----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Hsin Hui Lin [email protected] 
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA45 
<[email protected]>Terkirim: Minggu, 20 Mei 2018 07.36.09 GMT+2Judul: 
[GELORA45] PERKOSAAN MEI 1998 "TAK PERNAH TERUNGKAP, TAK PERNAH DITUNTASKAN"
     


Perkosaaan Mei 1998 'tak pernah terungkap, tak pernah dituntaskan'
Sri LestariBBC News Indonesia   
   - 2 jam lalu
   
   - Bagikan artikel ini dengan Facebook
    
   - Bagikan artikel ini dengan Twitter
    
   - Bagikan artikel ini dengan Messenger
    
   - Bagikan artikel ini dengan Email
    
   - Kirim
Hak atas fotoDAVIES SURYA/BBC
Pada peristiwa Mei 1998, lebih dari 150 orang perempuan etnis Cina mengalami 
perkosaan dan pelecehan seksual, demikian catatan sebuah tim relawan kasus Mei 
1998, dan kasusnya tak juga kunjung terungkap, hingga kini, 20 tahun kemudian, 
dan tak ada yang pernah disidangkan.

Ita F Nadia Tim Relawan untuk Kekerasan Terhadap Perempuan menyebutkan 
perkosaan Mei 1998 merupakan perkosaan politik di mana tubuh atau seksualitas 
perempuan dijadikan alat teror dari situasi politik yang kacau.

Peringatan artikel ini mengandung konten kekerasan seksual

Meski dua puluh tahun berlalu, Ita F Nadia mengatakan mendampingi para korban 
perkosaan Mei 1998, merupakan momen mencekam dan tragis dalam hidupnya. Dia 
masih mengingat bagaimana mendampingi salah seorang korban, seorang anak 
perempuan berusia 11 tahun yang meninggal setelah diperkosa di kawasan 
Tangerang.

"Dia meninggal di pangkuan saya, dia diperkosa dan vaginanya dirusak, ibu dan 
kakak perempuannya juga diperkosa tapi sudah meninggal beberapa jam 
sebelumnya," ungkap Ita.

Ayah dari korban tersebut mengalami depresi.

"Saya dan pendeta mengurusnya. Saya membopongnya ketika didoakan pendeta, 
memandikannya. Kemudian menunggunya sampai selesai dikremasi. Saya selalu tidak 
tega (mengingatnya)," kata Ita.

Korban merupakan keturunan Tionghoa yang dikenal dengan sebutan 'Cina Benteng'. 
Tangerang merupakan salah satu tempat terjadinya perkosaan massal pada Mei 
1998, selain Jakarta Utara, Jakarta Barat dan sejumlah wilayah dan kota lain 
seperti Surabaya dan Medan.
   
   - Presiden Jokowi akui banyak kasus pelanggaran HAM belum tuntas
   - Tragedi Mei 1998 : Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya
   - Kerusuhan Mei 1998: "Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan 
dibunuh?"

Pada 13 Mei 1998 malam, Ita Fathia pertama kali mengetahui terjadinya perkosaan 
massal setelah menemui korban kejadian di kawasan Jembatan Tiga, Jembatan Empat 
dan Jembatan Lima di Jakarta Barat. Ia menemukan korban itu setelah mendapatkan 
informasi dari sejumlah orang melalui telepon anonim.

"Pertama telepon dari laki-laki katanya ada perkosaan terhadap etnis Tionghoa 
di Jakarta Utara. Kami pikir itu bohong, namun sekitar jam 8 ada lagi perempuan 
menelpon mengatakan ada perkosaan di Jembatan Tiga di Cengkareng," jelas Ita.

Akhirnya malam itu, Ita dan dua rekannya dari Kalyanamitra pun memutuskan untuk 
pergi ke kawasan Cengkareng dengan taksi meski belum mengetahui dengan jelas 
rumah para korban.

