bacaannya terlalu panjang, jadi cerita film yang hanya jadi penunjang pendapat 
penulisnya saya tiny-kan. Saya sendiri ga nyanggup baca seluruhnya. Tapi saya 
mengerti betul apa yang dimaui penulisnya. 



I Can’t Think Straight (Indonesia VS. Palestina & Israel)
Posted on September 15, 2011by Mery DT
Issue Timur Tengah khususnya Palestina begitu sexy bagi bangsa kita. Demi Timur 
Tengah banyak yang bisa terjadi di sekitar kita. TV swasta mampu menggalang 
dana yang besar dari masyarakat demi membebaskan seorang terdakwa di Negara 
Timur Tengah, yang kemudian – sangat disayangkan – menjadi masalah juga 
akhirnya.

Kasus itu hanya satu contoh kecil dari banyak kasus yang terjadi di Timur 
Tengah di mana kita selalu terlalu emosi bila melihat atau mendengar masalah di 
tempat yang jauh itu, dan tanpa mengerti masalah yang terjadi, sering langsung 
bertindak. Benar salah tindakan kita, itu urusan belakangan.

Ada sebuah film yang berjudul I Can’t Think Stright, yang mungkin bisa 
menjelaskan sedikit permasalahan di sana, dan secara tidak langsung berkaitan 
dengan masalah kita di sini. Dalam tulisan ini, aku tidak menceritakan 
sinopsisnya – mungkin di lain tulisan- tapi bagiku film ini sangat menarik 
karena mampu menggodok dengan cantik hubungan socialpara tokohnya yang berbeda 
agama seperti Kristen, Islam, Katholik & Jahudi dengan suku bangsa dari 
Jordania, India, Palestina dan Jahudi. Setting ceritanya di Jordania (Timur 
Tengah) dan London, dengan segala manis dan getirnya kehidupan. Keberagaman ini 
sangat relevan dengan kehidupan masyarakat kita yang majemuk.

Dalam film ini ada sebuah keluarga kelas atas Jordania, Kristen, yang memiliki 
tiga orang putri yang cantik-cantik. Putri tertua bernama Tala baru saja 
mengadakan pesta pertunangan di Jordan dengan Hani, pria Arab Palestina Kristen 
yang tampan. Dan akan segera lanjut ke pernikahan. Tala tinggal di sebuah rumah 
besar di London, sementara Hani bekerja di Pemerintahan Jordania yang menangani 
Hubungan luar Negeri dengan Israel.

Ali, pemuda Arab Muslim, sahabat Tala, berkunjung ke rumah Tala dengan maksud 
memperkenalkan Leyla, pacarnya. Leyla berasal dari keluarga India sukses yang 
tinggal di London.  Leyla adalah penulis yang sedang merintis karir.

Bersama Reema, Ibunda Tala, mereka berempat duduk santai dan ngobrol di sebuah 
ruangan di rumah Tala. Berikut potongan percakapan yang menurutku sangat 
menarik.

Di tengah percakapan, Tala mencomot sepotong kue yang terhidang di meja. Reema 
yang masih terihat cantik di usia lima puluhan tidak senang dan berkata, “Tala, 
bagaimana nanti kalau baju pengantenmu tidak muat?”

Tala cuek dan tetap mengunyah sisa kuenya. Leyla memandang Tala dan berkata, 
“Selamat ya atas pernikahan kamu!  Nanti akadnya di mesjid?

Dengan wajah heran, Reema berkata, “Di gereja, di gereja..!!”

Dengan tersenyum Tala menambahkan, “Tidak semua orang Arab itu Muslim!”

Leyla menjadi kikuk dan berkata, “Ooohh.. maafkan aku! Aku terlalu cepat 
berasumsi.”

Dengan tersenyum manis Tala bertanya pada Leyla, “Apakah kamu Muslim?”

Leyla langsung mengangguk dan berkata dengan pasti, “Iya!”

Kemudian Tala betanya lagi, “Kenapa?”

Reema langsung memotong pembicaraan sebelum Leyla sempat menjawab, katanya, 
“Tala, pertanyaan macam apa itu? Karena dia terlahir Muslim!”

Tala cepat menjawab dengan tetap tersenyum sambil mengelengkan kepalanya, 
“TIDAK. Dia tidak terlahir Muslim!”

