mahkamah Belanda di Den Haag, dengan lantang Bung 
Hatta menyampaikan protes terhadap pemerintah Belanda, yang telah melarang 
aktivitas politik kaum muda di nusantara. Bahkan ketika itu, akibat pelarangan 
tersebut, Bung Hatta pun mengatakan bahwa Belanda telah melakukan kejahatan 
berat. Sebab menurut Bung Hatta, itu sama artinya dengan melarang cita-cita 
kemerdekaan yang merupakan hak atas orang-orang yang terjajah.
 

 Sejarah ini kemudian dicatat dengan baik dan dirangkum dalam buku berjudul 
Indonesia merdeka, diterbitkan oleh bulan bintang pada tahun 1976. Dengan 
harapan dapat dijadikan sebagai pengingat terhadap generasi bangsa, bahwa 
founding father negara ini sangat benci terhadap hal-hal yang sifatnya merampas 
kemerdekaan seseorang, khususnya dalam kemerdekaan berpolitik.
 

 Apa yang pernah diungkapkan oleh Bung Hatta ini, tentu penting untuk dijadikan 
sebagai bahan refleksi bagi kita, khususnya pemerintah. Agar kemudian, semua 
bisa sadar bahwa bangsa ini diperjuangkan oleh orang-orang yang setuju dengan 
gagasan kemerdekaan berpolitik, dan menentang semua hal sifatnya mengekang. 
Sebab pengekangan terhadap kemerdekaan berpolitik, sangat bertentangan dengan 
cita-cita kemerdekaan.
 

 Oleh karenanya, apa yang tengah terjadi beberapa waktu belakangan ini, seperti 
peneguran terhadap para tukang sablon kaos dengan hastag 2019 ganti presiden, 
serta pelarangan terhadap orang-orang yang memakai kaos berhastag tersebut di 
CFD, oleh aparatur pemerintah. Tentu merupakan tindakan yang sangat menciderai 
cita-cita kemerdekaan kita. Sebab mayoritas masyarakat yang datang ke CFD dan 
memakai kaos tersebut, memiliki hak kebebasan yang dijamin oleh konstitusi. 
Baik itu sekedar memakai kaosnya maupun untuk mengekspresikan sikap politiknya. 
Mereka tidak boleh dilarang-larang, sebab kaos yang mereka kenakan bukan kaos 
yang dilarang dalam konstitusi, bukan kaos berlogo PKI dan juga bukan SARA. 
Sehingga mereka punya kemerdekaan untuk memakainya baik diruang-ruang tertutup 
maupun terbuka.
 

 Seharusnya, pemerintah paham dengan persoalan dasar tersebut. Sehingga tidak 
melarang dan juga tidak mempersoalkan orang-orang yang memakai koas itu. Namun 
sayangnya, pemerintah kita tidak paham. Tampak panik, takut tidak bisa berkuasa 
lagi di periode berikutnya, sehingga hal-hal yang sangat dilindungi dalam 
konstitusi pun mereka abaikan.
 

 Padahal sebenarnya, kalau pemerintah itu cerdas, mereka tidak akan sepanik itu 
dalam merespon kaos berhastag 2019 ganti presiden. Karena sifat alami manusia 
atau rakyat secara keseluruhan, semakin dikekang maka akan semakin melawan. Dan 
bangkitnya people power, ke depan akan semakin cepat dan sulit untuk 
dihentikan. Dan people power ini, jauh lebih kuat dari kekuasaan pemerintah. 
Bila itu sudah muncul, maka penguasa sekuat apapun pasti akan digulung.

 

 Dan saya menduga, jika cara yang dilakukan penguasa selalu kasar dalam menekan 
oposisi, tidak ada sense of crisis, maka people power itu pasti akan segera 
muncul. Karena syarat-syarat kebangkitannya sudah cukup lengkap. Pertama, nilai 
tukar rupiah yang terus anjlok. Ini bearti ekonomi nasional menurun. Kedua, 
harga-harga kebutuhan pokok terus melambung. Dan Ketiga, jumlah tenaga kerja 
asing terus meningkat, sementara pengangguran didalam negeri begitu banyak.
 

 Jakarta, 8 Mei 2018
 

 Oleh : Setiyono
 (Pengkaji sejarah, hukum dan demokrasi)
 

 

 

Kirim email ke