"Waktu itu di Jakarta Barat sudah ramai, taksi tak bisa masuk, demi keamanan 
supir taksi menyarankan saya menggunakan syal sebagai kerudung ketika keluar 
taksi," kata Ita.

Dia dan dua rekannya pun berjalan kaki ke Jembatan Tiga. Jalanan ketika itu 
sudah kacau, banyak orang menggedor pintu toko. Sampai di Jembatan Tiga, Ita 
bertemu dengan camat setempat yang menunjukkan rumah korban perkosaan.

"Sebelumnya dia menyarankan jangan ke sana karena berbahaya, tapi setelah tahu 
kami ingin mendatangi korban, camat itu mendatangi saya dan mengatakan ibu 
masih ingin ke sana, dia menunjuk arah beberapa rumah, yang korban di sana, 
sana dan sana," jelas Ita.
Hak atas fotoCHOO YOUN-KONG/AFP/GETTY IMAGESImage captionPada 12-13 Mei 1998 
terjadi penjarahan massal dan pembakaran di sejumlah tempat di Jakarta.
Ketika mendatangi rumah pertama yang ditunjuk camat tersebut, Ita bertemu 
dengan korban perkosaan yang diperkirakan berusia 18-19 tahun.

"Tatapan matanya sudah kosong, saya lalu mendatangi rumah kedua dan ketiga, 
benar saja saya menemukan korban dalam keadaan yang sama: sudah mengucurkan 
banyak darah. Mereka dari kalangan Cina miskin," kata mantan Direktur 
Kalyanamitra ini.

Ita mengaku saat itu kebingungan dalam menangani korban karena belum pernah 
punya pengalaman menangani kasus perkosaan seperti itu.

"Akhirnya saya tanya apakah punya betadine untuk luka, dan tutup pintu dulu, 
sebelum mencari bantuan," jelas Ita.

Setelah memberikan pertolongan pertama sebisanya pada para korban di Jembatan 
Tiga, Ita dan rekannya kembali ke kantor. Di sana para relawan menerima banyak 
telepon kasus perkosaan.

Selama 13-14 Mei 1998, kasus perkosaan banyak dilaporkan. Ita pun mendatangi 
para korban yang diantaranya adalah mahasiswa perguruan tinggi swasta di 
Jakarta, yang diselamatkan di pastoran..

"Sampai di sana, ada dua perempuan dadanya ditutup plastik hitam, kaki saya 
bergetar ketika membukanya, mereka menderita luka pada payudaranya dan 
vaginanya, semuanya mengeluarkan darah," ungkap Ita.

Dia bersama rekannya dari tim relawan dan pastor tersebut berupaya membawanya 
ke rumah sakit, namun dalam perjalanan mereka memutuskan untuk membawa korban 
langsung ke bandara untuk diterbangkan ke Singapura.

"Karena mereka mengalami pendarahan hebat, dan sampai di bandara mereka dapat 
diterbangkan ke Singapura, tanpa paspor ataupun visa," jelas Ita.

Situasi bandara Soekarno-Hatta saat itu sangat padat dan kacau, dan banyak 
orang yang mencari tiket untuk segera pergi dari Indonesia.

Ketika melintas di kawasan Jakarta Barat, dalam perjalanan kembali dari 
bandara, Ita mengatakan melihat sebuah mobil yang dikerumuni massa dan 
penumpangnya suami istri dan seorang anak. Mereka pun ditolong dan diantar ke 
bandara.

Di kawasan Cengkareng, Ita mengatakan melihat banyak perempuan keturunan Cina 
yang berlarian sambil berteriak. Ita dan sejumlah rekannya pun menghentikan 
kendaraan untuk berupaya menolong korban.

"Tiba-tiba muncul seorang yang dipanggil pak haji, dia membantu kami menolong 
perempuan-perempuan tersebut dan membawanya ke tempat tinggalnya," kata Ita.

