Rupiah Loyo, Sri Mulyani Sebut Gara-gara Kebijakan ‘Paman Sam’
SABTU, 12 MAY 2018 05:50 | EDITOR : ESTU SURYOWATI
 
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut depresiasi nilai tukar Rupiah 
terhadap dolar AS disebabkan kebijakan negeri Paman Sam. (Dok. JawaPos.com)


Berita Terkait
  a.. Malunya Menteri Keuangan Terbaik Dunia, Anak Buahnya Dicokok KPK
   
  b.. Rizal Ramli: Memang Situ (Menkeu) Pikirannya Luas?
   
  c.. RUU Konsultan Pajak, Misbakhun Minta Tak Khawatirkan Putusan 
MKJawaPos.com - Indonesia sudah masuk dalam lingkungan global. Oleh sebab itu, 
kebijakan apapun yang dilakukan oleh negara maju akan berimbas terhadap 
Indonesia, termasuk di bidang ekonomi.

Demikian pidato kunci Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam Dies Natalis 
ke-59 Universitas Tanjungpura (Untan), di Auditorium Untan, Pontianak, 
Kalimantan Barat (Kalbar), Jumat (11/5).

Salah satunya soal nilai tukar mata uang. Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia 
itu menuturkan, kebijakan Amerika Serikat (AS) telah menyebabkan nilai dolar AS 
(USD) terapresiasi. Apresiasi USD itu berdampak terhadap penurunan nilai tukar 
mata uang lain, termasuk Rupiah.

 
DIES NATALIS UNTAN. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memberikan pidato 
kunci dalam Dies Natalis ke-59 Untan, di Auditorium Untan, Pontianak, 
Kalimantan Barat, Jumat (11/5). (Nova Sari/Rakyat Kalba)



"Kenaikan dolar AS ini merupakan (imbas) kebijakan AS. Jadi, dampaknya kepada 
seluruh dunia," kata Sri Mulyani, dikutip dari Rakyat Kalbar (Jawa Pos Grup), 
Sabtu (12/5).

Nilai tukar Rupiah terhadap USD yang sudah mengintip angka psikologis 14.000 
pun terus menjadi perhatian pemerintah. Sri Mulyani menyampaikan, pemerintah 
melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementerian Keuangan, 
bersama Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pasti menjaga agar 
pengaruh eksternal tersebut tidak berdampak negatif terhadap ekonomi Indonesia.

Depresiasi nilai tukar Rupiah terhadap USD pastinya berpengaruh terhadap target 
pertumbuhan ekonomi tahun ini. Namun, dia memastikan pemerintah tetap fokus dan 
berhati-hati dalam penggunaan instrumen APBN.

"Ini untuk menjaga ekonomi Indonesia yang diperuntukkan pula bagi masyarakat 
Indonesia," katanya.

Pengelolaan APBN akan difokuskan untuk memperkuat sumber daya manusia, 
membangun infrastruktur, menurunkan angka kemiskinan, mengurangi kesenjangan, 
serta menciptakan birokrasi yang bersih dan efisien. "Ini agar Indonesia 
memiliki fondasi yang kuat dalam rangka menjaga pertumbuhan ekonomi," jelasnya..

Kendati target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen dirasa menjadi tantangan berat, 
namun dia berharap instrumen APBN bisa membantu mewujudkan target tersebut.

(jpg/est/JPC)




Kirim email ke