----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 13 Mei 2018 02.45.55 GMT+2Judul:
[GELORA45] 20 Tahun Reformasi: Halte 12 Mei Pengingat Tragedi Trisakti
20 Tahun Reformasi: Halte 12 Mei Pengingat Tragedi Trisakti
Reporter:
Fajar Pebrianto
Editor:
Jobpie Sugiharto
Sabtu, 12 Mei 2018 08:00 WIB
Halte Bus Transjakarta Grogol 1 atau biasa disebut Halte 12 Mei Reformasi di
Jalan Kyai Tapa, depan Kampus Universitas Trisakti, Jakarta Barat, pada Selasa,
1 Mei 2018. FOTO: Tempo/Fajar Pebrianto
TEMPO.CO, Jakarta - Halte Bus Transjakarta 12 Mei Reformasi adalah satu-satunya
halte yang didedikasikan untuk mengenang 20 Tahun Reformasi dan Tragedi
Trisakti pada 1998.
Halte ini persis di depan Universitas Trisakti, Jalan Kiai Tapa Nomor 1,
Kelurahan Tomang, Kecamatan Grogol Petamburan, Jakarta Barat. Di halaman kampus
swasta ini empat mahasiswa yang tewas ditembak paad 12 Mei 1998, sembilan hari
menjelang kejatuhan Presiden Soeharto.
Mereka baru 2-3 tahun kuliah di Trisakti ketika ajal menjemput. Para mahasiswa
yang gugur itu adalah Elang Mulia Lesmana (kelahiran 5 Juli 1978), Hafidhin
Royan (28 September 1976), Hendriawan Sie (3 Mei 1978), serta Heri Hartanto (5
Februari 1977).
Baca: Trisakti Bangun Monumen Reformasi 1998 di Grogol
Halte 12 Mei Reformasi sekaligus menjadi nama dua halte yang menempel, yakni
Halte Grogol 1 dan Halte Grogol 2. Atas usulan Universitas Trisakti namanya
diubah menjadi Halte Grogol 1-12 Mei Reformasi dan Halte Grogol 2-12 Mei
Reformasi per 10 November 2013. Sampai saat ini, civitas akademisi Trisakti
masih menanggap nama baru halte itu masih sangat penting.
Suasanan disekitaran Halte Trasjakarta Grogol 2 12 Mei Reformasi di Grogol,
Jakarta, 10 Mei 2018. TEMPO/Muhammad Hidayat
"Kenapa penting? supaya publik ingat peristiwa 12 Mei itu bersejarah," kata
Dosen Kebijakan Publik Trubus Rahardiansyah kepada Tempo di Kampus Universitas
Trisakti pada Selasa, 8 Mei 2018. "Empat mahasiswa gugur sebagai martir."
Insiden yang terjadi 20 tahun lalu itu bermula saat mahasiswa Trisakti
mengadakan demonstrasi di depan kampus mereka. Aksi berjalan lancar sampai ada
tembakan dari aparat bersenjata ke arah kampus. Empat mahasiswa pun tewas
seketika ditembus timah panas aparat.
Kejadian itu pun langsung menyulut protes yang meluas kepada pemerintah.
Demonstrasi di sekujur Indonesia, terutama di Jakarta. Puncaknya, 21 Mei 1998,
Soeharto menyatakan lengser dari kursi Presiden yang dia duduki selama 32 tahun.
Menurut Trubus, insiden kekerasan dan aksi mahasiswa terjadi pula pada masa itu
di Kampus Universitas Atmajaya Jakarta, Universitas Indonesia, dan beberapa
kampus lain di Yogyakarta. Tapi, penembakan di Trisakti menjadi pemicu protes
yang lebih keras. "Karena pemantiknya (kejatuhan Soeharto) dari sini."
Itu sebabnya, nama Halte 12 Mei Reformasi penting sebagai penghormatan kepada
sejarah dan perjuangan masyarakat, terutama mahasiswa dalam peristiwa Tragedi
Trisakti.
Vito Harefa, Wakil Presiden Mahasiswa Universitas Trisakti, menganggap Halte 12
Mei Reformasi menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, terutama generasi
milenial seperti dirinya yang tak mengalami peristiwa Refomasi 1998.
"Empat abang-abang kami jadi korban kejadian 12 Mei itu," ujar mahasiswa
kelahiran 1996 ini.
Melihat Halte 12 Mei Reformasi di trotoar depan kampusnya, Vito merasa seolah
melihat kembali perjuangan mahasiswa pada 1998 yang harus ditebus dengan nyawa.
Peristiwa semacam ini tak terbayang di benak generasi terkini yang lahir
setelah kritis tersebut.
"(Halte) Ini sebagai trigger agar semangat reformasi itu tidak pernah hilang,"
kata Vito menanggapi 20 Tahun Reformasi dan Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998.