Reema bertanya pada Leyla, “Oh ya? Kamu dulu bukan Muslim?”

Leyla kebingungan, tak tahu menjawab apa di tengah pembicaraan Ibu dan Anak 
yang baru dia kenal ini.

Kemudian dengan pernuh percaya diri Tala berkata pada ibunya dan sesekali 
melirik pada Leyla, “Dia terlahir sebagai perempuan, dan menjadi bagian dari 
suatu suku bangsa. Jika sekiranya dulu dia diadopsi oleh keluarga Jahudi, maka 
dia akan menjadi Jahudi.”

“Terima kasih Tuhan dia tidak diadopsi Jahudi!  Yang dibutuhkan Timur Tengah 
saat ini adalah Jahudi tidak semakin banyak.” balas Reema cepat.

“Mama, tolong jangan mulai dengan ‘Anti Semitik’!” kata Tala.

Leyla semakin kebingungan. Dia hanya diam memperhatikan pembicaraan Ibu dan 
Anak yang semakin panas.

Dengan wajah tidak suka Reema berkata, “Anti Semitik? Siapa yang Anti Semitik? 
Aku semitik.  Poinnya adalah nenek moyang bangsa Jordania kebanyakan berasal 
dari Palestina.”

Tala menambahkan, “Yaa… ada juga jutaan Arab Jahudi di seluruh negara-negara 
Arab.”

“Dan penduduk Palestina hidup di penampungan karena mereka kehilangan 
tanahnya.” Leyla yang dari tadi diam kemudian angkat bicara.

“Akhirnya ada juga orang yang berkata masuk akal.” Reema setuju dengan pendapat 
Leyla.

Ali hanya diam mendengarkan pembicaraan mereka.

“Benar, tapi kita harus membuat batasan masa lalu yang jelas bila ingin maju ke 
depan.” Tala menambahkan.

Kemudian pembantu rumah tangga datang dan mengingatkan Reema untuk minum obat.  
Kemudian Reema meninggalkan ruangan. Sebelum pergi dia minta maaf pada Leyla 
atas sikap putrinya yang blak-blakan.  Sepeninggal Reema, Ali duduk mendekat 
pada kedua wanita itu.

Tala berkata pada Leyla, “Kamu belum menjawab pertanyaanku.”

“Aku bukan Jahudi.” Jawab Leyla cepat.

Tala tertawa kecil dan bertanya nakal, “Kenapa tidak?”

“Kamu pun kenapa TIDAK?” balas Leyla cepat.

“Aku tidak terdaftar pada agama mana pun!” jawab Tala.

“Jadi kamu hidup tanpa iman/keyakinan?” tanya Leyla lagi.

“Ah!! Aku tidak berkata seperti itu.” jawab Tala diplomatis..

“Mengapa kamu menyerang keyakinanku?” tanya Leyla.

Tala mejawab dengan senyum, “Tidak. Aku tidak menyerang. Aku cuma mau tahu 
bagaimana dia (agama) itu menemukanmu!”

Tiba-tiba Ali memotong pembicaraan mereka dengan berkata, “Tala… hentikan…!!”

Tala senyum melirik sekilas, sementara Leyla merasa tidak senang pembicaraan 
mereka dipotong, dan berkata pada Ali, “Bukankah ini pembicaraan ringan di 
Timur Tengah?”

“Ya, ini pembicaraan ringan di Timur Tengah.” Jawab Tala cepat, “Untuk 
perdebatan yang serius, kita beralih ke politik.”

Ali langsung berdiri dan berkata, “Sebelum itu terjadi, aku akan membawa Leyla 
pergi untuk makan malam. Mau join bersama kami?” Leyla ikut berdiri diikuti 
oleh Tala.

“Orang tuaku besok akan kembali ke Jordan, Tapi… makasih ajakannya buat kalian 
berdua!” kata Tala.

Kata Leyla, “Mungkin lain waktu.”
Jawab Tala, “Aku suka itu. Dan kita semua bisa membicarakan tentang cuaca 
saja.Sebelum meninggalkan ruangan, kata Ali pada Tala, “Kamu nakal!”
==========================

Pembicaraannya menarik bukan? Bila kita menonton seluruh film, masih banyak 
informasi yang bisa kita dapatkan dari keseharian di Timur Tengah, terutama 
konflik Jahudi dengan Arab. Bagaimana Lamia, adik Tara, dan Kareem, suaminya 
yang sok perduli dengan pengungsi Palestina, tapi cara hidupnya tidak 
mencerminkan demikian. Dan juga Zina, adik bungsu Tala, yang harus putus dengan 
pacar Jahudi-nya karena pacarnya ingin membesarkan anaknya sesuai dengan 
tradisi Jahudi.  Reema menolak keras anaknya berpacaran dengan Yahudi.

