Perkosaaan Mei 1998 'tak pernah terungkap, tak pernah dituntaskan'
Sri LestariBBC News Indonesia
*
20 Mei 2018
* Bagikan artikel ini dengan Facebook
<http://www.bbc.com/indonesia/dunia-44134808#>
* Bagikan artikel ini dengan Twitter
<http://www.bbc.com/indonesia/dunia-44134808#>
* Bagikan artikel ini dengan Messenger
<http://www.bbc.com/indonesia/dunia-44134808#>
* Bagikan artikel ini dengan Email
<mailto:?subject=Shared%20from%20BBC%20Indonesia&body=http%3A%2F%2Fwww.bbc.com%2Findonesia%2Fdunia-44134808>
* Kirim <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-44134808#share-tools>
Ilustrasi korban perkosaan masalHak atas fotoDAVIES SURYA/BBC
Pada peristiwa Mei 1998, lebih dari 150 orang perempuan etnis Cina
mengalami perkosaan dan pelecehan seksual, demikian catatan sebuah tim
relawan kasus Mei 1998, dan kasusnya tak juga kunjung terungkap, hingga
kini, 20 tahun kemudian, dan tak ada yang pernah disidangkan.
Ita F Nadia Tim Relawan untuk Kekerasan Terhadap Perempuan menyebutkan
perkosaan Mei 1998 merupakan perkosaan politik di mana tubuh atau
seksualitas perempuan dijadikan alat teror dari situasi politik yang kacau.
/Peringatan artikel ini mengandung konten kekerasan seksual/
------------------------------------------------------------------------
Meski dua puluh tahun berlalu, Ita F Nadia mengatakan mendampingi para
korban perkosaan Mei 1998, merupakan momen mencekam dan tragis dalam
hidupnya. Dia masih mengingat bagaimana mendampingi salah seorang
korban, seorang anak perempuan berusia 11 tahun yang meninggal setelah
diperkosa di kawasan Tangerang.
"Dia meninggal di pangkuan saya, dia diperkosa dan vaginanya dirusak,
ibu dan kakak perempuannya juga diperkosa tapi sudah meninggal beberapa
jam sebelumnya," ungkap Ita.
Ayah dari korban tersebut mengalami depresi.
"Saya dan pendeta mengurusnya. Saya membopongnya ketika didoakan
pendeta, memandikannya. Kemudian menunggunya sampai selesai dikremasi.
Saya selalu tidak tega (mengingatnya)," kata Ita.
Korban merupakan keturunan Tionghoa yang dikenal dengan sebutan 'Cina
Benteng'. Tangerang merupakan salah satu tempat terjadinya perkosaan
massal pada Mei 1998, selain Jakarta Utara, Jakarta Barat dan sejumlah
wilayah dan kota lain seperti Surabaya dan Medan.
* Presiden Jokowi akui banyak kasus pelanggaran HAM belum tuntas
<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42297493>
* Tragedi Mei 1998 : Kenangan dua ibu yang kehilangan anaknya
<http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-44069438>
* Kerusuhan Mei 1998: "Apa salah kami sampai (diancam) mau dibakar dan
dibunuh?" <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-43940188>
Pada 13 Mei 1998 malam, Ita Fathia pertama kali mengetahui terjadinya
perkosaan massal setelah menemui korban kejadian di kawasan Jembatan
Tiga, Jembatan Empat dan Jembatan Lima di Jakarta Barat. Ia menemukan
korban itu setelah mendapatkan informasi dari sejumlah orang melalui
telepon anonim.
"Pertama telepon dari laki-laki katanya ada perkosaan terhadap etnis
Tionghoa di Jakarta Utara. Kami pikir itu bohong, namun sekitar jam 8
ada lagi perempuan menelpon mengatakan ada perkosaan di Jembatan Tiga di
Cengkareng," jelas Ita.
Akhirnya malam itu, Ita dan dua rekannya dari Kalyanamitra pun
memutuskan untuk pergi ke kawasan Cengkareng dengan taksi meski belum
mengetahui dengan jelas rumah para korban.
