Keluarga terduga teroris gemparkan Surabaya
 Senin, 14 Mei 2018 04:48 WIB
 
Walikota Surabaya Tri Rismaharini (tengah) meninjau di lokasi ledakan di Gereja 
Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel Madya, Surabaya, Jawa Timur, Minggu 
(13/5/2018). Korban meninggal dunia sebanyak 11 orang dan 41 orang korban 
luka-luka akibat ledakan di tiga lokasi gereja pada waktu yang hampir bersamaan 
di Surabaya. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

Kok sekarang kita tega. Apa yang ciptakan agama kita, Tuhan yang ciptakan 
semua."
Surabaya (ANTARA News) - Salah seorang pemilik rumah makan Bebek Alas Daun di 
Wonorejo Asri, Kecamatan Rungkut, Kota Surabaya Armuji mengaku terkejut pada 
saat petugas kepolisian meminta rekaman CCTV di rumah makannya pada Minggu 
(13/5) malam.

Armuji sempat menanyakan kepada petugas kepolisian untuk apa rekamanan CCTV 
tersebut. Petugas pun memberi tahu bahwa rekaman CCTV tersebut untuk 
penyelidikan keluarga yang diduga pelaku kasus peledakan bom bunuh diri di tiga 
geraja di Kota Surabaya yang menewaskan 13 orang dan melukai 43 orang pada 
Minggu (13/5) pagi.

Tiga geraja tersebut adalah Gereja GKI Jalan Diponegoro Surabaya dan Gereja 
Pantekosta Jalan Arjuno Surabaya serta Gereja Santa Maria Tak Bercela, Jalan 
Ngagel Madya Surabaya.

Kebetulan rumah makan milik Armuji tersebut letaknya tidak jauh dengan rumah 
milik keluarga terduga pelaku pengeboman tiga gereja yang berada di Wonorejo 
Asri Blok K/22A.

Satu keluarga tersebut adalah pasangan suami istri yakni Dita Oepriarto dan 
Puji Kuswanti serta empat anaknya yang terdiri dari dua laki-laki dan dua 
perempuan. Empat anak Dita masih bersekolah, satu masih di jenjang SMA, satu 
SMP, dan dua jenjang SD.

"Saya kaget dan tidak mengira kalau punya tetangga pelaku pengeboman," kata 
Armuji yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Surabaya ini.

Armuji pun memberikan rekaman CCTV yang ada di rumah makannya untuk mempermudah 
proses penyelidikan petugas kepolisian setempat. Meski dirinya, tidak tiap hari 
ke rumah makannya, namun Armuji biasanya bertegur sapa dengan para tetangganya.

Ia tidak mengira Dita yang sebelumnya dikenal sebagai sosok santun dan ramah 
pada warga itu menjadi pelaku pengeboman. Dilihat dari cara berpakaiannya biasa 
dan tidak ada yang mencurigakan kalau Dita merupakan pelaku pengeboman.

Bahkan Dita terlihat bersama kedua anak lelakinya sering berboncengan naik 
motor menuju ke musalah untuk sholat berjamah. Meski demikian, sosok Dita yang 
diketahui bekerja sebagai distributor obat herbal ini diketahui tidak banyak 
bicara dan bersosialisasi dengan warga semenjak dua tahun terakhir. Padahal 
tiga tahun yang lalu Dita pernah menjadi Ketua Sub RT 2/RW 3 Kelurahan Wonorejo.

Begitu juga dengan sosok istri Dita yang tidak terlihat mencurigakan. Selain 
tidak memakai cadar, istri Dita jarang keluar rumah. Hanya saja yang sering 
keluar rumah adalah anak-anaknya untuk bermain.

"Kata tetangga lainnya, sering ada tamu di rumah Dita. Namun tetangga tidak 
terlalu memperhatikannya," katanya.

Selama ini Dita tidak pernah membuat permasalahan serius dengan warga setempat. 
Hanya saja Dita sendiri sempat mendapat protes dari warga karena pernah 
membuang limbahnya dari hasil usahanya pembuatan minyak kemiri dibuang di 
saluran air.

Namun warga setempat dibuat kaget ketika mengetahui tim Densus 88 menemukan 3 
paket bom rakitan siap ledak di rumah Dita. Hasil penelusuran kepolisian, Dita 
diketahui adalah Ketua sel Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Surabaya.

Dita diduga mengajak semua keluarganya melakukan aksi bom bunuh diri di tiga 
gereja di Surabaya. Dita sendiri diduga meledakkan diri di Gereja Pantekosta 
Jalan Arjuno Surabaya menggunakan mobil miliknya.

Sedangkan Puji Kuswanti, istrinya dan dua anak perempuannya diduga meledakkan 
diri di Gereja GKI Jalan Diponegoro. Sementara dua anak Dita yang lain yang 
masih belum teridentifikasi diduga meledakkan diri menggunakanan motor di 
Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Surabaya.