Untuk menangani korban, dibentuk Tim Relawan Untuk Kekerasan Terhadap 
Perempuan. Tim ini mendapatkan bantuan dari sejumlah organisasi keagamaan 
Katolik, Kristen, Buddha, Konghucu serta petugas medis. Salah satunya dr. Lie 
Dharmawan.

Ita mengatakan komunitas agama dan medis memberikan tempat penampungan yang 
aman bagi para korban. Kemudian korban ditangani luka fisiknya, setelah itu 
pemulihan trauma.

Dr Lie mengatakan ada beberapa korban perkosaan yang mengalami trauma berat dan 
sangat ketakutan jika melihat laki-laki.

Dia lebih banyak menangani para korban yang memerlukan pembedahan sesuai dengan 
keahliannya.

"Kasus yang saya ingat, ada korban yang menjatuhkan diri dari lantai tiga 
sehingga mengalami patah tulang iga. Ada gadis berusia belasan tahun yang 
kakinya sudah bau dan bernanah karena terkena beling ketika berlari untuk 
bersembunyi," jelas dokter Lie.

Sandyawan Sumardi, anggota TGPF mengatakan sempat dihubungi dokter Lie ketika 
terjadi kasus kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi universitas swasta 
di Jakarta.

"Korban mengalami luka pada perut dan vaginanya karena ditusuk besi penyangga 
gorden, korban selamat meski mengalami pendarahan yang cukup hebat," kata 
Sandyawan.

Kekerasan seksual itu terjadi setelah 15 Mei. Korban yang mengalami trauma 
kemudian didampingi oleh Sandyawan dan salah satu penyintas kekerasan seksual 
lainnya.

Penyintas yang menjadi 'pendamping' korban tersebut menurut Sandyawan, 
mengalami perkosaan di taksi selama sembilan jam. Lalu dia dibuang di suatu 
tempat dan diantar pulang oleh supir taksi.

"Supir melihat ada KTP dan alamat lengkapnya, jadi diantar keluarganya. Saya 
mengetahuinya setelah dihubungi susteran," kata Sandyawan yang juga pendiri Tim 
Relawan Untuk Kemanusiaan.

Bertemu presiden dan utusan khusus PBB

Sepanjang Mei 1998, Tim Relawan untuk Kekerasan terhadap Perempuan melakukan 
pendataan para korban perkosaan tak hanya di Jakarta, namun juga di Medan dan 
Surabaya. Jumlah korban mencapai 150 orang, namun diperkirakan banyak yang 
tidak melaporkan kasusnya.

Dibantu Prof. Saparinah Sadli yang juga anggota tim relawan, Tim bertemu dengan 
Presiden BJ Habibie.

Dalam pertemuan itu, Habibie secara khusus bertanya mengenai kekerasan seksual 
yang dialami perempuan keturunan Cina.

"Ya saya ingat, saudara saya (seorang dokter perempuan yang dia sebut namanya) 
juga pernah menceritakan hal serupa. Dia tidak bohong pada saya", ujar Habibie 
seperti dikutip dari laporan Komnas Perempuan terhadap Tragedi Mei 1998.
Hak atas fotoARSIP BBCImage captionKerusuhan Jakarta 13-15 Mei, kekerasan 
seksual terhadap perempuan etnis Cina terjadi dalam periode tersebut.
Setelah itu Habibie bersedia membuat permintaan maaf atas nama pemerintah. 
Sikap Habibie itu dipertanyakan oleh Letjen Sintong Pandjaitan yang saat itu 
menjadi penasihat militer presiden.

"Pak apakah hal ini tidak perlu dibahas di sidang kabinet terlebih dulu?" Namun 
Habibie menjawab "Can I have my own opinion? Kebetulan saya setuju dengan 
ibu-ibu tokoh masyarakat ini". Begitu kisah Ita Fathia nadia.

Saat itu juga, permohonan maaf disusun untuk dibacakan di depan wartawan di 
Istana. Selain menyatakan mengutuk dan meminta maaf atas kerusuhan Mei kepada 
para korban, presiden juga membentuk Tim Gabungan Pencari Fakta, dan keputusan 
untuk mendirikan Komnas Perempuan.