"Waktu itu di Jakarta Barat sudah ramai, taksi tak bisa masuk, demi
keamanan supir taksi menyarankan saya menggunakan syal sebagai kerudung
ketika keluar taksi," kata Ita.
Dia dan dua rekannya pun berjalan kaki ke Jembatan Tiga. Jalanan ketika
itu sudah kacau, banyak orang menggedor pintu toko. Sampai di Jembatan
Tiga, Ita bertemu dengan camat setempat yang menunjukkan rumah korban
perkosaan.
"Sebelumnya dia menyarankan jangan ke sana karena berbahaya, tapi
setelah tahu kami ingin mendatangi korban, camat itu mendatangi saya dan
mengatakan ibu masih ingin ke sana, dia menunjuk arah beberapa rumah,
yang korban di sana, sana dan sana," jelas Ita.
Kerusuhan Mei 1998Hak atas fotoCHOO YOUN-KONG/AFP/GETTY IMAGESImage
captionPada 12-13 Mei 1998 terjadi penjarahan massal dan pembakaran di
sejumlah tempat di Jakarta.
Ketika mendatangi rumah pertama yang ditunjuk camat tersebut, Ita
bertemu dengan korban perkosaan yang diperkirakan berusia 18-19 tahun.
"Tatapan matanya sudah kosong, saya lalu mendatangi rumah kedua dan
ketiga, benar saja saya menemukan korban dalam keadaan yang sama: sudah
mengucurkan banyak darah. Mereka dari kalangan Cina miskin," kata mantan
Direktur Kalyanamitra ini.
Ita mengaku saat itu kebingungan dalam menangani korban karena belum
pernah punya pengalaman menangani kasus perkosaan seperti itu.
"Akhirnya saya tanya apakah punya/betadine/untuk luka, dan tutup pintu
dulu, sebelum mencari bantuan," jelas Ita.
Setelah memberikan pertolongan pertama sebisanya pada para korban di
Jembatan Tiga, Ita dan rekannya kembali ke kantor. Di sana para relawan
menerima banyak telepon kasus perkosaan.
Selama 13-14 Mei 1998, kasus perkosaan banyak dilaporkan. Ita pun
mendatangi para korban yang diantaranya adalah mahasiswa perguruan
tinggi swasta di Jakarta, yang diselamatkan di pastoran.
"Sampai di sana, ada dua perempuan dadanya ditutup plastik hitam, kaki
saya bergetar ketika membukanya, mereka menderita luka pada payudaranya
dan vaginanya, semuanya mengeluarkan darah," ungkap Ita.
Dia bersama rekannya dari tim relawan dan pastor tersebut berupaya
membawanya ke rumah sakit, namun dalam perjalanan mereka memutuskan
untuk membawa korban langsung ke bandara untuk diterbangkan ke Singapura.
"Karena mereka mengalami pendarahan hebat, dan sampai di bandara mereka
dapat diterbangkan ke Singapura, tanpa paspor ataupun visa," jelas Ita.
Situasi bandara Soekarno-Hatta saat itu sangat padat dan kacau, dan
banyak orang yang mencari tiket untuk segera pergi dari Indonesia.
Ketika melintas di kawasan Jakarta Barat, dalam perjalanan kembali dari
bandara, Ita mengatakan melihat sebuah mobil yang dikerumuni massa dan
penumpangnya suami istri dan seorang anak. Mereka pun ditolong dan
diantar ke bandara.
Di kawasan Cengkareng, Ita mengatakan melihat banyak perempuan keturunan
Cina yang berlarian sambil berteriak. Ita dan sejumlah rekannya pun
menghentikan kendaraan untuk berupaya menolong korban.
"Tiba-tiba muncul seorang yang dipanggil pak haji, dia membantu kami
menolong perempuan-perempuan tersebut dan membawanya ke tempat
tinggalnya," kata Ita.
