Bukan cuma dengan dollar AS, performa rupiah di hadapan mata uang lain juga 
meredup 
https://investasi.kontan.co.id/news/bukan-cuma-dengan-dollar-as-kurs-rupiah-terhadap-mata-uang-lain-juga-meredup
 
 Jumat, 11 Mei 2018 / 20:34 WIB
 

 
 
 ILUSTRASI. Rupiah
 

 KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika 
Serikat (AS) membuat pelaku pasar khawatir. Mata uang Garuda bahkan telah 
menyentuh level di atas Rp 14.000 per dollar AS. Jika dihitung sejak akhir 
tahun lalu hingga hari ini, Jumat (11/5), rupiah telah melemah 2,99%.
 

 
 Pelemahan nilai tukar rupiah rupanya bukan hanya terjadi terhadap dollar AS. 
Sepanjang tahun ini, nilai tukar rupiah juga masih melemah terhadap sejumlah 
mata uang asing lainnya. Ambil contoh, terhadap mata uang euro, rupiah mencatat 
pelemahan 2,55% secara year-to-date (ytd).
 

 Terhadap mata uang tetangga, dollar Singapura, rupiah juga melemah hingga 
3,05% ytd. Rupiah semakin tak berdaya saat berhadapan dengan mata uang yen, di 
mana pasangan JPY/IDR melemah 6,10% sepanjang tahun ini.
 

 Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail berpendapat, salah satu pemicu utama 
pelemahan rupiah terhadap sejumlah mata uang utama asing ialah transaksi 
berjalan yang masih defisit. "Sementara, negara tetangga seperti Singapura, 
Malaysia, dan Thailand, mencatat surplus pada transaksi berjalannya," ujar 
Mikail, Jumat (11/5).
 

 Adapun, hari ini, Bank Indonesia merilis defisit transaksi berjalan kuartal-I 
2018 sebesar US$ 5,5 miliar atau 2,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka 
ini lebih rendah dari kuartal sebelumnya dengan defisit sebesar US$ 6 miliar 
atau 2,3% dari PDB.
 

 Sementara, analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, menilai, pelemahan 
rupiah terhadap mata uang asing lain sangat bergantung pada posisi terhadap 
dollar AS yang belakangan memburuk. Secara fundamental, perekonomian AS masih 
diselimuti sentimen positif lantaran tingkat inflasi secara tahunan masih 
sesuai ekspektasi di level 2,5%. Tingkat pengangguran AS pada April lalu juga 
turun menjadi 3,9% setelah enam bulan berturut-turut di level 4,1%.
 

 "Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal pertama hanya 5,06%, 
lebih rendah dari ekspektasi pasar 5,2%. Cadangan devisa bulan lalu juga makin 
berkurang menjadi US$ 124 miliar, salah satunya karena digunakan untuk menahan 
pelemahan rupiah," papar Reny, Jumat (11/5).
 

 Analis Asia Tradepoint Futures Andri Hardianto, menambahkan, rupiah kian 
terpuruk akibat dominasi investor asing pada pasar keuangan dalam negeri. Dana 
asing yang keluar dari pasar Indonesia ke pasar AS sepanjang tahun ini memberi 
tekanan besar pada performa rupiah.
 

 Selain itu, Andri melihat, saat ini pelaku pasar juga tengah dilanda 
kekhawatiran terhadap disiplin fiskal Indonesia. "Pembangungan infrastruktur 
yang giat menambah rasio utang. Memang rasio terhadap PDB saat ini masih di 
bawah 30%, tapi terus meningkat dan membuat pasar waspada," tutur Andri, Jumat 
(11/5).
 

 Reny mengamini, kondisi pelemahan rupiah sangat dipengaruhi oleh appetite 
investor yang menurutnya sulit dikendalikan. Apalagi, pasar saham maupun 
obligasi Indonesia masih lebih banyak dikuasai asing. Namun, ia menilai, bukan 
tak mungkin posisi rupiah bisa berbalik menguat terhadap mata uang asing.
 

 
 "Sebab itu, saat ini penting bagi Bank Indonesia untuk memberi trigger pada 
investor agar mau masuk kembali. Salah satunya dengan menaikkan suku bunga 
acuan," pungkasnya.
 

Kirim email ke