http://www.beritasatu.com/opini/5795-populisme-bagi-rakyat-kecil-antara-janji-dan-realita.html
Populisme bagi Rakyat Kecil, Antara Janji dan Realita


[image: Populisme bagi Rakyat Kecil, Antara Janji dan Realita]
<http://www.beritasatu.com/opini/5795-populisme-bagi-rakyat-kecil-antara-janji-dan-realita.html#>
<http://www.beritasatu.com/opini/5795-populisme-bagi-rakyat-kecil-antara-janji-dan-realita.html#>
Opini: Rian Ernest T

Mahasiswa pascasarjana Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura.

Senin, 5 Maret 2018 | 21:26 WIB

Akhir-akhir ini publik sering mendengar isu-isu populis yang didengungkan
kader partai politik (parpol) dan calon kepala daerah. *Kamus Besar Bahasa
Indonesia* (KBBI) mendefinisikan populisme sebagai paham yang mengakui dan
menjunjung tinggi hak, kearifan, dan keutamaan rakyat kecil.

Tentu saja populisme mengandung hal yang baik, karena ada perhatian dari
politisi pada isu-isu yang dirasakan rakyat kecil. Yang menjadi masalah
adalah populisme yang diusung masih dangkal serta hanya sebatas propaganda
dan narasi yang membius massa. Masalah yang jauh lebih pelik adalah publik
melihat populisme masih jauh dari realita yang dijanjikan politisi. Memetik
kemenangan lewat populisme haruslah ditindaklanjuti dengan konsistensi.

Belajar dari pengalaman Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta, setidaknya
ada dua isu yang hangat diperbincangkan rakyat kecil selama masa kampanye,
 yakni rumah DP 0 rupiah dan kredit OK OCE. Pada Maret 2017, Anies Baswedan
yang kala itu masih berkampanye menjanjikan program kepemilikan rumah tanpa
uang muka (*down payment*/DP) seharga Rp 350 juta. Pada acara *Mata Najwa*,
Anies menyatakan,"Di Jakarta, rumah dengan harga Rp 350 juta banyak. Bukan
cuma di pinggir."

Setelah enam bulan menjabat gubernur yang dibantu Wakil Gubernur Sandiaga
Uno, isu populis yang dilemparkan saat kampanye hingga saat ini belum
berjalan sebagaimana yang diharapkan. Bahkan, pada situs resmi pemenangan
pasangan Anies-Sandi, disebutkan unit hunian akan berbentuk rumah susun.

Hal lain yang juga menarik perhatian publik adalah kredit OKE OCE. Saat
debat pilkada final pada 12 April 2017, Sandiaga Uno mengatakan,“Kredit
khusus bagi perempuan, kita berikan tanpa jaminan dan kita berikan
pendampingan* mentoring.*” Dalam situs resmi pemenangan, juga ada pertemuan
dengan Ikatan Keluarga Minang pada Maret 2017. Dalam pertemuan itu, Anies
Baswedan mengatakan,“Akan ada pelatihan, pendampingan, dan juga pemberian
modal.”

Hingga saat ini, isu populis itu juga tidak sepenuhnya dijalankan. Lalu,
apa jawaban Pemprov DKI Jakarta untuk merealisasikan janji tersebut?

Pada Desember 2017, Wagub Sandiaga mengatakan warga hanya akan difasilitasi
pendanaan dari perbankan dengan besaran bunga sesuai pasaran.

Setidaknya, salah satu alasan rakyat kecil memilih Anies-Sandi dalam Pilgub
DKI Jakarta adalah program-program mereka yang populis. Sebagian pemilih
tersedot isu populis ini, meski realita hari ini masih jauh dari janji.

Apakah rakyat kecil menjadi korban permainan kata-kata? Entahlah. Namun,
dengan mengatakan bahwa “rumah” yang dimaksud dalam program DP 0 rupiah
sebagai "rumah susun", sama saja dengan mengatakan bahwa “makanan” yang
dimaksudkan adalah "makanan ringan".

Mengapa hal itu perlu mendapat sorotan? Karena, partai politik pengusung
calon kepala daerah yang populis, tetapi belum sepenuhnya mampu
merealisasikan janjinya, harus ikut bertanggung jawab. Berdasarkan
Undang-Undang (UU) tentang Partai Politik, fungsi partai politik, antara
lain memberi pendidikan politik kepada masyarakat luas agar menjadi warga
negara Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya. Ini juga berkaitan
dengan tujuan khusus dari partai politik dalam UU tersebut, yakni membangun
etika dan budaya politik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan
bernegara.

Lalu kita bertanya, apa yang akan terjadi bila kepala daerah populis tidak
dapat melunasi janjinya? Jawabannya: rakyat akan (semakin) tidak percaya
kepada politisi dan pemerintahan. Dalam jangka panjang, kualitas
partisipasi politik dan demokrasi juga akan menurun. Rakyat pun akan
disuguhi politisi yang hanya mementingkan diri sendiri, keluarga, dan
kroninya. Ujung-ujungnya, korupsi tetap merajalela. Republik kita menjadi
taruhannya!

Berbicara tentang kepercayaan masyarakat terhadap politisi dan
pemerintahan, kita dapat mengacu pada Organisasi untuk Kerja Sama dan
Pembangunan Ekonomi (OECD). OECD adalah organisasi internasional
beranggotakan negara maju dengan misi mendorong kebijakan yang meningkatkan
kondisi ekonomi dan sosial masyarakat.

Organisasi tersebut mencatat enam area yang bisa membuat pemerintah dapat
kembali meraih kepercayaan publik, yakni keandalan (*reliability*), tanggap
(*responsiveness*), keterbukaan (*openness*), integritas dan keadilan
(*integrity
and fairness*), peraturan yang lebih baik (*better regulation*), dan
pengambilan kebijakan yang inklusif (*inclusive policy making*).

Contoh populisme yang belum terwujud pada paparan sebelumnya berkenaan
dengan empat unsur pertama. Celakanya, kecenderungan populisme yang terjadi
di DKI Jakarta mulai ditularkan ke Jawa Tengah. Maka, belajar dari
populisme di Jakarta, tentu tidak seharusnya kita jatuh dua kali di lubang
yang sama.

Kepada rakyat kecil yang terus diterpa slogan populis, penulis berharap
kiranya ada suara kritis untuk menanyakan detail dan rencana aksi yang akan
dilakukan politisi populis. Ini sama saja dengan prinsip di pasar, yakni
teliti sebelum membeli. Tidak ada orang yang legawa bila barang yang sudah
dibeli ternyata kemudian tidak berfungsi, dan sang penjual hanya
mengatakan,“Maafkan, Tuan dan Nyonya. Barang ini* kan* sudah dibeli, jadi
baru bisa ditukar lima tahun lagi…” Partai politik yang hanya memainkan isu
populis akan cepat populer, tetapi waktu pula--di tengah era keterbukaan
dan digital--yang akan membuktikan dan kemudian menghukum partai itu.

Kirim email ke