Ita Nadia dan Sandyawan menjadi anggota TGPF, namun Ita kemudian keluar setelah 
anggota TGPF dari kepolisian bersikeras untuk bertemu dengan korban perkosaan.

Sebelumnya Tim telah berupaya untuk bertemu dengan pelapor khusus kekerasan 
perempuan PBB, Radhika Coomarswary, di Sri Lanka. Hasil pertemuan itu, tim 
diminta untuk memfasilitasi laporan tersebut yaitu Asia Pasific Women Law and 
Development di Bangkok, Thailand.

Radhika kemudian membuat laporan ke Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB di 
Jenewa Swiss, dan melakukan investigasi ke Indonesia pada November 1998.
Hak atas fotoARSIP BBCImage captionKerusuhan Mei tak hanya terjadi di Jakarta, 
tapi di Medan, Surabaya dan Solo.
"Saat itu kami mempertemukan korban dengan Radhika, ada beberapa yang bersedia 
dan kami berupaya agar pertemuan berlangsung tertutup, bahkan ada yang 
memberikan kesaksian di dalam mobil box agar identitasnya tidak diketahui 
media," ujar Ita.

Tak hanya kasus perkosaan Mei, kasus kekerasan terhadap perempuan di Aceh, 
Papua dan Timor Leste juga dilaporkan ke PBB.

Kesaksian di depan komunitas internasional juga pernah disampaikan seorang 
korban yang mengalami perkosaan selama sembilan jam di dalam taksi. Korban yang 
didampingi Sandyawan dan Karlina Supeli, menyampaikan kesaksian di depan 
komunitas internasional di PBB Jenewa Swiss dan juga Kongres AS Bersama dengan 
penyintas dan keluarga korban Mei 1998.

Namun, setelah memberikan kesaksian tersebut, dia tak dapat kembali ke 
Indonesia karena masalah keamanannya.

"Sampai di Singapura dia tak bisa pulang, dikejar dan sampai detik ini tak bisa 
pulang, saat itu dari Singapura kembali ke AS setelah dijemput tunangannya," 
ungkap Sandyawan.

Ancaman dan pembunuhan korban perkosaan

Berbagai ancaman diterima oleh para korban, saksi dan juga pendamping yang 
berbicara mengenai perkosaan Mei 1998 secara terbuka.

Sandyawan mengatakan salah seorang saksi yang melihat kekerasan seksual ketika 
berjalan kaki dari bandara menuju rumahnya, pernah memberikan kesaksian di 
media nasional.

"Dia itu mahasiwi dan diberikan pakaian laki-laki oleh seorang pak haji supaya 
selamat, lalu setelah tampil di media, malamnya dia dikejar oleh seseorang dan 
ketakutan, lalu lari ke luar negeri," jelas Sandyawan.

Pada Oktober 1998, seorang anggota tim relawan, Ita Martadinata Haryono (18 
tahun) dibunuh satu minggu sebelum menyampaikan kesaksian di PBB bersama dengan 
ibunya Wiwin Haryono dan komunitas Buddha.

Ita Nadia dan Sandyawan yang pertama datang ke rumah Ita Martadinata di kawasan 
Sumur Batu Jakarta mengatakan, dia meninggal akibat luka pada bagian leher dan 
vagina.

"Ketika saya ke kamarnya, darah Ita masih hangat, " kata Ita Nadia.

Ita dibunuh ketika pulang sekolah. Pembunuhnya sampai saat ini tak pernah 
terungkap.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSosok Ita Martadinata korban perkosaan 
yang dibunuh sebelum bersaksi di PBB, dalam lukisan karya Dewi Candraningrum, 
dipajang di lobi luar kantor Komnas Perempuan, Jakarta.
Setelah pembunuhan Ita Martadinata, para relawan pendamping diminta untuk tidak 
berbicara tentang kasus perkosaan sementara waktu, sampai situasi mereda. Semua 
data dan bukti pun disimpan dengan rapi.

