20 TAHUN REFORMASI
*Soeharto Tumbang, 'Lebaran' ala Tahanan Politik LP Cipinang*
*Ramadhan Rizki*, CNN Indonesia | Senin, 21/05/2018 12:28 WIB
Soeharto Tumbang, 'Lebaran' ala Tahanan Politik LP CipinangBudiman
Sudjatmiko (berdasi) merayakan lengsernya Soeharto sebagai Presiden RI
dari balik penjara. (REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kamis pada penghujung*Mei 1998
<https://www.cnnindonesia.com/tag/reformasi-98>*, di salah satu sel
sempit di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Kelas I Cipinang, Jakarta, aktivis
Partai Rakyat Demokratik (PRD) *Budiman Sudjatmiko
<https://www.cnnindonesia.com/tag/budiman-sudjatmiko>*sudah bangun sejak
subuh.
Tiga aktivis PRD lainnya yang berbagi sel dengannya, Petrus Hari
Hariyanto, I Gusti Anom Astika, dan Yakobus Eko Kurniawan, masih
terlelap. Ketiganya adalah tahanan politik di era*Presiden Soeharto
<https://www.cnnindonesia.com/tag/soeharto>*.
Selepas menjalankan salat subuh, Budiman bergegas mandi dan menjalani
kebiasaan rutinnya; mendengarkan siaran berita melalui radio kecil yang
terpasang di salah satu blok. Salah satu dari sedikit cara untuk
mengetahui dunia.
"Kami waktu itu ada radio [di penjara], jadi teman-teman tahu
perkembangan informasi dan Soeharto turun," kata dia, saat ditemui
CNNIndonesia.com, di Jakarta, pada Kamis (15/3).
Lihat juga:
Drama Tanpa Kata 'Ayah-Anak' ala Soeharto dan Habibie
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180518104025-20-299175/drama-tanpa-kata-ayah-anak-ala-soeharto-dan-habibie/>
Sekitar pukul 08.30 WIB, radio itu mengabarkan bahwa akan ada siaran
langsung atau/breaking news/ dari Istana Negara. Mendengar hal itu,
Budiman lantas mengajak para tahanan lainnya untuk bersama-sama
mendengarkan siaran langsung tersebut. Mereka pun berkerumun.
"Kita kelilingi radio itu agar bisa mendengar berita itu," kata Budiman.
Saat itu, para tahanan diselimuti tanya soal isi berita tersebut
nantinya. Mereka berlomba memprediksi; Soeharto lengser, atau malah
sebaliknya, Soeharto mengumumkan darurat militer di Indonesia
pascaperistiwa kerusuhan dan demonstrasi di berbagai kota besar.
Sekitar pukul 09.00 WIB, berita itu menyiarkan suara Soeharto yang
sedang berpidato untuk menyatakan dirinya berhenti dari jabatannya
sebagai Presiden.
Sontak, seluruh tahanan politik di LP Cipinang bersorak gembira. Menurut
Budiman, "suasana di ruangan tahanan itu layaknya selebrasi perayaan
kemenangan".
Para tahanan saling bersalaman, berangkulan, hingga meneteskan air mata
merayakan jatuhnya Soeharto.
Momen pengunduran diri Soeharto sebagai Presiden RI sering dianggap
sebagai puncak Reformasi 1998. Momen pengunduran diri Soeharto sebagai
Presiden RI sering dianggap sebagai puncak Reformasi 1998. (REUTERS)
Tak berselang lama, Kepala LP Cipinang saat itu beserta beberapa sipir
turut mendatangi sel tahananya dan mengucapkan selamat atas hasil dari
perjuangan Budiman dan teman-temannya.
"Selamat ya mas, perjuanganya berhasil," kata Budiman, menirukan ucapan
Kepala LP Cipinang kepadanya, ketika itu.
Budiman menyebut Kolonel Latief, tapol kasus G30S/PKI, menjadi sosok
yang paling bersuka ria menyambut turunnya Soeharto dibanding tapol lainnya.
Dia yang sudah puluhan tahun dipenjara itu, sambil terpincang-pincang
akibat penyakit stroke, menemuinya untuk mengatakan bahwa mimpinya
terwujud.
