Sri Mulyani : Indonesia Hadapi Level Baru Ekonomi Global
Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 10/05/2018 10:09 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan Indonesia harus
menyesuaikan diri dengan level normal terbaru dalam perekonomian global. (CNN
Indonesia/Safir Makki)Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani
Indrawati mengungkapkan Indonesia harus menyesuaikan diri dengan level normal
terbaru dalam perekonomian global. Dalam hal ini, era suku bunga rendah mulai
berakhir dan beralih ke bunga 'gemuk'.
"Level normal yang baru ini adalah pada saat bank sentral AS Federal Reserve
menaikkan suku bunganya dan obligasi pemerintah AS (US Treasury) ikut
terangkat. Itu tidak sama dengan dua, tiga tahun yang lalu di mana suku bunga
mendekati nol persen," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Rabu malam (9/5).
Sebagai gambaran, hingga akhir 2015, suku bunga acuan AS hanya berkisar 0 -
0,25 persen. Namun, sejak 21 Maret 2018 lalu, suku bunga acuan AS telah berada
di kisaran 1,5 hingga 1,75 persen.
Lihat juga: Sri Mulyani Kecewa Pejabat Eselon III DJP Minim Perempuan
Kenaikan suku bunga AS diantisipasi oleh pasar keuangan global yang diliputi
oleh ketidakpastian. Jika suku bunga AS naik, aliran modal akan mengalir ke
Negeri Paman Sam. Untuk mengimbanginya, sejumlah negara di dunia juga bakal
ikut mengerek suku bunga acuannya.
Pengaruh kenaikan suku bunga AS cukup terasa akhir-akhir ini di mana kurs
rupiah dan sejumlah mata uang negara lainnya tertekan melawan dolar.
Gejolak pasar keuangan dunia juga berimbas pada lesunya minat investor terhadap
penerbitan Surat Utang Negara (SUN).
Pada Selasa (8/5) kemarin, total penawaran yang masuk dari lelang obligasi
negara hanya sekitar Rp7,19 triliun, atau jauh di bawah lelang sebelumnya
sebesar Rp17,02 triliun. Penawaran itu juga di bawah target indikatif
pemerintah atas lelang tersebut yang mencapai Rp17 triliun hingga Rp 25,5
triliun..
Lihat juga: Rupiah Melemah, Subsidi Energi Terancam Bengkak
Berdasarkan keterangan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko,
pemerintah memutuskan untuk tidak menerima semua penawaran yang disampaikan
oleh peserta lelang pada pelaksanaan lelang tersebut. Pasalnya, kondisi
realisasi penerbitan SBN neto telah mencapai 45 persen, posisi kas Pemerintah
dalam kondisi yang aman dan tingkat imbal hasil yang disampaikan oleh investor
relatif di luar kewajaran yang dapat diterima.
Sri Mulyani mengungkapkan pemerintah akan terus memonitor selera dari investor
yang berinvestasi jangka panjang, maupun yang ingin mengambil untuk dengan
berinvestasi jangka pendek.
"Pemerintah akan terus memahami appetite yang disampaikan oleh para investor
calon pembeli obligasi kita," ujarnya.
Namun, Sri Mulyani menekankan bahwa pemerintah selalu memiliki opsi pembiayaan.
Misalnya dari pinjaman multilateral, bilateral, maupun private placement
apabila pasar dalam situasi tidak rasional atau pasar meminta imbal hasil yang
terlalu tinggi dan tidak bisa dijustifikasi dari kondisi fundamental..
Lihat juga: Pelemahan Rupiah Tak Pengaruhi Industri Jasa Logistik
Saat ini, Sri Mulyani meyakinkan bahwa kondisi fundamental perekonomian
Indonesia masih baik dengan pertumbuhan ekonomi yang masih di atas lima persen,
defisit APBN mendekati dua persen, dan tingkat inflasi yang terjaga.
"Indonesia dalam kondisi perekonomian yang stabil dan dengan prospek yang
baik," tegasnya.
Indonesia Bisa Tanggung Biaya Besar
Secara terpisah, ekonom dan Kepala Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik
Tony Prasetiantono mengungkapkan era suku bunga rendah sudah berakhir.
Indonesia seharusnya segera merespon karena jika terlambat Indonesia akan
menanggung biaya besar, salah satunya dari tergerusnya cadangan devisa.
Menurut Tony, dari sisi moneter, Bank Indonesia (BI) perlu merespon dengan
menaikkan tingkat suku bunga acuan, BI 7 Days Reserve Repo Rate (BI7DRR)
setidaknya 25 basis poin sebagai respon jangka pendek. Jika tak dilakukan,
risikonya cadangan devisa Indonesia akan tergerus sebagai imbas dari intervensi
BI untuk menahan tekanan pada nilai tukar rupiah.
"Meskipun, tidak ada jaminan dengan menaikan suku bunga acuan 25 basis poin
rupiah akan menguat," ujarnya.
Lihat juga: Rupiah Melemah, Cerita Klasik dan Masalah Fundamental Ekonomi
Saat ini, lanjut Tony, nilai tukar rupiah telah menembus Rp14 ribu per dolar
AS, suatu level psikologis yang tidak membuat nyaman pelaku pasar karena
mengingatkan dengan kondisi krisis keuangan 1998. Namun, Tony mengingatkan,
kondisi fundamental perekonomian Indonesia sekarang lebih baik dibandingkan
periode krisis dua dekade silam sehingga masyarakat tidak perlu panik
berlebihan.
Selain itu, Tony juga meyakini kurs rupiah terhadap dolar masih undervalue.
Artinya, tanpa ada gejolak di pasar keuangan, nilai tukar rupiah berpotensi
menguat ke depan sesuai fundamentalnya. Diperkirakan Tony, nilai fundamental
rupiah ada di kisaran Rp13.500 hingga Rp13.700 per dolar AS. (lav)