"Semua hardisk yang berisi data kasus perkosaan dicopot lalu disimpan di luar 
kantor," kata Ita.

Dua hari setelah pembunuhan Ita Martadinata, kantor Kalyanamitra dibobol orang 
yang berusaha mencuri hard disk.

Setelah kejadian itu, Ita Nadia mendapatkan telepon ancaman dari seseorang yang 
mengancam untuk memperkosanya dan menculik anaknya.

"Kalau kamu tidak berhenti bicara tentang perkosaan, saya akan memperkosa kamu 
dan saya akan ambil dua anak kamu," kata Ita, mengisahkan lagi ancaman itu.

Menurut Ita, bahkan ada orang yang datang ke sekolah anaknya, mengaku diminta 
menjemput, namun kepala sekolahnya tak mengizinkan.

Anak-anaknya kemudian diungsikan ke Yogyakarta, di rumah orang tua Ita.

Ancaman melalui telepon juga beberapa kali diterima dr. Lie bahkan sampai satu 
tahun setelah kerusuhan Mei terjadi.

"Halo dokter Lie ini Cina ya, sekarang ini Cina-Cina enak ya boleh bersuara 
seenaknya, ngomong seenaknya," demikian salah satu telepon gelap itu seperti 
ditirukan dr. Lie.

"Malam berikutnya, ada telepon lagi, bilangnya, 'dokter Lie saya ini jenderal 
lho membawahi preman-preman dan saya akan mengirimkan preman yang saya bina 
untuk membawa hadiah'".

Mendengar kata hadiah, dr. Lie langsung teringat granat aktif yang diletakkan 
di depan kantor Sandyawan.

"Granat itu dijinakkan oleh gegana polisi," kata dia.

Dr. Lie akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jerman dan tinggal di sana selama 
setahun.

Sementara Ita melawan teror tersebut dengan menyampaikan pernyataan melalui 
televisi.

"Saya bilang di TV bahwa saya tidak akan berhenti mengurus perkosaan 98 dan 
tidak akan takut menghadapi siapapun, dan kami para relawan pun masih terus 
mengurusi korban," kata Ita.

Kondisi korban

Sejumlah korban yang sempat didampingi Ita kembali membangun kehidupannya yang 
sempat hancur karena perkosaan.

"Yang mahasiswi keduanya sudah lulus dan bekerja, ada juga yang akhirnya 
memilih tinggal di AS, " kata Ita.

Dalam laporan Komnas Perempuan yang berjudul Disangkal!, dikisahkan seorang 
korban dengan nama samaran Lani, seorang pedagang kue yang diperkosa lalu 
diselamatkan Haji Ramli (bukan nama sebenarnya).

Ketika mengetahui Lani merupakan korban perkosaan, suaminya tidak mau mengakui 
dia sebagai istrinya, tidak mau menyapa dan bahkan mengusirnya karena dianggap 
sebagai pembawa petaka dan aib. Lani pergi bersama tiga anak dan ibunya 
mendatangi Pak Haji yang membantunya menyewakan sebuah rumah.

"Dia sempat ingin bunuh diri, namun teringat ibu dan anak-anaknya. Dengan 
bantuan keluarga Pak Haji, Lani perlahan kembali bangkit dari trauma. 
Bermodalkan uang pinjaman dari Pak Haji, Lani pun kembali berjualan, dan 
bisnisnya semakin berkembang," kisah Ita lagi.

Kepada pendampingnya Lani mengatakan "Sampai sekarang saya tidak habis pikir, 
mengapa hanya karena pergantian presiden (Soeharto), ada segelintir orang tega 
memperkosa keturunan Cina dan membakari rumah orang Cina? Mengapa ada orang 
yang tega menelanjangi dan memperkosa seorang perempuan beramai-ramai, seperti 
binatang?"




    

Kirim email ke