bukankah sudah ditulis lengkap seperti keinginan anda, kok masih dibilang 
memlintir dan memfitnah segala

---In [email protected], <ajegilelu@...> wrote :

 Hebat. 

 Anda memang tidak punya malu dan rasa bersalah 

 sering memelintir dan memfitnah begini.

 --- jonathangoeij@... wrote:
 
 


 
   kalau begitu ditulis lengkap:
 

 apakah anda memberi advice atau memberi ide/ilham pada para teroris bunuh diri 
itu untuk "Berharap semoga kekejaman teroris tidak ditambah keculasan menyamar 
dengan mengenakan pakaian orang lain, biarawati atau pastor misalnya"?
 

 tapi diatas sudahlah, saya tahu anda tdk bermaksud menyuruh teroris menyamar 
jadi biarawati atau pastor, anda justru "berharap tidak menyamar" walaupun bila 
sebelumnya para teroris tidak berpikir atau punya ide menyamar sekarang jadi 
teringat dan tahu bisa menyamar jadi biarawati atau pastor. 
 

 apa anda punya solusi apa yg seharusnya dilakukan sang sopir angkot supaya 
tidak dicap imperialis oleh anda?
 

 ---
 Dari cerita kelihatannya Ibu Valina mengenakan pakaian sjar'i "Saat itu Valina 
mengenakan pakaian dan kerudung panjang berwarna biru dongker" dan membawa tas 
ransel besar "Saya memang memakai tas ransel besar warna ungu gelap dan tas 
jinjing berwarna hitam"
 

 Saya kira kemungkinan besar sopir angkot yang meminta Valina turun ataupun 
situkang bakso juga beragama Islam, setelah peristiwa bom bunuh diri itu 
merupakan hal yang logis dan manusiawi si sopir angkot mengambil tindakan 
preventif selain tidak mau dirinya sendiri ikut jadi korban juga para penumpang 
semuanya.
 

 Ataukah di angkot sebaiknya dipasang metal detector?

--- ajegilelu@... wrote :

 Ini cuma daya tangkap Anda yang cetek atau 

 Anda memang bermental imperialis culas makanya 

 sering memelintir persoalan.
 

 Saya tulis ini di depan kalimat yang Anda tangkap / 

 pelintir sebagai advis: 

 Berharap semoga kekejaman teroris tidak ditambah keculasan 




 --- jonathangoeij@... wrote:
 
 
 Saya ulangi ya dgn sedikit tambahan supaya jelas, apakah anda memberi advice 
atau memberi ide/ilham pada para teroris bunuh diri itu untuk "menyamar dengan 
mengenakan pakaian orang lain, biarawati atau pastor misalnya"?
 

 Dan siapa yang anda maksud dgn "kalian" pada kalimat anda diposting dibawah?

 

 --- ajegilelu@... wrote :
 Apa kalian masih butuh advis? Ya enggaklah, 

 itu yang kalian lakukan selama ini; menjadi teroris 

 dengan pakaian Al Qaeda & ISIS. 

 

 Memberi advis kepada imperialis biang teroris 

 itu kan sama saja menggarami laut. Ya nggak?

 

 --- jonathangoeij@... wrote:

   
 Apakah anda memberi advice "menyamar dengan mengenakan pakaian orang lain, 
biarawati atau pastor misalnya"?
 

 Dari cerita kelihatannya Ibu Valina mengenakan pakaian sjar'i "Saat itu Valina 
mengenakan pakaian dan kerudung panjang berwarna biru dongker" dan membawa tas 
ransel besar "Saya memang memakai tas ransel besar warna ungu gelap dan tas 
jinjing berwarna hitam"
 

 Saya kira kemungkinan besar sopir angkot yang meminta Valina turun ataupun 
situkang bakso juga beragama Islam, setelah peristiwa bom bunuh diri itu 
merupakan hal yang logis dan manusiawi si sopir angkot mengambil tindakan 
preventif selain tidak mau dirinya sendiri ikut jadi korban juga para penumpang 
semuanya.
 

 Ataukah di angkot sebaiknya dipasang metal detector?
 

 

 --- ajegilelu@... wrote :

 Kirain mau meralat ucapan selamat jalan untuk Jokowi.
 

 Berharap semoga kekejaman teroris tidak ditambah keculasan 

 menyamar dengan mengenakan pakaian orang lain, biarawati 

 atau pastor misalnya. Menjijikan betul keculasan kelas mental 

 imperialis pengecut yang bengak-bengok war on terror padahal 

 dia juga yang menciptakan realita palsu dengan memelihara Al Qaeda 

 & ISIS.

