Pemerintah menganggarkan 20% dari APBN untuk pendidikan, tetapi yg dimaksud 
pendidikan dalam hal ini ternyata bukan hanya pendidikan formal seperti SD, 
SMP, SMA, dan Universitas saja tetapi meliputi juga pendidikan agama. Belum 
lagi budget untuk kegiatan agama itu sendiri. Dus tidak mengherankan anggaran 
kementrian agama lebih besar dari kementrian pendidikan.
Yang menjadi pertanyaan besar adalah, apakah dana untuk pengajian radikal 
seperti yg diceritakan diberita juga datang dari anggaran pemerintah (baik 
pusat ataupun daerah)? Seandainya ya, bukankah artinya negara turut andil dalam 
menciptakan teroris.
---

Bom Surabaya: 'Saya tidak terlalu kaget Dita meledakkan diri bersama 
keluarganya'


| 
| 
| 
|  |  |

 |

 |
| 
|  | 
Bom Surabaya: 'Saya tidak terlalu kaget Dita meledakkan diri bersama kel...

Serangkaian aksi bom bunuh diri di Surabaya mendorong sejumlah pengguna media 
sosial membagikan pengalaman ketik...
 |

 |

 |



Heyder AffanBBC News Indonesia   
   - 1 jam lalu


Hak atas fotoANTARA FOTO/M N KANWAImage captionWarga dari berbagai elemen di 
Kota Batam, Kepulauan Riau, melakukan aksi solidaritas menolak radikalisme dan 
terorisme, Minggu (13/05) malam.
Serangkaian aksi bom bunuh diri di Surabaya mendorong sejumlah pengguna media 
sosial membagikan pengalaman ketika berhasil menolak bujukan untuk bergabung 
kelompok Islam radikal.

Kesaksian mereka ini menarik perhatian pengguna sosial lainnya dan melahirkan 
gelombang kesaksian serupa di media sosial seperti Facebook.

Salah-seorang yang membagikan kesaksiannya di Facebook adalah Ahmad Faiz 
Zainuddin, pria asal Surabaya kelahiran 1977.
   
   - Tagar #TerorismeBukanIslam dan perdebatannya: Benarkah terorisme tak 
terkait agama?
   - Terduga teroris yang tewas di Manukan adalah adik kandung pelaku di 
Sidoarjo
   - Bagaimana para perempuan menjadi pelaku teror dan membawa anak?

Saat duduk di bangku SMA Negeri 5 Surabaya, Faiz mengaku kenal dengan Dita 
-tersangka pelaku bom bunuh diri bersama istri dan anak-anaknya di tiga gereja 
di Surabaya- dalam acara pengajian keislaman.

"Orangnya halus, enggak kasar, bahkan kawan-kawan saya bilang, lalat saja dia 
enggak akan membunuh," Faiz kepada BBC Indonesia, mencoba menggambarkan sosok 
Dita, kakak kelasnya, yang dikenalnya 25 tahun silam dalam sebuah acara 
pengajian.

"Tapi senior saya itu rupanya berevolusi..."

Ahmad Faiz mengaku, saat itu, tertarik mengikuti berbagai diskusi keislaman 
karena ingin "menyelami" berbagai "pemikiran dan suasana batin" aktivitas 
tersebut.
Hak atas fotoAHMAD FAIZ ZAINUDDIN/FACEBOOKImage captionSemenjak SMA hingga 
kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, Ahmad Faiz mengaku mengikuti 
berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam "dari yang paling radikal sampai 
liberal, dari Sunni, Sufi, Wahabi, Syiah, hingga Negara Islam Indonesia."
Semenjak SMA hingga kuliah di Universitas Airlangga, Surabaya, dia mengaku 
mengikuti berbagai versi pemikiran dan aktivis Islam "dari yang paling radikal 
sampai liberal, dari Sunni, Sufi, Wahabi, Syiah, hingga Negara Islam Indonesia."

Tetapi, "Dan dari semua versi tadi, yang paling saya khawatirkan adalah versi 
kakak kelas saya, almarhum Dita."

"Saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri 
bersama keluarganya sebagai puncak 'jihad' dia, karena benih-benih ekstremisme 
itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu," tulisnya dalam akun Facebooknya.

Awal kenal Dita

Perkenalannya dengan Dita diawali keikutsertaannya dalam pengajian di SMA 
Negeri 5, Surabaya, yaitu kegiatan rohani Islam atau disingkat rois.
Hak atas fotoANTARA/HUMAS PEMKOT-ANDY PINARIAImage captionSejumlah sepeda motor 
terbakar sesaat setelah terjadi ledakan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya 
(GPPS), Surabaya, Jawa Timur, Minggu (13/05).
Saat itu, Dita sudah lulus dari sekolah tersebut, tetapi masih aktif di 
kegiatan rois tersebut. "Dia termasuk senior. Dia sudah lulus, tapi masih aktif 
sebagai pengkader."

Menurutnya, kegiatan rois itu tidak melulu dihadiri sebagian siswa SMAN 5, 
tetapi juga dihadiri sebagian siswa dari SMA lain di kota itu.

'Dirahasiakan acaranya'

Faiz kemudian mencoba mengingat lagi kegiatan dan materi yang diperolehnya 
selama aktif di kegiatan seperti itu.

"Kita dibawa keluar (sekolah). Kemudian cukup dirahasiakan (acaranya). Kita itu 
enggak begitu tahu namanya apa, tempatnya di mana kita agak samar," ungkapnya 
kepada BBC Indonesia.