"Dia [Latief] bilang ke saya, 'Soeharto turun, Soeharto
turun, mimpi saya jadi kenyataan'," kata dia, sambil menirukan ucapan
Latief.
Sebagai tanda bersyukur, Latief lantas mengumpulkan para tapol dan
tahanan umum lainnya untuk berpesta. Bentuknya, menyembelih dan
membakar beberapa bebek. Meski tak terlalu mewah, katanya, para tahanan
sangat menikmati hidangan tersebut.
Lihat juga:
Amien Rais, Sejarah Kritik dan Julukan Pengkhianat Reformasi
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180518135717-20-299247/amien-rais-sejarah-kritik-dan-julukan-pengkhianat-reformasi/>
Bebek-bebek itu diambil dari kandang ternak yang biasa dikelola Latief
dalam menghabiskan waktunya di penjara. Latief sendiri mengisi kesibukan
di penjara dengan mengikuti bidang kerja peternakan dan penulisan buku.
Daging-daging Bebek itu pun kemudian dibagi-bagikan kepada para tahanan
lainnya yang tak sempat mengikuti pesta itu secara langsung.
"Kita dengan tahanan-tahanan politik lainnya merayakan kita potong
bebek, karena pas itu Pak Latief dia melihara bebek dan kemudian dia
minta syukuran bareng-bareng, bahkan tahanan-tahanan di blok-blok lain
dateng semua," kata Budiman.
Saking bersuka citanya, ia menyamakan suasana hari pertama di LP
Cipinang pascajatuhnya Soeharto bak perayaan Idul Fitri atau 'Hari
Kemenangan' bagi para Tapol.
Sejak lama lengsernya Soeharto menjadi harapan terbesar Budiman dan para
Tapol lainnya.
Sri Bintang Pamungkas adalah salah satu tahanan politik yang
dipenjarakan di era Soeharto. Sri Bintang Pamungkas adalah salah satu
tahanan politik yang dipenjarakan di era Soeharto. (REUTERS)
Budiman mengaku sudah memperediksi bahwa krisis multidimensi seperti
krisis moneter dan peristiwa berdarah di Trisakti bakal melengserkan
Soeharto dalam waktu dekat. Terlebih lagi, ada korban jiwa yang tak
sedikit yang membuat gelombang massa terus bermunculan dan membesar
menuntut Soeharto turun.
"Nah benar nih, setelah terjadi krisis politik sekarang mulai terjadi
krisis ekonomi. Saya yakin bahwa kami bakal lebih cepat [keluar penjara]
dan kami bisa melakukan proses demokratisasi," kata Budiman.
*Sarang Penentang*
Soeharto menyatakan berhenti dari jabatannya, di Istana Negara, Jakarta,
21 Mei 1998. Tanggal ini menjadi penanda simbolik runtuhnya Orde Baru.
Budiman sendiri dikurung di tempat itu sebagai tapol Orde Baru sejak Mei
1997 hingga 1999. Menurutnya, LP Cipinang merupakan simbol kediktatoran
Soeharto. Tempat itu berfungsi sebagai 'penampung akhir' para penentangnya.
Di antaranya, Xanana Gusmao, yang kini menjabat Presiden Timor Leste;
aktivis Sri Bintang Pamungkas, aktivis Mochtar Pakpahan, hingga para
aktivis PRD.
Budiman ketika itu ditangkap atas tuduhan 'makar' akibat keterlibatannya
dalam peristiwa 27 Juli 1996 di kantor PDI, Jalan Diponegoro, Jakarta.
Ia juga dikenal sebagai Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang
dianggap merongrong Orde Baru.
"Begitu kami di LP Cipinang kami ketemu ada banyak tahanan politik ada
kasus G30S, peristiwa Lampung, ada yang divonis 30 tahun; mereka tua di
sana, ada yang divonis 25 tahun. Saya masih [divonis] 15 tahun, masih
sedikitlah," selorohnya, yang kini menjadi Anggota Komisi II DPR itu.
Budiman Sudjatmiko dan aktivis PRD lainnya dipenjarakan atas tuduhan
mendalangi kerusuhan 27 Juli 1996. Budiman Sudjatmiko dan aktivis PRD
lainnya dipenjarakan atas tuduhan mendalangi kerusuhan 27 Juli 1996.
