Gondang orchestra
 
 Symphony No. 40 (Mozart)
 
 Geger Gelgel & Chopin Larung
 
tanpa dirigen https://www.youtube.com/embed/XcxdDO8Gqp0

 dll.


--- ilmesengero@... wrote :

 Apakah masih ada okrestra simphony di NKRI?
 

 
https://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/kisah-komponis-belanda-aransemen-lagu-indonesia-raya-soekarno-pun-suka.htm#.WvVH0CC-l2G
 
https://www.eramuslim.com/berita/nwo-untold/kisah-komponis-belanda-aransemen-lagu-indonesia-raya-soekarno-pun-suka.htm#.WvVH0CC-l2G
 

 Kisah Komponis Belanda Aransemen Lagu Indonesia Raya, Soekarno pun Suka 


 Redaksi – Kamis, 4 Sya'ban 1439 H / 19 April 2018 09:30 WIB
 Eramuslim.com – Seorang bujang berusia 32 tahun dari Maastricht, Belanda, 
merantau ke Indonesia. Dia cukup berani karena situasi Indonesia belum aman, 
baru tiga tahun merdeka.
 Dia bukan perantau sembarangan. Di negerinya, dia dikenal sebagai pemain 
violin, trombon dan arranger musik yang piawai. Dia pun pernah tampil di 
orkestra terkenal, Concertgebouw Orchestra.
 Jos Cleber nama perantau itu.
 Keahlian bermusik mengantarkannya menjadi konduktor tamu Orkes Kosmopolitan di 
Radio Republik Indonesia studio Jakarta. Sehingga, RRI memiliki tiga kelompok 
orkes, dua di antaranya Orkes Philharmony pimpinan Yvon Baarspul, juga seorang 
Belanda, dan Orkes Studio Jakarta yang diketuai Syaiful Bahri.
 Cleber pandai bergaul. Dia mudah berinteraksi dengan budaya baru. Sehingga, 
dia berhasil menggarap aransemen beberapa lagu Indonesia, salah satunya lagu 
keroncong Di Bawah Sinar Bulan Purnama karya Arimah, nama lain Maladi.
 
 Foto: musicalprom

 Pada akhir tahun 1950, Jusuf Ronodipuro, kepala RRI studio Jakarta, meminta 
Cleber menggubah partitur lagu Indonesia Raya untuk orkes filharmoni.
 “Lagu Indonesia Raya yang dipakai saat itu adalah hasil garapan Nobuo Iida, 
direktur Jakarta Hoso Kyoku pada zaman Jepang,” ujar Victorius Ganap, guru 
besar Institut Seni Indonesia Yogyakarta, kepada Historia.
 Cleber menerima permintaan Jusuf. Tahun 1951, dia merampungkan aransemen baru 
Indonesia Raya dengan perekaman yang dibantu 140 pemusik gabungan dari ketiga 
orkes RRI serta menggunakan mikrofon Westrex dan tape recorder Philips.
 Menurut Bondan Winarno dalam Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, hasil aransemen 
Cleber diperdengarkan kepada Presiden Sukarno. Di sini muncul perdebatan antara 
Sukarno dan Cleber.
 “Indonesia Raya itu seperti bendera merah putih kita. Polos. Sederhana, tidak 
perlu diberi renda-renda lagi,” ujar Sukarno.
 Menurut Cleber, Bung Karno meminta lagu Indonesia Raya seperti lagu Wilhelmus, 
lagu kebangsaan negeri Belanda.
 “Lagu kebangsaan Indonesia Raya harus plechstatig (khidmat dan megah),” kata 
Sukarno.
 “Dat Kan niet. Tidak bisa,” jawab Cleber. Dia menilai bahwa lagu Wilhelmus 
berirama lambat sementara Indonesia Raya berirama mars atau tempo di marcia. 
Penilaian Cleber ini mengacu pada lagu gubahan Nobuo Iida, sementara partitur 
asli yang ditulis Wage Rudolf Supratman tertulis tanda irama “Oepatjara, 
djangan terlaloe tjepat”.
 Cleber pun merevisi aransemennya. Revisi kedua kembali dibawa ke hadapan 
Sukarno. Dia pun masih belum sreg.
 “Harus ada bagian yang lieflijk, yaitu bagian sebelum refrain. Refrainnya 
sendiri harus meledak dan menciptakan klimaks,” terang Bung Besar.
 Cleber merevisinya sekali lagi. Kali ini, dia bisa menebak tepat keinginan 
Sukarno.
 “Akhirnya, Cleber menggunakan tiga suasana dalam garapannya yang diawali 20 
birama pertama dalam suasana anggun melalui tiup kayu, dilanjutkan 8 birama 
berikutnya dalam suasana khidmat melalui gesek, dan mencapai klimaks pada 
refrain dalam suasana heroik yang menggelegar secara tutti (semua pemain 
memainkan hal yang sama, red.) dengan penambahan tiup logam dan perkusi,” tulis 
Victorius Ganap dalam pidato pengukuhan guru besar ISI Yogyakarta berjudul 
Sumbangsih Ilmu Pengetahuan Musik dalam Pembentukan Jatidiri Bangsa.
 Revisi ketiga ini disukai Sukarno tanpa perubahan lagi. Master rekaman yang 
terbuat dari lilin dikirim ke Philips untuk dibuat master bagi kepentingan 
produksi piringan hitam di Indonesia. Versi inilah yang dipakai hingga hari 
ini.(kl/historia)
 Penulis: Aryono
 Link Source: Historia 
http://historia.id/budaya/articles/komponis-belanda-aransemen-indonesia-raya-PNe98
 




Kirim email ke