Dari pembicaraan di atas, ada hal yang ingin aku bahas, yaitu manusia yang 
terlahir bebas. Aku setuju sekali dengan perkataan Tala bahwa manusia itu lahir 
sebagai manusia, bukan merujuk pada entitas agama. Agama hanya mengikuti di 
mana seseorang dilahirkan. Jadi nilai yang terutama dalam hidup ini adalah 
“manusia”nya, bukan agamanya.

Bila kita amati pembicaraan tadi, ada perbedaan focus yang sangat signifikan 
pada masyarakat kita dengan masyarakat Timur Tengah. Bila di sana, membicarakan 
masalah agama termasuk obrolan ringan, maka di kita bisa menjadi diskusi atau 
pertikaian yang serius. Sebaliknya, di sini membicarakan politik adalah obrolan 
santai atau obrolan warung kopi, tapi menjadi pembicaraan serius yang dapat 
berujung pada pertikaian berdarah pada masyarakat Timur Tengah terutama 
Palestina – Israel.

Yang ingin aku katakan adalah mari kita lebih dewasa dalam menyikapi isu yang 
dikaitkan dengan agama yang berasal dari Negara asing. Sesungguhnya tidak hanya 
isu dari luar negeri, di dalam negeri saja kita gampang tersulut hanya karena 
isu pelecehan agama yang belum tentu benar. Seperti di Ambon yang saat ini 
mulai di bakar lagi oleh orang-orang yang tidak suka melihat perdamaian di 
negeri ini.

Ketahuilah, ujung dari semua pertikaian itu cuma satu yaitu UANG atau MATERI. 
Dengan menyulut isu pertikaian SARA di suatu daerah di Nusantara ini, berarti 
ada pihak tertentu yang ingin mengambil keuntungan. Keuntungan dari dana yang 
digalang dari masyarakat atau donasi dari luar yang “memesan” keributan 
tersebut. Demikian juga di Timur Tengah, pertikaian berdarah yang terjadi pasti 
akan menghasilkan sumbangan dari Negara-negara yang berempati, terutama dari 
PBB.

Apakah uang sumbangan itu untuk membantu korban yang bertikai? Mungkin. Tapi 
porsi yang diberikan pada korban sangat-sangat kecil. Karena sebagian besar 
sumbangan itu untuk kelompok atau organisasi yang menciptakan kerusuhan 
tersebut.

Dengan mengetahui perbedaan di atas, bagiku sangat lucu melihat pemimpin 
kelompok agama di negri ini selalu melemparkan isu agama untuk mendukung 
sentimen politik di Timur Tengah terutama Palestina. Ketahuilah, rakyat 
Palestina dan bangsa Timur Tengah TIDAK berperang karena AGAMA, tapi karena 
batasan Negara atau pun kedaulatan Negara.
Politik Palestina selalu dibungkus agama oleh orang-orang tertentu supaya laku 
di jual karena paling gampang meledak di sini. Mari kita belajar dan memahami 
kondisi di Timur Tengah, supaya tidak gampang terseret oleh gejolak yang 
diteriakkan satu dua orang yang mempunyai agenda.

Selalu ada kelompok yang meneriakkan Palestina sebagai jualannya. Ketahuilah 
saudara-saudaraku, tidak hanya Muslim saja yang berempati pada Palestina. Semua 
manusia berempati pada rakyat Palestina. Pada kemanusiaannya. Rakyat Palestina 
itu terdiri dari bermacam-macam Agama, seperti Islam, Kristen, Jahudi, Ateis, 
dll. Dan sesungguhnya di Palestina sendiri mereka tidak terlalu membawa-bawa 
masalah Agama.

