https://indopos.co.id/read/2018/05/18/138427/pks-gerindra-fokus-2019gantipresiden PKS-Gerindra Fokus #2019GantiPresiden
Redaktur: 1 hari yang lalu Share Share Tweet AKSI CFD – Masyarakat dengan mengenakan baju #2019GantiPresiden menggelar aksi bersama di arena CFD, Minggu (29/4). Foto: Ismail Pohan/INDOPOS *INDOPOS.CO.ID <http://INDOPOS.CO.ID> -* Entah bagaimana ceritanya, rangkaian peristiwa teroris bom bunuh diri di Surabaya, Jawa Timur (Jatim) ternyata mulai menyudutkan sejumlah pihak, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Gerindra, dan Partai Amanat Nasional (PAN). Ketiga ini menuai hujatan bernada satir baik ujaran kebencian maupun melalui meme, yang menuduh ketiganya sebagai penghambat disahkannya Rancangan Undang-Undang (RUU) Tindak Pidana Terorisme. Sehingga ketiganya dinilai ikut bertanggung jawab atas suburnya terorisme di negeri ini. Bahkan ada sekelompok massa yang melakukan aksi demonstrasi di kantor DPP PKS dengan menganggap PKS sebagai partai radikal. Menanggapi hal ini, Ketua DPP PKS yang juga penggagas #2019GantiPresiden Mardani Ali Sera mengaku tak mau ambil pusing atas hujatan tersebut. Hal itu wajar dalam sebuah pergerakan dakwah. ”Kita yang insya Allah sedang belajar menegakkan kebenaran dan pasti tidak akan sepi dari tantangan. Semua akan diserang. Yang ada di media sosial (medsos) sekarang ini baru pembukaan. Jangan terlalu dipusingkan,” katanya kepada INDOPOS di Jakarta, (14/5). Mardani pun menilai bahwa ada sejumlah pihak yang mulai mempolitisasi dengan memanfaatkan aksi teror bom bunuh diri ini untuk mendiskriditkan gerakan #2019GantiPresiden. ”PKS, Gerindra, PAN, PBB termasuk FPI dan sebagainya akan ‘diserang’. Kita saling jaga dan saling melindungi. Rezim sudah panik. Semua cara digunakan. Mari kita semua bergantung hanya pada Allah SWT. Mereka punya makar, Allah SWT juga punya makar. Dan makar Allah SWT lah yang lebih baik.’ Syaratnya kita semirip mungkin cara hidup dan cara juang seperti apa yang diminta Alquran. Dan tetap fokus #2019GantiPresiden,” tegasnya. Meski begitu, Mardani menegaskan bahwa PKS dan para deklarator gerakan #2019GantiPresiden justru mengutuk keras rangkaian bom di Surabaya. Ini baik terhadap tiga gereja maupun di Mapolresltabes Surabaya pada Senin (14/5) pagi lalu. ”Lalu meminta para relawan untuk tetap fokus gerakan dan mendukung aparat pemerintah mengusut tuntas dalang dari para pelaku,” tandasnya. Lebih lanjut ia menegaskan, harus ada penyelesaian melalui penegakan hukum dan kerja intelejen untuk membuka tabir dimana dan siapa akar masalah ini. ”Dan masyarakat jangan diarahkan pada satu framing tertentu. serta hindari saling tuduh berupa cercaan dan menggiring pada isu lain, justru akan membuat permasalahan peristiwa tersebut tidak akan selesai dan akan muncul masalah baru lainnya,” pungkasnya. Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS yang membidangi intelijen, Sukamta mengaku heran adanya sejumlah meme yang memojokkan partainya terlihat maraknya peristiwa bom di medsos. ”Ngawur itu. Sekarang ini kan sepuluh Fraksi di DPR, termasuk PKS sudah bulat mendukung RUU (Terorisme, Red) itu. Justru dari tim pemerintah lah yang belum mau menyetujuinya. Jadi itu fitnah buat kami,” kesalnya. Dia pun menegaskan, di dalam suasana negeri sedang berduka, jangan ada pihak yang membuat isu lain. ”Jadi selain PKS turut menyatakan duka bagi keluarga korban bom di Surabaya, kami juga meminta aparat kepolisian segera membongkar siapa dalang dari aksi tersebut bom bunuh diri itu. Serta tugas pemerintah lah agar segera menangani masalah ini dan melindungi warga negaranya,” pungkasnya. Ketua DPP Partai Gerindra Nizar Zahro menegaskan, terjadinya renteran bom bunuh diri di Surabaya mestinya menjadikan bangsa ini bersatu padu melawan terorisme. ”Di saat genting begini sangat kontraproduktif bila ada pihak-pihak yang memfitnah pihak lainnya sebagai pendukung terorisme,” ucapnya kepada INDOPOS. Ia menjelaskan, tuduhan tidak berdasar dapat menyebabkan keretakan antar kelompok yang dikhawatirkan bisa menjadi penyebab lemahnya soliditas persatuan melawan terorisme. ”Seperti munculnya meme yang menyudutkan Partai Gerindra, PAN, dan PKS yang dituduh menentang revisi UU Terorisme,” ujarnya. Jadi dalam kesempatan ini, ucap dia, perlu diluruskan bahwa molornya pembahasan RUU Terorisme merupakan dinamika yang terjadi antara DPR dengan Pemerintah. ”Bahkan, Ketua DPR Bambang Soesatyo juga sudah menjelaskan bahwa pihak pemerintah yang belum menemui kata sepakat tentang definisi terorisme, sehingga meminta penundaan pembahasan RUU Terorisme,” tuturnya. Dirinya juga meminta pihak pemerintah segera menyepakati tentang definisi terorisme, sehingga RUU Terorisme dapat segera dirampungkan. ”Partai Gerindra sudah berkomitmen untuk memberantas terorisme sampai ke akar-akarnya. Dan dalam sikap politik di DPR akan mengedepankan keamanan, kenyamanan dan kedamaian rakyat sebagai tujuan utama,” jelasnya. Dia pun meminta kepada pihak berwajib hendaknya mengusut beredarnya meme yang menyudutkan pihak-pihak tertentu. ”Pihak-pihak yang menyebarkannya patut dihukum berat karena perbuatannya bisa memperkeruh suasana dan mengganggu stabilitas,” tegasnya. Sama halnya dengan Mardani Ali Sera, Nizar juga meyakini ujarnya kebencian terhadap PKS dan Gerindra dan PAN lebih diarahkan ke arah politik pemilu 2019. ”Pastinya ini diarahkan karena memasuki tahun politik. Kami pun tetap ingin usung Pak Prabowo di Pilpres nanti,” pungkasnya menambahkan. *(dil)*