Untuk menangani korban, dibentuk Tim Relawan Untuk Kekerasan Terhadap
Perempuan. Tim ini mendapatkan bantuan dari sejumlah organisasi
keagamaan Katolik, Kristen, Buddha, Konghucu serta petugas medis. Salah
satunya dr. Lie Dharmawan.
Ita mengatakan komunitas agama dan medis memberikan tempat penampungan
yang aman bagi para korban. Kemudian korban ditangani luka fisiknya,
setelah itu pemulihan trauma.
Dr Lie mengatakan ada beberapa korban perkosaan yang mengalami trauma
berat dan sangat ketakutan jika melihat laki-laki.
Dia lebih banyak menangani para korban yang memerlukan pembedahan sesuai
dengan keahliannya.
"Kasus yang saya ingat, ada korban yang menjatuhkan diri dari lantai
tiga sehingga mengalami patah tulang iga. Ada gadis berusia belasan
tahun yang kakinya sudah bau dan bernanah karena terkena beling ketika
berlari untuk bersembunyi," jelas dokter Lie.
Sandyawan Sumardi, anggota TGPF mengatakan sempat dihubungi dokter Lie
ketika terjadi kasus kekerasan seksual terhadap seorang mahasiswi
universitas swasta di Jakarta.
"Korban mengalami luka pada perut dan vaginanya karena ditusuk besi
penyangga gorden, korban selamat meski mengalami pendarahan yang cukup
hebat," kata Sandyawan.
Kekerasan seksual itu terjadi setelah 15 Mei. Korban yang mengalami
trauma kemudian didampingi oleh Sandyawan dan salah satu penyintas
kekerasan seksual lainnya.
Penyintas yang menjadi 'pendamping' korban tersebut menurut Sandyawan,
mengalami perkosaan di taksi selama sembilan jam. Lalu dia dibuang di
suatu tempat dan diantar pulang oleh supir taksi.
"Supir melihat ada KTP dan alamat lengkapnya, jadi diantar keluarganya.
Saya mengetahuinya setelah dihubungi susteran," kata Sandyawan yang juga
pendiri Tim Relawan Untuk Kemanusiaan.
Bertemu presiden dan utusan khusus PBB
Sepanjang Mei 1998, Tim Relawan untuk Kekerasan terhadap Perempuan
melakukan pendataan para korban perkosaan tak hanya di Jakarta, namun
juga di Medan dan Surabaya. Jumlah korban mencapai 150 orang, namun
diperkirakan banyak yang tidak melaporkan kasusnya.
Dibantu Prof. Saparinah Sadli yang juga anggota tim relawan, Tim bertemu
dengan Presiden BJ Habibie.
Dalam pertemuan itu, Habibie secara khusus bertanya mengenai kekerasan
seksual yang dialami perempuan keturunan Cina.
"Ya saya ingat, saudara saya (seorang dokter perempuan yang dia sebut
namanya) juga pernah menceritakan hal serupa. Dia tidak bohong pada
saya", ujar Habibie seperti dikutip dari laporan Komnas Perempuan
terhadap Tragedi Mei 1998.
Kerusuhan MeiHak atas fotoARSIP BBCImage captionKerusuhan Jakarta 13-15
Mei, kekerasan seksual terhadap perempuan etnis Cina terjadi dalam
periode tersebut.
Setelah itu Habibie bersedia membuat permintaan maaf atas nama
pemerintah. Sikap Habibie itu dipertanyakan oleh Letjen Sintong
Pandjaitan yang saat itu menjadi penasihat militer presiden.
"Pak apakah hal ini tidak perlu dibahas di sidang kabinet terlebih
dulu?" Namun Habibie menjawab/"Can I have my own opinion?/Kebetulan saya
setuju dengan ibu-ibu tokoh masyarakat ini". Begitu kisah Ita Fathia nadia.