Ada dua hal yang selalu menyulut peperangan di Palestina, satu: masalah 
internal Palestina sendiri, yakni perebutan kekuasaan diantara partai politik. 
Hamas dan PLO hanyalah 2 dari banyak partai politik di Palestina.  Termsuk 
Partai Komunis (Popular Front for the Liberation of Palestine). Yang kedua 
adalah masalah external, yakni persoalan politik dengan Israel. Masalah ini 
sangat komplek dengan sejarah panjangnya. Aku tidak ingin membahasnya di sini, 
mungkin di lain tulisan.

Masih ingatkan dengan istri Yasser Arafat? Suha Arafat. Dia adalah wanita 
Kristen Palestina. Ayah Suha adalah lulusan Oxford dan ibunya politisi dan 
penulis.  Orang tua Suha berimigrasi ke Prancis saat pendirian negara Israel.  
Suha telah menjadi ketua organisasi pelajar Palestina dan aktif mengorganisir 
demonstrasi untuk Palestina sejak dia bersekolah di Prancis.. Kemudian dia 
menikah dengan Yasser Arafat yang Muslim. Perbedaan agama tidak menjadi masalah 
diantara mereka. Sebelum menikah pun Arafat senantiasa hadir dalam kebaktian 
Malam Natal di Gereja Netivity, Bethlehem. Itu salah satu bukti bahwa di 
Palestina isu Agama adalah obrolan ringan. Tapi yang sangat-sangat serius di 
sana adalah masalah batas wilayah, kekuasaan dan pengakuan. Dan itu semua 
berhubungan dengan politik.

Sudah baca novel “My Salwa my Palestine” karangan Ibrahim Fawal? Dia adalah 
Arab Palestina yang kini menjadi warga Negara Amerika. Dia menceritakan gejolak 
yang terjadi saat Israel akan berdiri. Saat itu banyak sekali warga Arab 
Palestina yang beragama Kristen di Jaffa dan kota-kota lainnya. Mereka hidup 
damai bersama dengan warga Muslim dan Jahudi. Karena gejolak itu sebagian besar 
warga Palestina terusir dari tanah Palestina, dan sebagian besar hingga saat 
ini berdiam di camp-camp penampungan.

Demikian juga di Negara Israel saat ini. Taukah anda bahwa demografi di Israel 
adalah 75% Jahudi, 20,5% Arab dan 4,5% bangsa lain? Berbagai agama juga 
diakomodir dalam Negara tersebut. Jumlah muslim di Israel lebih banyak dari 
pada Kristen.  Bahkan ada anggota Knesset (Senat/DPR) dari etnis Arab dan 
beragama Islam.

Taukah anda bila Israel lebih banyak memberikan sumbangan pada rakyat Palestina 
dibandingkan semua Negara-negara Arab? Taukah anda bahwa Bangsa-bangsa Arab itu 
mendua hati terhadap Palestina? Taukah anda bagaimana perlakuan orang Mesir, 
Turki, Arab Saudi, dll terhadap orang Palestina yang ada di Negara mereka?

Berikut cuplikan tulisan Irshad Manji dalam bukunya “Beriman Tanpa Rasa Takut.” 
Nona Manji adalah Muslim, imigran dari Uganda yang kini menjadi warga negara 
Kanada.

“Setelah Perang Teluk tahun 1991, Kuwait mengusir setidaknya 300.000 orang 
Palestina dari perbatasan-perbatasan negerinya sebagai balas dendam terhadap 
Arafat yang mendukung Saddam Hussein, yang menginvasi Kuwait. Sebagian besar 
dari yang terusir itu “tidak pernah mengetahui Palestina atau negara lain 
selain Kuwait.  Mereka lahir dan besar di Kuwait. ” kata Kanan Makiya, penulis 
sebuah buku tentang kekejaman dan kebisuan di dunia Arab. “Selain memeras 
orang-orang yang tak berdosa”, kata Kanan Makiya, “kelompok-kelompok penjaga 
keamanan semiresmi di Kuwait dengan sewenang-wenang menangkap orang-orang 
Palestina.  Jika orang Palestina tersebut tidak ‘hilang’, maka mereka ditembaki 
di depan umum atau disiksa dan dibunuh.”

Pemerintah Libanon, Suriah, dan Irak pun bertingkah seolah-olah jika mereka 
ikut menyelesaikan masalah Palestina, maka mereka hanya akan mengacaukan 
koeksistensi-yang-rapuh antara kaum Syiah dan Sunni.

