Saya tidak tahu Wiranto berbohong apa ngga. Tapi seandainya berbohong juga, itu 
karena banyaknya musuh pemerintah yang siap memelintir setiap perbuatan yang 
dilakukan pemerintah salah atau benar.  Dicari celah2 untuk bisa menyerangnya. 
Orang2 yang hanya mementingkan kemenangannya tanpa memikirkan apa akibat 
perbuatannya bagi masyarakat luas bahkan bangsanya sendiri.
 Mudah2an ajegilelu tidak termasuk didalamnya.
  
 

 ---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Jadi, Wiranto berbohong?

--- marthajan04@... wrote :
 
tidak usah dimasalahkan.  Bisa saja itu taktik untuk menyelamatkan lainnya yang 
tidak bersalah.  

 --- ajegilelu@... wrote :

 Maksudnya Wiranto betul tidak ada negosiasi?

--- marthajan04@... wrote

Saya sudah dengerin rekamannya. Saya tidak tahu apakah ceritanya benar atau 
tidak. Tapi anggaplah ini adalah cerita benar. Lalu apa yang maunya para 
teroris ini? Mereka telah membunuhi orang dengan cara kejam. Orang2 yang tidak 
bersalah langsung kepada mereka. Masang bom di gereja, di mall. di mana saja 
mereka suka. Lalu hanya diperlakukan begini sudah merasa mereka dijalimi? Aneh.
 
Mereka kejam sudah bagus diperlakukan begitu, dipelihara, luka karena 
memberontak di mako brimob bunuhi polisi, dibawa ke rumah sakit dengan duduk di 
kursi roda dan didorong oleh polisi. 
 Ga tau diri. Kualatlah pejabat2 koruptor yang mau kedudukan dengan 
memanfaatkan para iblis2 teroris ini.

--- ajegilelu@... wrote :
 
 Bagaimana dengan rekaman yang ramai beredar ini?
 

 Rekaman Negosiasi Aman Abdurrahman & Wakil Tahanan Mako Brimob
 

 -
 

 
 Rusuh Mako Brimob, Wiranto: Tidak Ada Negosiasi, Tapi Ultimatum
 Reporter: 
 Kartika Anggraeni Editor: 
 Arkhelaus Wisnu Triyogo 

 Kamis, 10 Mei 2018 10:44 WIB
 

 TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, 
Wiranto, memastikan tidak ada negosiasi yang dilakukan aparat keamanan kepada 
tahanan atau narapidana terorisme dalam kerusuhan di Markas Komando atau Mako 
Brimob, Kelapa Dua, Depok. Ia memastikan tahanan menyerah tanpa syarat.

 

 Wiranto menjelaskan pihaknya telah merencanakan penyerbuan untuk melumpuhkan 
aksi para narapidana dengan mengepung dan mengisolasi tahanan. "Maka aparat 
keamanan memberikan ultimatum, bukan negosiasi," ujar dia di Mako Brimob, 
Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat, Kamis, 10 Mei 2018.

 

 Wiranto menyatakan ultimatum tersebut sudah sesuai dengan Standar Prosedur 
Operasi. Aparat keamanan, kata dia, telah memberi batas waktu yang harus 
ditanggapi para tahanan.

 

 "Pagi ini batas waktu yang ditentukan, maka sebelum fajar, mereka menyerah 
tanpa syarat," ujar Wiranto.

 

 Saat memberikan keterangan resmi pemerintah di Mako Brimob, Depok, Jabar, 
Kamis pagi, Wiranto menjelaskan sebanyak 145 narapidana langsung menyerah tanpa 
syarat. "Sepuluh melawan," kata dia. Namun, sepuluh narapidana menyerah setelah 
petugas menyerbu.

 

 Hari ini, Wiranto memantau Mako Brimob pasca-kerusuhan pada Selasa malam, 8 
Mei 2018. Ia didampingi Wakil Kepala Kepolisian Komisaris Jenderal Syafruddin, 
Kepala Badan Intelijen Negara Jenderal Budi Gunawan, dan Kepala Badan Nasional 
Penanggulangan Terorisme Komisaris Jenderal Suhardi Alius.

 

 Wakil Kepala Kepolisian Komisaris Jenderal Syafruddin juga menegaskan tak ada 
negosiasi antara petugas keamanan dan narapidana. "Karena sudah menyerah, ini 
proses penanggulangan," ujar dia.

 

 Tiga tembakan pukul 07.15 menandai berakhirnya operasi menangani kerusuhan 
yang telah berlangsung selama 36 jam di Rumah Tahanan Salemba Cabang Mako 
Brimob, Kelapa Dua, Depok. "Tidak ada urusan kesepakatan ini," kata Syafruddin.
 














Kirim email ke