Apa kalian masih butuh advis? Ya enggaklah, itu yang kalian lakukan selama ini; menjadi teroris dengan pakaian Al Qaeda & ISIS.
Memberi advis kepada imperialis biang teroris itu kan sama saja menggarami laut. Ya nggak? --- jonathangoeij@... wrote: Apakah anda memberi advice "menyamar dengan mengenakan pakaian orang lain, biarawati atau pastor misalnya"? Dari cerita kelihatannya Ibu Valina mengenakan pakaian sjar'i "Saat itu Valina mengenakan pakaian dan kerudung panjang berwarna biru dongker" dan membawa tas ransel besar "Saya memang memakai tas ransel besar warna ungu gelap dan tas jinjing berwarna hitam" Saya kira kemungkinan besar sopir angkot yang meminta Valina turun ataupun situkang bakso juga beragama Islam, setelah peristiwa bom bunuh diri itu merupakan hal yang logis dan manusiawi si sopir angkot mengambil tindakan preventif selain tidak mau dirinya sendiri ikut jadi korban juga para penumpang semuanya. Ataukah di angkot sebaiknya dipasang metal detector? --- ajegilelu@... wrote : Kirain mau meralat ucapan selamat jalan untuk Jokowi. Berharap semoga kekejaman teroris tidak ditambah keculasan menyamar dengan mengenakan pakaian orang lain, biarawati atau pastor misalnya. Menjijikan betul keculasan kelas mental imperialis pengecut yang bengak-bengok war on terror padahal dia juga yang menciptakan realita palsu dengan memelihara Al Qaeda & ISIS. --- noroyono1963@... wrote: RALAT Di postingan yg lalu, di alinea pertama, baris pertama, tertulis: "Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaanya saya adalah: Dibawah situas ...... " Seharusnya: "Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaan saya adalah: Dibawah situas ...... " Op dinsdag 15 mei 2018 16:38:33 CEST schreef Noroyono 1963 :Renungan/Komentar Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaanya saya adalah: Dibawah situasi sosial-politik saat ini, adakah orang yg bisa jamin bahwa dibalik cadar dan jubah (jilbab) yg dikenakan Ibu Valina (yg saya hormati) tidak ada sesuatu yg membahayakan keselamatan umum? Jika jawabannya, "Ada", jawaban demikian tak ayal lagi adalah dipaksakan. Merujuk kepada situasi sosial-politiki saat ini, jawaban seperti itu tidak punya dasar yg cukup kuat untuk diyakini kebenarannya. Jika jawabannya, "Tidak ada", jawaban demikian adalah jawaban yg sangat realistis, mengingat situasi sosial-politik saat ini. Menggeneralisasi suatu hal-ihwal tanpa seperangkat data-data yg konkrit memang harus dipantangkan. Tapi menganggap peristiwa seorang ibu dengan membawa anaknya sendiri melakukan jibaku dengan bom-bunuh-diri di Surabaya satu/dua hari yg lalu sebagai sesuatu yg tidak ada, sebagai sebuah benda maya -- saya kira anggapan seperti itu benar-benar suatu kenaifan besar, sesuatu yg tidak sesuai dengan realitas! Ibu Valina, sesuai dengan HAM, sesuai dengan keyakinannya, memang berhak mengenakan busana, inklusif cadar dan hijab, yg beliau sukai. Namun dalam pada itu, MASYARAKAT -- yg notabene sudah sangat sibuk dengan berbagai tantangan kehidupan sehari-hari -- juga berhak sepenuhnya untuk mengambil berbagai tidakan demi mempertahankan diri dari serangan mendadak yg sangat biadab. Ketika awan hitam pekat sudah merata di langit, adalah bijak apabila orang "sedia payung sebelum hujan". Tidak ada seorangpun, yg sedikit saja punya pendidikan, tidak mengenal peribahasa ini. Kalau begitu siapa yg harus dipersalahkan? Kelompok tertentu politisi konvensional, kelompok politisi yg berjubah "ulama" dan kelompok spekulan politik -- inilah orang-orang yg secara langsung atau tidak langsung telah mengondisikan situasi dan kondisi di hadapan kita saat ini, dan oleh karena itu orang-orang inilah yg harus bertanggung jawab atas sikon tsb. Pertanyaan mendasar kepada Jokowi sekarang adalah: - Berani tidak dia menerbitkan Perppu (Peraturan Pmerintah Pangganti Undang-Undang) yg memuat secara rinci, konkrit pasal-pasal yg akan menindak tegas siapa saja yg berani melakukan tindakan dalam bentuk apapun yg bersifat melawan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika (Keberagaman) dan NKRI? - Berani tidak dia secara konsisten menindak segala sumber kesenjangan sosial? Pada hemat saya, situasi-kondisi yg kita hadapi sekarang ini terbentuk oleh dua faktor utama: - Pertama, pembiaran sejauh ini berbagai aktivitas (yg sering-sering tersamar) anti Pancasila-Keberagaman-NKRI. - Kedua, kekurang-tegasan dalam menindak berbagai sumber kesenjangan sosial. Kalau apa yg akan Jokowi lakukan hanya sebatas pada bengak-bengok saja, ya saya paling-paling hanya bisa mengucapakan: Selamat jalan ke neraka Pak Jokowi! Noroyono15/05/2018 ---------------------------------------------------------- Cerita Valina Diusir dari Angkot Karena Berpakaian Syar'í kumparanNEWSSelasa 15 Mei 2018 - 13:23Ilustrasi cadar. (Foto: Thinkstock)