(REUTERS)
Selain dirinya, ada delapan aktivis PRD lain yang ditahan di tempat yang
sama. Yakni, Petrus Hari Hariyanto, Anom, Kurniawan, Wilson, Ignatius
Pranowo, Garda Sembiring, Suroso, dan Ken Budha Kusumandaru.
Jauh sebelum Soeharto mundur, tingginya tembok penjara LP Cipinang tak
mengalangi aktivitas politik Budiman bersama pengurus PRD lainnya untuk
menentang dan menumbangkan rezim orde baru saat itu.
Sejak masuk penjara di tahun 1996, Budiman bersama pengurus PRD lainnya
yang tak dipenjara tetap melakukan komunikasi dan konsolidasi secara
'underground' atau sembunyi-sembunyi dari dalam penjara agar roda
organisasi dan tujuan melengserkan Seoharto tetap berjalan.
Lihat juga:
Usaha Soeharto Bungkam Amien: Beri Kode, Hingga Kriminalisasi
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180518141238-20-299253/usaha-soeharto-bungkam-amien-beri-kode-hingga-kriminalisasi/>
Budiman bercerita bahwa para anggota PRD memanfaatkan jam besuk penjara
tiap hari Rabu dan Kamis untuk berkonsolidasi dan saling bertukar
infomasi penting dengan rekannya sesama pegiat PRD di lapangan.
Dia mengaku sempat membuat pidato serta memberikan saran dan
rekomendasi tentang arah dan tujuan perjuangan agar PRD dengan cara
membuat catatan kecil yang diselundupkan agar PRD tetap bertahan dalam
garis perjuangannya.
"Mereka [anggota PRD] biasanya laporan perkembangan di luar, informasi
dari luar ke dalam diselundupkan, kami baca, tapi tidak detail, hanya
garis besar. Paling kita kasih catatan kecil ke mereka semacam saran dan
rekomendasi terus diselundupkan," tuturnya.
Reformasi 98 menelan korban jiwa yaitu mahasiswa Trisakti yang ditembak
ketika sedang berdemonstrasi. Reformasi 98 menelan korban jiwa yaitu
mahasiswa Trisakti yang ditembak ketika sedang berdemonstrasi. (Dok. CNN
Indonesia)
*Menyusun Gerakan di Penjara*
Setelah saling bertukar informasi, Budiman lantas saling berdiskusi
dengan pengurus PRD lainnya yang berada di dalam penjara untuk menyusun
sikap dan strategi merespons kendala di lapangan.
"Jadi setiap mereka besuk dan pulang, itu tiap malam kami di penjara
satu ruangan kan 3-4 orang, terus informasi yang kita dapatkan itu kita
diskusikan lagi," kata Budiman.
Budiman juga mengatakan bahwa informasi soal pergerakan mahasiswa yang
mulai menguat menentang Soeharto di awal 1998 turut ia dapatkan dari
kurir atau rekan sesama aktivis PRD yang rutin datang setiap pekan ke LP
Cipinang.
Lihat juga:
Hari Ini 20 Tahun Silam: Saat Soeharto Bertekuk Lutut
<https://www.cnnindonesia.com/nasional/20180520212528-20-299827/hari-ini-20-tahun-silam-saat-soeharto-bertekuk-lutut/>
"Jadi informasi itu pakai mereka [kurir dari luar]. Selain itu kita
juga sering dengerin radio siaran berita, gerakan-gerakan mahasiswa
muncul kami dengar dari radio juga. Kita dengerin pergerakan mahasiswa
dari kota ini, kota itu," kata dia.
Sesudah Soeharto lengser, Budiman beserta delapan aktivis PRD lainnya
menjalani masa penahanan sekitar tiga tahun di LP Cipinang. Presiden
Abdurraham Wahid atau Gus Dur memberikan amnesti. Para aktivis kemudian
kembali melanjutkan perjuangannya dari luar dinding penjara.
*(arh/asa)*
---
此電子郵件已由 AVG 檢查病毒。
http://www.avg.com