https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan
Jumat 18 Mei 2018, 13:24 WIB
Kolom
Mereka yang Menunggangi Kekerasan
Munawir Aziz - detikNews
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
Munawir Aziz
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
7 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
Mereka yang Menunggangi Kekerasan Ilustrasi: Instagram
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4026819/mereka-yang-menunggangi-kekerasan#>
*Jakarta* - Indonesia sedang berduka dengan ledakan bom, lumuran darah,
dan tangis air mata. Bom bunuh diri meledak di Surabaya yang mengguncang
Gereja Santa Maria Tak Bercela, Gereja Kristen Indonesia, dan Gereja
Pantekosta. Aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh keluarga Dita
Oepriarto sekeluarga itu merupakan fenomena baru dalam rangkaian teror
dan kekerasan di negeri ini. Dita berbagi tugas bersama istri dan kedua
anaknya untuk mengebom tiga gereja. Belakangan diketahui, Dita
terindikasi terkoneksi dengan Jaringan Ansorut Daulah (JAD), yang
menjadi dalang di beberapa aksi teror.
Selain bom di tiga gereja, bom bunuh diri juga meledak di Pos Jaga
Markas Polrestabes Surabaya. Tragisnya, bom bunuh diri ini melibatkan
anak-anak sebagai aktornya, Ais dan MDS, putra dari Tri Murtiono dan Tri
Ernawati. Aksi itu menewaskan ayah, ibu, dan seorang putranya.
Sementara, Ais selamat dan sedang menjalani perawatan intensif di Rumah
Sakit.
Bom bunuh diri di Surabaya disusul dengan bom yang meledak di Sidoarjo.
Rangkaian kejadian ini menjadikan Jawa Timur menjadi titik panas dalam
aksi kekerasan. Beberapa hari sebelumnya, publik seakan terkaget dengan
kejadian miris di Mako Brimob, Depok, Jawa Barat. Kerusuhan ini
menimbulkan gejolak, yang tersulut karena rangkaian peristiwa rumit di
internal narapidana terorisme, hingga dinamika internasional. Sebanyak 5
perwira polisi meninggal, dan 3 polisi terluka parah. Indonesia berduka,
awan gelap teror dan rangkaian kekerasan menjadi bagian dari peristiwa
mutakhir di negeri ini.
*Antisipasi Kekerasan*
Dari rangkaian kekerasan yang terjadi, bom bunuh diri yang melibatkan
anak-anak dan remaja sangat memprihatinkan kita. Dari alur ini terlihat
bagaimana ideologi kekerasan mendorong aksi bom, hingga mensugesti
keluarga dan anak-anaknya. Bahkan, jika dilihat dari akar keluarganya,
pelaku aksi bom bunuh diri di Surabaya berasal dari keluarga kelas
menengah, terdidik, dan memiliki akses ekonomi memadai.
Radikalisme telah merasuk di kalangan kelas menengah yang memiliki akses
sumber daya, dan dari kelompok terdidik. Survei Alvara Research Center
dan Mata Air Foundation pada 2017 lalu membuktikan pendapat ini. Survei
dilakukan terhadap 1.200 responden di 6 kota besar: Jakarta, Bandung,
Semarang, Surabaya, Medan, dan Makassar. Responden dari survei berasal
dari kelompok PNS, profesional, dan kalangan BUMN. Survei
diselenggarakan pada 10 September hingga Oktober 2017 melalui wawancara
tatap muka.
Dari survei itu terlihat bahwa hubungan antara agama dan negara,
terutama dalam konteks kepemimpinan. Sejumlah 29,7% responden tidak
setuju pemimpin non-muslim: golongan PNS (31,3%), profesional swasta
(25,9%), dan karyawan BUMN (25,9%). Isu pemimpin non-muslim masih sangat
sensitif di kalangan profesional dan kelas menengah, yang menunjukkan
bagaimana persepsi sekaligus pola interaksi antaragama di kalangan mereka.
Menariknya, isu /khilafah/ dan negara Islam menjadi konsentrasi penting
dari kelompok profesional. Sebanyak 29,6% profesional menyatakan setuju
dengan model ini. Namun, ketika dikerucutkan menjadi /khilafah/ sebagai
bentuk negara, hanya 16% kelompok profesional yang setuju. Di sisi lain,
kelompok PNS yang setuju dengan ideologi Islam sebagai bentuk negara
termasuk tinggi, yakni 19,4%. Angka ini jauh lebih besar dibandingkan
data profesional swasta (9,1%), dan kalangan pekerja BUMN (18,1%).
Dari laporan survei itu terlihat jelas bagaimana kelas menengah telah
terinfeksi dengan ideologi-ideologi yang mendorong kekerasan. Isu
/khilafah/ dan negara Islam menjadi konsentrasi dari kelas menengah
tersebut, meski kelompok yang setuju sekaligus membela Pancasila tetap
besar. Tapi, tumbuhnya kelompok-kelompok profesional, baik dari mereka
yang menjadi PNS dan profesional BUMN, yang setuju dengan /khilafah/
namun tetap mengakses fasilitas dari negara, menjadi fenomena ambigu
yang layak direnungkan sekaligus diantisipasi. Kelompok ini tidak setuju
dengan kepemimpinan pemerintah dan sistem negara, namun tetap menikmati
gaji dan fasilitas dari negara.
*Menunggangi Kekerasan*
Di tengah rangkaian peristiwa kekerasan dan bom bunuh di Tanah Air, saya
merenungkan sekaligus mengamati orang-orang yang menunggangi aksi-aksi
ini. Mereka membelah pendapat publik seraya menunggangi aksi-aksi
kekerasan dengan niatan untuk meningkatkan popularitas. Beberapa
politikus parpol dan tokoh publik bahkan tegas menyerang pemerintah
dengan menganggap ini sebagai pengalihan wacana.
Menganggap bom bunuh diri sebagai aksi untuk menutup berita-berita lain,
atau sebagai amunisi mengutuk pemerintah, merupakan ironi. Kelompok ini
menunggangi aksi-aksi kekerasan dan peristiwa bom untuk mengambil untung
popularitas, menciptakan dan menjaga polarisasi di ruang publik, dan
sekaligus menebar bibit kebencian baru.
Pemerintah beserta institusi yang selama ini bertugas mengurus
antisipasi teror harus bergerak cepat, bekerja efektif, dan
komprehensif. Jangan sampai, kekerasan yang lebih tragis meluas dan
bom-bom lain meledak. Ini menjadi pekerjaan berat, yang seringkali
mendapat kritikan tajam, apalagi di tahun politik saat ini.
Kita mengutuk pelaku kekerasan dan bom yang merenggut korban, mereka
yang mengorbankan nyawa anak-anaknya sebagai martir. Namun, kita juga
perlu mengutuk orang-orang yang selama ini menunggangi kekerasan,
sekaligus mengambil untung dari aksi-aksi yang menghancurkan kemanusiaan
kita.
*Munawir Aziz* /peneliti, sedang riset di University of Southampton, UK/
*(mmu/mmu)
*