Libanon? Setali tiga uang! Hukum Libanon sesungguhnya melarang sebagian besar 
pengungsi Palestina bekerja penuh waktu, membeli tanah, atau menjadi pekerja 
profesional. Orang Palestina bertahan hidup dengan pekerjaan serabutan..  
Kenyataannya, satu-satunya negara Arab Islam yang memberikan kewarganegaraan 
kepada pengungsi Palestina adalah Yordania. Itu pun disebabkan karena 
kebanyakan orang Yordania secara etnis adalah orang Palestina.

Berikut ini adalah barometer lain dari kemunafikan Arab. Selama bertahun-tahun, 
Kuwait mendonasikan lebih sedikit daripada donasi Israel kepada badan-badan PBB 
yang peduli terhadap nasib pengungsi Palestina. Arab Saudi juga tak mampu 
mengungguli donasi Israel meskipun uang mereka dari penjualan minyak terus 
menebal. Dan sekarang? Meskipun pundi-pundi uang mereka begitu berlimpah dan 
luas negaranya begitu besar untuk bisa ditinggali pengungsi Palestina, namun 
pemerintah Saudi tidak akan pernah menerima orang Palestina sebagai warga 
negara mereka.

Demikian aku kutip dari buku Irshad Manji.  Bila ada yang ingin membaca tentang 
buku Irshad Manji dapat dibeli di Gramedia. Dia memaparkan dengan sedikit 
vulgar tapi sangat menarik.

Ada pertanyaan yang selalu menggangguku dan sebaiknya kita jawab masing-masing 
dalam hati, yakni: Jika sekiranya warga Palestina tidak ada yang Muslim, 
masihkah ada oraganisasi massa itu turun ke jalan dan mengirim pasukan ke sana 
untuk membantu berperang? Juga sekiranya warga Israel itu semuanya Muslim, 
masihkah mereka dikutuk dan dimurkai oleh kita-kita?

Tujuan saya menuliskan ini adalah supaya kita tidak mudah terbakar dengan isu 
agama yang selalu dihembuskan oleh pihak-pihak yang mempunyai tujuan tertentu, 
terutama uang. Mari kita lebih bijak dan tidak mudah terpancing.

Dan bila kita ingin membantu seseorang atau suatu bangsa, pandanglah mereka 
dari sisi manusianya, tak perduli agama apa yang mereka anut. Manusia tak 
beragama pun layak kita bantu, karena mereka manusia. Jangankan manusia, 
binatangpun sering membuat kita jatuh hati dan hati kita selalu tergerak untuk 
membantu binatang yang kesakitan.

Manusia menderita yang butuh pertolongan tidak hanya di Palestina, banyak suku 
bangsa yang saat ini sedang berperang dan rakyatnya menderita. Mari kita 
ulurkan bantuan kita tanpa mengenakan baju agama, tapi baju kemanusian. 
Sesungguhnya tidak usah jauh-jauh ke Afrika atau Palestina, di Negara kita 
sendiri masih banyak kok saudara kita yang kelaparan dan kesulitan!  Rakyat 
Palestina secara berkala mendapat bantuan dari PBB.  Apakah bantuan itu sampai 
pada rakyat yang menderita? Lihat saja hasilnya! Berapa banyak rumah penduduk, 
sekolah, rumah sakit yang telah mereka dirikan? Dibanding sumbangan yang 
diterima pimpinan mereka, fasilitas-fasilitas umum itu sangat-sangat minim. 
Kemanakah semua uang sumbangan itu???

Oleh sebab itu, pertama-tama mari kita bergandeng tangan membantu 
saudara-saudara kita yang bisa kita lihat terlebih dahulu, yakni tetangga kita, 
saudara se-negara kita, setelah itu baru pada saudara-saudara kita yang jauh. 
Saudara kita ada di Mentawai, Gunung Kidul, pedalaman Papua, Kalimantan dan 
Sulawesi, dan di bawah kolong jembatan di dekat Istana Negara. Di bawah lubang 
hidung kita sendiri bukan?!

Aku akhiri tulisan ini dengan harapan semoga kedepannya sentimen agama yang 
dihembuskan oleh orang-orang jahat yang ingin mengeruk keuntungan dari kondisi 
yang kacau itu TIDAK LAKU LAGI!
Semoga rakyat semakin dewasa dan Indonesia semakin Jaya!

Jakarta, September 16, 2011; 3.26AM
Mery DT

Kirim email ke