 

 --- noroyono1963@... wrote:
   
 
 RALAT
 

 Di postingan yg lalu, di alinea pertama, baris pertama, tertulis:
 

 "Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaanya saya adalah: 
Dibawah situas ...... " 
 

 Seharusnya:
 

 "Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaan saya adalah: 
Dibawah situas ...... " 



 Op dinsdag 15 mei 2018 16:38:33 CEST schreef Noroyono 1963 :

 Renungan/Komentar
 

 Menanggapi berita keluhan Ibu Valina dibawah ini, pertanyaanya saya adalah: 
Dibawah situasi sosial-politik saat ini, adakah orang yg bisa jamin bahwa 
dibalik cadar dan jubah (jilbab) yg dikenakan Ibu Valina (yg saya hormati) 
tidak ada sesuatu yg membahayakan keselamatan umum?
 

 Jika jawabannya, "Ada", jawaban demikian tak ayal lagi adalah dipaksakan. 
Merujuk kepada situasi sosial-politiki saat ini, jawaban seperti itu tidak 
punya dasar yg cukup kuat untuk diyakini kebenarannya.

 

 Jika jawabannya, "Tidak ada", jawaban demikian adalah jawaban yg sangat 
realistis, mengingat situasi sosial-politik saat ini. 
 

 Menggeneralisasi suatu hal-ihwal tanpa seperangkat data-data yg konkrit memang 
harus dipantangkan. Tapi menganggap peristiwa seorang ibu dengan membawa 
anaknya sendiri melakukan jibaku dengan bom-bunuh-diri di Surabaya satu/dua 
hari yg lalu sebagai sesuatu yg tidak ada, sebagai sebuah benda maya -- saya 
kira anggapan seperti itu benar-benar suatu kenaifan besar, sesuatu yg tidak 
sesuai dengan realitas!
 

 Ibu Valina, sesuai dengan HAM, sesuai dengan keyakinannya, memang berhak 
mengenakan busana, inklusif cadar dan hijab, yg beliau sukai.
 

 Namun dalam pada itu, MASYARAKAT -- yg notabene sudah sangat sibuk dengan 
berbagai tantangan kehidupan sehari-hari -- juga berhak sepenuhnya untuk 
mengambil berbagai tidakan demi mempertahankan diri dari serangan mendadak yg 
sangat biadab. Ketika awan hitam pekat sudah merata di langit, adalah bijak 
apabila orang "sedia payung sebelum hujan". Tidak ada seorangpun, yg sedikit 
saja punya pendidikan, tidak mengenal peribahasa ini.
 

 Kalau begitu siapa yg harus dipersalahkan? Kelompok tertentu politisi 
konvensional, kelompok politisi yg berjubah "ulama" dan kelompok spekulan 
politik -- inilah orang-orang yg secara langsung atau tidak langsung telah 
mengondisikan situasi dan kondisi di hadapan kita saat ini, dan oleh karena itu 
orang-orang inilah yg harus bertanggung jawab atas sikon tsb.
 

 Pertanyaan mendasar kepada Jokowi sekarang adalah:
 Berani tidak dia menerbitkan Perppu (Peraturan Pmerintah Pangganti 
Undang-Undang) yg memuat secara rinci, konkrit pasal-pasal yg akan menindak 
tegas siapa saja yg berani melakukan tindakan dalam bentuk apapun yg bersifat 
melawan Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika (Keberagaman) dan NKRI? 
 Berani tidak dia secara konsisten menindak segala sumber kesenjangan sosial?
 Pada hemat saya, situasi-kondisi yg kita hadapi sekarang ini terbentuk oleh 
dua faktor utama:
 Pertama, pembiaran sejauh ini berbagai aktivitas (yg sering-sering tersamar) 
anti Pancasila-Keberagaman-NKRI.
 Kedua, kekurang-tegasan dalam menindak berbagai sumber kesenjangan sosial.


 

 Kalau apa yg akan Jokowi lakukan hanya sebatas pada bengak-bengok saja, ya 
saya paling-paling hanya bisa mengucapakan: Selamat jalan ke neraka Pak Jokowi!
 

 Noroyono
 15/05/2018
 

 ----------------------------------------------------------
 

 Cerita Valina Diusir dari Angkot Karena Berpakaian Syar'í
  
 kumparanNEWS https://kumparan.com/@kumparannews
 Selasa 15 Mei 2018 - 13:23 
https://kumparan.com/@kumparannews/cerita-valina-diusir-dari-angkot-karena-berpakaian-syar-i
 
 Ilustrasi cadar. (Foto: Thinkstock)
 
































 

 











 














  

 
  


 


 










Kirim email ke