Di Hangzhou, Impian Jack Ma TerwujudReporter:  AntaraEditor:  Martha 
WartaJumat, 11 Mei 2018 08:50 WIB 
Jack Ma, CEO Alibaba.com (All Things Digital)

TEMPO.CO, Hangzhou -Dalam dunia bisnis pemesanan barang eceran, siapa yang 
tidak mengenal Jack Ma, si raja "start up" Alibaba yang sudah mendunia dari 
Cina? Di kota Hangzhou, Provinsi Zhejiang, Jack Ma dilahirkan.

Di kota itu pula ia ingin mewujudkan mimpinya, yaitu mendirikan perusahaan yang 
bisa melayani jutaan usaha kecil dan menengah. "Ini adalah tempat saya untuk 
menjalankan usaha 'start up', kata Jack Ma seperti yang dikutip dari presentasi 
Dream Town.

Baca: Ini 5 Tip Jack Ma untuk Para Startup

Jack Ma yang bernama asli Ma Yun itu mulai menapaki bisnisnya pada 1999 dengan 
membuat situs Alibaba.com sebagai jalur penghubung antara perusahaan dan 
penjual lokal untuk menembus pasar internasional. Seiring dengan keberhasilan 
Alibaba.com, pada 2003 Taobao.com diciptakan sebagai pasar eceran antarkonsumen 
secara daring untuk menjawab kebutuhan konsumen yang semakin meroket.

Saat ini Taobao Marketplace adalah rumah dan destinasi dagang secara daring 
terbesar di Cina yang memiliki dari lebih dari 10 juta penjual. Kemudian, pada 
2004 diluncurkan Alipay sebagai alat transaksi dalam pasar daring Taobao di 
mana ketika itu pembeli Cina memiliki kartu kredit dan hampir semua pembelian 
secara daring menggunakan sistem bayar di tempat atau "cash on delivery" (COD).

Hadirnya Alipay mampu menggeser pembayaran sistem lama dengan pembayaran 
digital di mana uang tidak akan dikirim ke penjual sampai pembeli menerima 
barang. Alipay menjadi salah satu alat pembayaran yang paling dipercaya hingga 
saat ini dan menjadi andalan dalam pemesanan secara daring.

Sayap-sayap bisnis lainnya mulai dikembangkan, seperti pada 2007 Jack Ma 
membuat Alimama, Tmall pada 2008, Alibaba Cloud pada 2009, AliExpress 2010, 
Cainiao 2013 hingga melantai di Bursa Efek New York dengan penawaran saham 
perdana (IPO) yang mencatatkan salah satu IPO terbesar di dunia.

Berlanjut di 2015, yaitu membuka kantor cabang di sejumlah negara untuk 
menembus batas penjualan, pada 2016 merumuskan konsep Electonic World Trade 
Platform (eWTP) dalam G20 Summit yang mendapatkan dukungan dari Direktur Umum 
Organisasi Pedagangan Dunia (WTO) Roberto Avezedo.

Dari modal 20.000 dolar AS, pada 2016, Alibaba Group sudah mengantongi 
pendapatan tiga triliun yuan dan mengincar target yang sangat ambisius, yaitu 
enam triliun yuan pada 2020 mendatang. Saat ini sudah tergabung 10 juta usaha 
kecil dan menengah, dua miliar pembeli dan 100 juta lapangan kerja.

Bahkan, Alibaba mengoptimalkan waktu pengiriman barang hanya 72 jam ke seluruh 
dunia dan hampir seluruh proses menggunakan robot. Kecintaan Jack Ma terhadap 
kampung halamannya mendorong dia untuk memindahkan kantor pusat Alibaba Group 
dari Kota Beijing ke Hangzhou, Provinsi Zhejiang yang turut mengangkat nama 
kota dan provinsi tersebut sebagai pusat perkembangan teknologi di China.

Meskipun Alibaba Group sudah mencatatkan pencapaian yang sangat besar, Jack Ma 
bersikeras bahwa perusahaan yang dipimpinnya itu masih akan berjalan hingga 102 
tahun ke depan.

Mengutip kata-kata Jack Ma yang sangat terkenal, "Hari ini adalah hari yang 
sulit, begitu pun besok hari akan lebih sulit, tapi lusa akan menjadi hari yang 
sangat indah." Kota Teknologi Bukan hanya Alibaba Group yang membesarkan nama 
Kota Hangzhou, sehingga bisa bersanding dengan kota-kota besar di Cina yang 
sudah lebih dulu tenar, seperti Beijing dan Shanghai, industri teknologi 
lainnya pun turut menggemakan nama ini sebagai salah satu kota di provinsi yang 
sarat akan pengembangan dan pengkajian teknologi.

ANTARA

Kirim email ke