Saat itu juga, permohonan maaf disusun untuk dibacakan di depan wartawan
di Istana. Selain menyatakan mengutuk dan meminta maaf atas kerusuhan
Mei kepada para korban, presiden juga membentuk Tim Gabungan Pencari
Fakta, dan keputusan untuk mendirikan Komnas Perempuan.
Ita Nadia dan Sandyawan menjadi anggota TGPF, namun Ita kemudian keluar
setelah anggota TGPF dari kepolisian bersikeras untuk bertemu dengan
korban perkosaan.
Sebelumnya Tim telah berupaya untuk bertemu dengan pelapor khusus
kekerasan perempuan PBB, Radhika Coomarswary, di Sri Lanka. Hasil
pertemuan itu, tim diminta untuk memfasilitasi laporan tersebut yaitu
Asia Pasific Women Law and Development di Bangkok, Thailand.
Radhika kemudian membuat laporan ke Komisi Tinggi Hak Asasi Manusia PBB
di Jenewa Swiss, dan melakukan investigasi ke Indonesia pada November 1998.
Kerusuhan MeiHak atas fotoARSIP BBCImage captionKerusuhan Mei tak hanya
terjadi di Jakarta, tapi di Medan, Surabaya dan Solo.
"Saat itu kami mempertemukan korban dengan Radhika, ada beberapa yang
bersedia dan kami berupaya agar pertemuan berlangsung tertutup, bahkan
ada yang memberikan kesaksian di dalam mobil box agar identitasnya tidak
diketahui media," ujar Ita.
Tak hanya kasus perkosaan Mei, kasus kekerasan terhadap perempuan di
Aceh, Papua dan Timor Leste juga dilaporkan ke PBB.
Kesaksian di depan komunitas internasional juga pernah disampaikan
seorang korban yang mengalami perkosaan selama sembilan jam di dalam
taksi. Korban yang didampingi Sandyawan dan Karlina Supeli, menyampaikan
kesaksian di depan komunitas internasional di PBB Jenewa Swiss dan juga
Kongres AS Bersama dengan penyintas dan keluarga korban Mei 1998.
Namun, setelah memberikan kesaksian tersebut, dia tak dapat kembali ke
Indonesia karena masalah keamanannya.
"Sampai di Singapura dia tak bisa pulang, dikejar dan sampai detik ini
tak bisa pulang, saat itu dari Singapura kembali ke AS setelah dijemput
tunangannya," ungkap Sandyawan.
Ancaman dan pembunuhan korban perkosaan
Berbagai ancaman diterima oleh para korban, saksi dan juga pendamping
yang berbicara mengenai perkosaan Mei 1998 secara terbuka.
Sandyawan mengatakan salah seorang saksi yang melihat kekerasan seksual
ketika berjalan kaki dari bandara menuju rumahnya, pernah memberikan
kesaksian di media nasional.
"Dia itu mahasiwi dan diberikan pakaian laki-laki oleh seorang pak haji
supaya selamat, lalu setelah tampil di media, malamnya dia dikejar oleh
seseorang dan ketakutan, lalu lari ke luar negeri," jelas Sandyawan.
Pada Oktober 1998, seorang anggota tim relawan, Ita Martadinata Haryono
(18 tahun) dibunuh satu minggu sebelum menyampaikan kesaksian di PBB
bersama dengan ibunya Wiwin Haryono dan komunitas Buddha.
Ita Nadia dan Sandyawan yang pertama datang ke rumah Ita Martadinata di
kawasan Sumur Batu Jakarta mengatakan, dia meninggal akibat luka pada
bagian leher dan vagina.
"Ketika saya ke kamarnya, darah Ita masih hangat, " kata Ita Nadia.
Ita dibunuh ketika pulang sekolah. Pembunuhnya sampai saat ini tak
pernah terungkap.
Ita MartadinataHak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSosok Ita
Martadinata korban perkosaan yang dibunuh sebelum bersaksi di PBB, dalam
lukisan karya Dewi Candraningrum, dipajang di lobi luar kantor Komnas
Perempuan, Jakarta.