Mendapati hal itu, petugas kepolisian menemukan tiga bom high explosive saat 
melakukan penggeledahan di rumah terduga pengebom gereja di Surabaya, di 
Perumahan Wonorejo Asri Blok K/22A, Rungkut, Surabaya.

Kapolrestabes Surabaya, Kombes Rudi Setiawan mengatakan tiga bom tersebut 
langsung diledakkan tim penjinak bom di rumah pelaku pengeboman. Dari tim olah 
TKP, bom tersebut sebelum diledakkan sempat dirakit di rumah tersebut.

"Selain menemukan bom, kami juga menemukan sejumlah barang lain. Semuanya 
sedang diteliti," ujarnya.

Menurut dia, rumah itu berantakan dan di bagian belakang terdapat anak panah 
dan busurnya yang menancap di papan target. Selain itu, ada juga beberapa 
dokumen, buku dan beberapa tulisan yang terlihat berserakan..

Hasil temuan pihak kepolisian lainnya dari penggeledaan di rumah Dita yakni 
sejumlah foto keluarga Dita, styrofoam yang diduga untuk mempercepat pembakaran 
saat bom diledakkan serta beberapa dokumen.

"Ada beberapa buku, ada beberapa tulisan, ada beberapa pesan sedang kita 
kumpulkan," katanya.


Surabaya Berduka

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak mengira jika ada kejadian peledakan 
bom di tiga gereja di Surabaya yang menyebabkan 13 korban meninggal dunia dan 
puluhan warga lainnya luka luka.

Hal ini disampaikan Risma saat ikut bersama Kapolrestabes Surabaya mengunjungi 
lokasi rumah pelaku pengeboman di Wonorejo Asri.

Selama ini, Risma selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk warga Surabaya. 
Bahkan usaha yang dilakukan bersama jajaran hingga tingkat kelurahan.

Risma mengaku selama ini melayani masyarakat Surabaya dengan baik. Bahkan 
sejumlah pengaduan warga baik berupa jalan rusak, banjir, persoalan sekolah 
selalu dicarikan solusi.

"Tapi kalau ada kejadian seperti ini membuat saya sedih dan menyakitkan," 
katanya.

Menurut Risma, aksi pengeboman yang dilakukan satu keluarga tersebut menyalahi 
ajaran Islam. Dalam kitab suci Al Quran, lanjut dia, jangankan membunuh orang, 
membunuh binatang, pohon itu saja tidak boleh.

"Kok sekarang kita tega. Apa yang ciptakan agama kita, Tuhan yang ciptakan 
semua," katanya.

Risma mengungkapkan kesedihan mendalam atas pengebom yang terjadi di Kota 
Pahlawan. Hal ini dikarenakan Risma mengatakan pihaknya sudah memberikan semua 
yang terbaik kepada warga Surabaya.

Bahkan Risma tidak ingin orang Surabaya kelaparan, kebanjiran dan mengalami 
macet. Tapi kemudian semua itu dirusak oleh orang yang mengaku paling benar.

"Saya sudah melakukan segitu banyak tapi saya tidak merasa paling banar," 
katanya.


Pendukung ISIS

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian mengatakan pelaku pengeboman tiga gereja 
di Surabaya terkait dengan kelompok pendukung utama teroris ISIS. Kelompok ini 
tidak lepas dari kelompok bernama JAD-JAT, Jamaah Ansharut Daulah-Jamaah 
Ansharut Tauhid yang merupakan pendukung utama ISIS.

Di Indonesia, kata Tito, JAD ini didirikan oleh Aman Abdurahman yang sekarang 
ditahan di Mako Brimob. Pelaku pengeboman yang merupakan satu keluarga ini 
terkait dengan sel JAD yang ada di Surabaya, bahkan Dita tercatat adalah ketua 
dari kelompok tersebut.

"Kemudian aksi ini kita duga motifnya, pertama adalah di tingkat internasional 
ISIS ini ditekan oleh kekuatan-kekuatan, baik dari Barat, Amerika dan 
lain-lain," katanya.

Jadi dalam keadaan terpojok, memerintahkan semua jaringannya di luar, termasuk 
yang sudah kembali ke Indonesia untuk melakukan serangan. "Termasuk di London, 
juga ada peristiwa, terorisme dengan menggunakan pisau di sana," katanya.

Tito menambahkan di Indonesia, ada dua macam kelompok terkait ISIS yang menjadi 
ancaman, yakni JAT dan JAD yang sel-selnya ada di beberapa tempat, serta mereka 
yang kembali berangkat ke Suriah dan kembali ke Indonesia atau tertangkap 
otoritas di Turki atau Yordania dan kembali ke Indoensia.

Menurut dia, jumlah yang sudah berangkat ke Suriah tercatat lebih dari 1.100 
orang dengan 500 di antaranya masih di Suriah, 103 meninggal dunia di Suriah, 
dan sisanya dideportasi kembali ke Indonesia.

"Itu jadi tantangan kita karena mindset mereka ideologinya ISIS," katanya. 
Pewarta: Abdul Hakim
Editor: Kunto Wibisono

Kirim email ke