----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Rabu, 16 Mei 2018 03.39.03 GMT+2Judul: Re: 
Fw: [GELORA45] JK: Surga Tak Mungkin Didapat dengan Membunuh Orang Tak Bersalah
     

sebab selama ini cuma minoritas yang mampus dibom. Sekarang pemerintah baru 
pada kebakaran jenggot karena aparat yang kena. Coba ga ada peristiwa mako 
brimob, akan berlalu seperti kafilah yang digonggongi anjing.
Jokowi juga sama.  takut menindak teroris karena  terorisnya mayoritas islam. 
takut tidak mendulang suara di pemilu. yang mati minoritas ini..


---In [email protected], <SADAR@...> wrote :

 Yang menjadi masalah, ... kenapa begitu banyak umat Islam, bahkan cenderung 
makin banyak, dengan teguh berkeyakinan “membunuh kafir bisa naik Surga!” 
Nampak adanya beda TAFSIR kaidah Alquran dan selama ini TIDAK pernah 
dijernihkan, ...! Sedang kekuatan Islam yang damai dan bersahabat kurang keras 
dan TEGAS mengutuk aksi terorisme yang terjadi berulangkali didunia ini, dan, 
... pemerintah yang berkuasa juga kurang cekatan dan sigap menindak kegiatan 
teroris, selalu kecolongan saja! Atau memang ada kekuatan-kekuatan dalam 
pemerintah yang mendukung terorisme, ...!   From: 'j.gedearka' j.gedearka@... 
[GELORA45] Sent: Wednesday, May 16, 2018 2:32 AM  


 

https://nasional.tempo.co/read/1089315/jk-surga-tak-mungkin-didapat-dengan-membunuh-orang-tak-bersalah


JK: Surga Tak Mungkin Didapat dengan 


Membunuh Orang Tak Bersalah 
Reporter: 
Alfan Hilmi
Editor: 
Kukuh S. Wibowo
Selasa, 15 Mei 2018 21:44 WIB   
Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam sesi wawancara mingguan dengan awak media di 
Kantor Wakil Presiden, Jakarta, 24 April 2018. TEMPO/Ahmad Faiz
 
TEMPO.CO, Jakarta  - Wakil Presiden Jusuf Kalla atau JK prihatin dilibatkannya 
anak-anak dalam aksi teror bom di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur. “Bagaimana 
hebatnya cuci otak ini yang merusak seluruh bangsa. Kita berduka untuk korban,” 
kata JK di Hotel Atlet Century Park, Jakarta Pusat, Selasa, 15 Mei 2018.

Ledakan bom terjadi pada Ahad 13 Mei 2018 dan Senin 14 Mei 2018 di dua kota di 
Jawa Timur yaitu Surabaya dan Sidoarjo. Ledakan bom pertama terjadi pada Ahad 
pagi di Surabaya, yaitu di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Gereja 
Kristen Indonesia, dan Gereja Pantekosta. Bom tersebut dilakukan oleh satu 
keluarga yang terdiri suami, istri dan empat orang anak berusia 9 hingga 12 
tahun.

Baca: Aisyiyah Sesalkan Keterlibatan Perempuan dalam Bom di Surabaya

Keesokan harinya pada Senin pagi, bom bunuh diri dengan mengendarai sepeda 
motor terjadi di gerbang Mapolrestabes Surabaya. Pelaku bom tersebut terdiri 
dari lima orang, salah satunya anak perempuan berusia 8 tahun. Untungnya anak 
perempuan tersebut selamat meskipun sempat terpental ketika bom meledak.

JK mengatakan tidak ada ganjaran surga bagi mereka yang melakukan aksi bom 
bunuh diri. Surga, kata JK, tidak mungkin didapat dengan membunuh orang-orang 
tidak bersalah. “Balasannya pasti setimpal. Pasti ujung-ujungnya mereka masuk 
neraka,” kata dia.

Simak: Pelaku bom bunuh diri diduga sekeluarga, korban tewas 13 orang

JK mengajak masyarakat mendoakan para korban yang meninggal dan luka dalam 
kejadian bom kemarin. Menurut JK kejadian bom di Surabaya menjadi pelajaran 
bagi pemerintah dan aparat untuk lebih baik lagi dalam mencegah terorisme di 
Indonesia.

Ia mengajak masyarakat ikut mengawasi lingkungan sekitar apabila ada indikasi 
yang mengarah kepada tindakan terorisme. “Ini menjadi mata dan telinga bagi 
pemerintah agar tidak terjadi hal-hal seperti itu,” tutur JK .






    

Kirim email ke