Setelah pembunuhan Ita Martadinata, para relawan pendamping diminta
untuk tidak berbicara tentang kasus perkosaan sementara waktu, sampai
situasi mereda. Semua data dan bukti pun disimpan dengan rapi.
"Semua/hardisk/yang berisi data kasus perkosaan dicopot lalu disimpan di
luar kantor," kata Ita.
Dua hari setelah pembunuhan Ita Martadinata, kantor Kalyanamitra dibobol
orang yang berusaha mencuri/hard disk/.
Setelah kejadian itu, Ita Nadia mendapatkan telepon ancaman dari
seseorang yang mengancam untuk memperkosanya dan menculik anaknya.
"Kalau kamu tidak berhenti bicara tentang perkosaan, saya akan
memperkosa kamu dan saya akan ambil dua anak kamu," kata Ita,
mengisahkan lagi ancaman itu.
Menurut Ita, bahkan ada orang yang datang ke sekolah anaknya, mengaku
diminta menjemput, namun kepala sekolahnya tak mengizinkan.
Anak-anaknya kemudian diungsikan ke Yogyakarta, di rumah orang tua Ita.
Ancaman melalui telepon juga beberapa kali diterima dr. Lie bahkan
sampai satu tahun setelah kerusuhan Mei terjadi.
"Halo dokter Lie ini Cina ya, sekarang ini Cina-Cina enak ya boleh
bersuara seenaknya, ngomong seenaknya," demikian salah satu telepon
gelap itu seperti ditirukan dr. Lie.
"Malam berikutnya, ada telepon lagi, bilangnya, 'dokter Lie saya ini
jenderal lho membawahi preman-preman dan saya akan mengirimkan preman
yang saya bina untuk membawa hadiah'".
Mendengar kata hadiah, dr. Lie langsung teringat granat aktif yang
diletakkan di depan kantor Sandyawan.
"Granat itu dijinakkan oleh gegana polisi," kata dia.
Dr. Lie akhirnya memutuskan untuk pergi ke Jerman dan tinggal di sana
selama setahun.
Sementara Ita melawan teror tersebut dengan menyampaikan pernyataan
melalui televisi.
"Saya bilang di TV bahwa saya tidak akan berhenti mengurus perkosaan 98
dan tidak akan takut menghadapi siapapun, dan kami para relawan pun
masih terus mengurusi korban," kata Ita.
Kondisi korban
Sejumlah korban yang sempat didampingi Ita kembali membangun
kehidupannya yang sempat hancur karena perkosaan.
"Yang mahasiswi keduanya sudah lulus dan bekerja, ada juga yang akhirnya
memilih tinggal di AS, " kata Ita.
Dalam laporan Komnas Perempuan yang berjudul Disangkal!, dikisahkan
seorang korban dengan nama samaran Lani, seorang pedagang kue yang
diperkosa lalu diselamatkan Haji Ramli (bukan nama sebenarnya).
Ketika mengetahui Lani merupakan korban perkosaan, suaminya tidak mau
mengakui dia sebagai istrinya, tidak mau menyapa dan bahkan mengusirnya
karena dianggap sebagai pembawa petaka dan aib. Lani pergi bersama tiga
anak dan ibunya mendatangi Pak Haji yang membantunya menyewakan sebuah
rumah.
"Dia sempat ingin bunuh diri, namun teringat ibu dan anak-anaknya.
Dengan bantuan keluarga Pak Haji, Lani perlahan kembali bangkit dari
trauma. Bermodalkan uang pinjaman dari Pak Haji, Lani pun kembali
berjualan, dan bisnisnya semakin berkembang," kisah Ita lagi.
Kepada pendampingnya Lani mengatakan "Sampai sekarang saya tidak habis
pikir, mengapa hanya karena pergantian presiden (Soeharto), ada
segelintir orang tega memperkosa keturunan Cina dan membakari rumah
orang Cina? Mengapa ada orang yang tega menelanjangi dan memperkosa
seorang perempuan beramai-ramai, seperti binatang?"
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com