https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130
Rabu 16 Mei 2018, 13:30 WIB
Kolom
Pembangunan Infrastruktur dan Pemerataan
Ekonomi Daerah
Arni W - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/wijayaarni413>
Arni W <https://connect.detik.com/dashboard/public/wijayaarni413>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#>
Pembangunan Infrastruktur dan Pemerataan Ekonomi Daerah Pembangunan
Seksi 1 dan 2 Tol Cisumdawu
<https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#><https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#><https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#><https://news.detik.com/kolom/d-4023095/pembangunan-infrastruktur-dan-pemerataan-ekonomi-daerah?_ga=2.37786469.773668011.1526493130-1122007631.1526493130#>
*Jakarta* -
Jawa Barat kini menjadi target pembangunan megaproyek infrastruktur
transportasi seperti pembangunan Bandara International Jawa Barat (BIJB)
di Kertajati, dan pembangunan Jalan TOL Cisumdawu. Sebuah langkah yang
diambil untuk memperluas dampak geliat kegiatan Metropolitan Jabodetabek
di tanah Parahyangan dengan menghubungkan Tol Padaleunyi dengan Tol
Palimanan-Kanci.
Dikatakan bahwa dengan dengan adanya BIJB di Kertajati masyarakat
Bandung dapat menghemat waktu hingga 50% untuk melakukan penerbangan ke
luar daerah. Dan, dengan adanya Tol Cisumdawu perjalanan dari pelosok
Jabar ke ibukota menjadi lebih ringkas. Pergerakan menjadi serba cepat,
dan perekonomian diharapkan dapat terdorong untuk meningkat pesat.
Namun, sebenarnya bagaimanakah pembangunan infrastruktur tersebut
memberikan manfaat bagi masyarakat desa di Jawa Barat? Dan, mengapa
masyarakat desa menjadi penting untuk dipertimbangkan sebagai penerima
manfaat?
Data Badan Pusat Statistika (BPS) menunjukkan Gini Index (GI) atau nilai
ketimpangan perekonomian Jabar pada 2017 menduduki angka 0,403, dan
memiliki tren yang naik sejak 2005. Secara khusus nilai GI kawasan
perkotaan adalah 0,412, dan GI di kawasan perdesaan adalah 0,324.
GI menunjukkan bahwa ketimpangan di desa maupun di kota telah mengalami
peningkatan. Jenjang pendapatan masyarakat menghadapi jurang perbedaan
yang semakin tinggi. Secara umum dapat didefinisikan terdapat 1 (satu)
persen dari jumlah penduduk Jawa Barat yang menguasai 40,3% pendapatan
daerah, dan 99% dari penduduk Jabar harus berbagi untuk menikmati 49,7%
sisanya.
Artinya, meskipun nilai pendapatan daerah terus mengalami peningkatan,
namun belum mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pembangunan
infrastruktur yang ditujukan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi
wilayah perlu dikaji relevansinya secara lebih adil.
Masyarakat desa, terutama pada area terdampak langsung pembangunan
secara umum memiliki kerentanan ekonomi untuk melangsungkan penghidupan.
Hal ini pula yang menimbulkan banyak pertentangan di masyarakat sejak
proses pembebasan lahan hingga proses pembangunan. Permasalahan tidak
bisa dianggap selesai dengan memberikan ganti rugi lahan yang pantas.
Namun, bagaimanakah sistem penghidupan masyarakat desa di wilayah
terdampak pada masa selanjutnya?
Beda halnya dengan pergerakan komuter metropolitan dan kawasan perkotaan
lainya yang bisa ditempuh makin cepat, pergerakan di internal kawasan
pembangunan justru bisa terpecah. Selain rumah dan lahan pertanian yang
tergusur, akses masyarakat untuk bermobilisasi juga memiliki potensi
terpotong.
Jika sistem penghidupan masyarakat tidak direncanakan dengan cermat,
maka pembangunan infrastruktur justru akan memicu pertumbuhan ekonomi
yang stagnan di wilayah desa. Pembangunan infrastruktur yang seharusnya
menciptakan pemerataan ekonomi dan keadilan sosial justru berpotensi
meningkatkan jurang ketimpangan ekonomi.
*
Mengambil Peluang
*
Dalam waktu dekat diperkirakan pembangunan infrastruktur tersebut akan
rampung dan mulai beroperasi. Sebelum eksternalitas negatif dari
pembangunan tersebut terjadi, pemerintah daerah di wilayah terdampak
harus berinisiatif untuk menumbuhkan perekonomian secara internal.
Ruang-ruang penghidupan yang baru harus diciptakan untuk mengambil
peluang dari keberadaan infrastruktur tersebut.
Misalnya saja jika Kabupaten Sumedang mengambil potensi keberadaan pintu
Tol Cisumdawu untuk menarik wisatawan dari arah Jakarta. Jika kegiatan
pariwisata tersebut mampu menyaingi atraksi wisata alam di Lembang dan
Kota Bandung, maka bukan hal yang tidak mungkin akan lebih banyak
wisatawan yang memilih melakukan destinasi ke Kabupaten Sumedang selepas
keluar dari pintu tol Cileunyi. Akses yang lebih cepat dan tidak macet
akan menjadi nilai tambah bagi wisatawan.
Namun, kegiatan wisata sebagai strategi ekonomi daerah harus dilakukan
berbasis masyarakat. Pengelolaan lokasi wisata harus dilakukan berbasis
masyarakat desa, dengan demikian manfaat dari pembangunan infrastruktur
akan mampu menciptakan pemerataan ekonomi.
*Arni Muslimah Handayani Widjaja, ST* /mahasiswa Magister Perencanaan
Wilayah dan Kota SAPPK ITB angkatan 2017
/
*(mmu/mmu)
*