Pada pengajian yang lain, yaitu kelompok Negara Islam Indonesia (NII), Faiz 
mengaku pernah ditutup matanya ketika menuju lokasi pelatihan.
Hak atas fotoANTARA/M RISYAL HIDAYATImage captionKapolrestabes Surabaya Kombes 
Pol Rudi Setiawan menunjukkan foto keluarga Dita saat penggerebekan rumah 
terduga teroris di kawasan Wonorejo Asri, Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, Minggu 
(13/05).
"Sesampai di sana ternyata peserta pengajian di-brainwash (cuci otak) tentang 
pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan untuk menegakkan ini kita 
perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari 
orang tua kita untuk disetor ke mereka," ungkapnya melalui Facebook.

Diajak 'perang-perangan'

Seraya tertawa, Faiz mengingat lagi kegiatan "perang-perangan" yang diikutinya 
saat melakukan lawatan ke luar kota.

"Lucu ini, topik awalnya kita rekreasi, lalu sampai diajak perang-perangan. 
Renungan malam, sampai diajak menangis untuk memperjuangkan Islam garis keras."

Seingatnya, saat latihan perang-perangan digelar, dunia internasional 
dikejutkan invasi AS ke Irak dan kecamuk di Balkan akibat perang etnis.

"Itu video diputar di sekolah-sekolah, di masjid-masjid tentang pembantaian 
orang Islam di Bosnia. Makin menggelegak darah kita."

Di komunitas itu kemudian beredar majalah yang menggambarkan "kekerasan" di 
wilayah konflik tersebut.
Hak atas fotoANTARA/UMARUL FARUQImage captionPetugas kepolisian berjaga di 
sekitar lokasi ledakan di Rusunawa Wonocolo, Taman Sepanjang, Sidoarjo, Jawa 
Timur, Minggu (13/05) malam.
"Dan ditampilkan foto anak-anak yang berdarah-darah dan video-video yang ngeri, 
kemudian malam hari diajak sampai terharu, dan hati kita disayat-sayat, sudah 
masuk indoktrinasinya," Faiz mengenang apa yang terjadi saat itu.

Namun demikian, dalam perjalanannya, Faiz kemudian memutuskan meninggalkan 
pengajian "radikal" seperti itu karena merasa "tidak nyaman".

"Beberapa kali pengajian, kok sangat ekstrem (pemikirannya), lalu saya 
tinggalkan, saya keluar," akunya.

Alasan ini pula yang membuat dia meninggalkan aktivitas rois di sekolahnya yang 
dipimpin Dita.

Benih-benih ekstremisme

Dalam bagian lain tulisannya, Faiz kemudian menulis: "Yang ingin saya katakan, 
terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari 
benih-benih ekstremisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun yang 
lalu di sekolah-sekolah dan kampus-kampus."
Hak atas fotoREUTERSImage captionSejumlah anggota kepolisian mengevakuasi 
rongsokan sepeda motor yang terbakar akibat ledakan bom di depan gereja 
Pantekosta, Minggu (13/05).
Menurutnya, semua pihak kini harus menetralisir "kegilaan" ini sampai ke 
akar-akarnya.

"Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman 
rekayasa, pelakunya ndak paham Islam, ini bukan bagian dari ajaran Islam, ini 
pasti cuman adu domba, dan lain-lain."

"Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yang terjadi nun jauh 
di negeri seberang. Ini sudah terjadi di sini dan saat ini disekitar kita," 
tegas Faiz yang kini memimpin lembaga training psikologi, SEFT, di Jakarta.

Di akhir tulisannya, Faiz kemudian memberikan solusi, antara lain, SMA dan 
kampus-kampus harus disterilkan dari gerakann bawah tanah Islam garis keras..

Diganti dengan "kemeriahan dan kegembiraan aktivitas Islam" yang menebarkan 
cinta dan welas asih kepada sesama manusia.

Apa komentar pengamat?

Pengamat masalah terorisme dan pimpinan yayasan Prasasti yang membina para 
bekas napi teroris , Nur Huda menyambut positif langkah anggota masyarakat yang 
membagikan pengalamannya yang berhasil menolak bujukan untuk bergabung kelompok 
Islam radikal.

"Artinya kebangkitan civil society untuk melawan terorisme secara nyata," kata 
Nur Huda kepada BBC Indonesia, Selasa (14/05) sore.
Hak atas fotoANTARA/MAULANA SURYAImage captionWarga menyalakan lilin dan berdoa 
bersama untuk korban bom gereja di Surabaya dalam aksi solidaritas di Solo, 
Jawa Tengah, Minggu (13/05).
Menurutnya, kekuatan terbaik dari gerakan melawan terorisme adalah yang muncul 
dari orang-orang yang pernah 'bergabung' di dalamnya.

"Dan dari kesaksian ini, kita jadi tahu bahwa proses radikalisasi itu ternyata 
proses yang super lama. Apa yang kita lihat itu puncak gunung es saja," kata 
Nur Huda. "Tapi akarnya itu banyak."

Itulah sebabnya, jika perlawanan terhadap terorisme itu hanya mengandalkan 
negara semata, itu akan sulit untuk menyelesaikannya.

"Nah, gerakan civil society seperti ini (melalui kesaksian orang-orang yang 
pernah bergabung kelompok radikal), enggak perlu negara turun tangan juga," 
ujarnya saat ditanya apakah pemerintah perlu menindaklanjuti gerakan ini.

"Nanti kalau negara turun tangan langsung, malah gerakan ini kehilangan 
kredibilitasnya," anggap Nur Nuda.

"Jadi biarkan kegiatan ini yang organik."



Kirim email ke