Pudarnya 'Pesona' Juru Kunci Merapi Setelah Mbah Maridjan
FHR, CNN Indonesia | Rabu, 23/05/2018 10:15 WIBBagikan :     Juru kunci Gunung 
Merapi saat ini, Mbah Asih, kalah populer dibandingkan pendahulunya, Mbah 
Maridjan. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)Jakarta, CNN Indonesia -- Sosok 
juru kunci pernah menjadi salah satu bagian penting bagi masyarakat yang 
tinggal di lereng Gunung Merapi. Perannya dipercaya menjadi penjaga keselamatan 
Bumi Ngayogyakarta Hadiningrat (Yogyakarta). Juru kunci atau kuncen Merapi yang 
paling dikenal Publik adalah Mbah Maridjan. 

Pernyataanya soal status gunung api paling aktif itu selalu didengar warga. 
Hingga pada 2010, saat letusan besar Merapi yang turut merenggut nyawa pria 
bernama asli Mas Penewu Surakso Hargo itu.

Setelah Mbah Maridjan meninggal, peran juru kunci seakan tenggelam oleh abu 
vulkanik yang dimuntahkan Gunung Merapi kala itu. Padahal, Keraton 
Ngayogyakarta pada April 2011 telah menunjuk Kliwon Suraksohargo Asihono atau 
yang akrab disapa Mbah Asih sebagai pengganti Mbah Maridjan. 


Mbah Asih merupakan putra ketiga Mbah Maridjan. 

Lantas, kenapa saat ini peran juru kunci seakan terlupakan?

Menurut Mbah Asih erupsi yang terjadi pada 2010 memberikan banyak pelajaran 
bagi masyarakat di lereng Gunung Merapi. Ratusan nyawa melayang dalam peristiwa 
itu. 

"Warga masyarakat di sini sudah trauma dengan kejadian di tahun-tahun yang 
lalu," kata Mbah Asih saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (23/5).


| 
Lihat juga:
 Letusan Freatik 4 Menit, Merapi Sebar Abu ke Magelang |

Dari peristiwa erupsi Merapai pada 2010, kata Mbah Asih, masyarakat kini lebih 
disiplin atas informasi yang disampaikan pihak-pihak berwenang seperti Balai 
Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta 
atau Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). 

Selain karena informasi yang disampaikan lebih rinci, akurasinya juga lebih 
bisa dipercaya dan diterima masyarakat karena berdasarkan data-data empirik.

"Jadi, sekarang masyarakat sangat tanggap. Mereka selalu siap. Informasi dari 
BPPTKG, BNPB itu, kan, lebih valid dan rinci," kata dia.

Namun demikian, Mbah Asih mengatakan berbagai hal yang bersifat batiniah dan 
telah melekat pada diri masyarakat lereng Gunung Merapi tetap hidup hingga saat 
ini. 

Mbah Asih menjelaskan jika warga merasa Gunung Merapi akan bergejolak, mereka 
akan mengevakuasi diri secara mandiri tanpa didahului informasi pihak terkait.

"Mungkin kalau ada suara yang kurang enak di hati, mereka juga turun tanpa 
tunggu instruksi," kata Mbah Asih.


| 
Lihat juga:
 Sleman Siapkan 9 Titik Pengungsian Gunung Merapi |

Sementara itu, Sosiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Sunyoto Usman 
menyebut sedikitnya dua faktor yang membuat peran juru kunci Gunung Merapi saat 
ini seakan telah hilang. Pertama, terkait minimnya ekspose terhadap sang juru 
kunci.

Seperti diketahui, peran Mbah Marijan sebagai Juru Kunci Gunung Merapi semakin 
diketahui masyarakat luas, khususnya masyarakat di luar Yogyakarta, setelah 
erupsi yang terjadi pada 2006. 

Saat terjadi erupsi, Mbah Maridjan memilih menyepi di pelataran Srimanganti 
yang berada di lereng selatan Gunung Merapi meskipun Sultan Hamengkubuwono (HB) 
X telah memintanya untuk turun gunung.


| Juru kunci Merapi, Mbah Asih tengah mengikuti upacara adat. (Detikcom/Ristu 
Hanafi) |

Mbah Marijan enggan menuruti perintah Sultan HB X karena telah diperintah oleh 
sultan sebelumnya, yakni Sultan HB IX, agar menjaga merapi. Ia pun berusaha 
menepati janji itu hingga akhir hayatnya.

Setelah erupsi, ternyata Mbah Marijan tetap dalam keadaan baik-baik saja. 

Dari sinilah kisahnya tersebar. Setiap ada persoalan yang terkait dengan Gunung 
Merapi, Mbah Maridjan pun turut dimintai pendapat. 


| 
Lihat juga:
 Gunung Merapi Waspada, Sultan Yogya Minta Masyarakat Tenang |

Nama Mbah Maridjan semakin melambung karena menjadi salah satu bintang iklan 
produk minuman energi. Pemerintah Jerman yang tengah menggelar Piala Dunia 
bahkan pernah berniat mengundang Mbah Maridjan untuk hadir di acara pembukaan 
Piala Dunia 2006. Namun, Mbah Maridjan menolak.

"Ketokohannya (Mbah Maridjan) itu jadi menarik dan diekspose oleh media. 
Meskipun belum ada penelitian, tapi dugaan saya, tokoh yang seperti itu 
sekarang hampir tidak ada," kata Sunyoto.

Faktor selanjutnya, kata Sunyoto, yakni perubahan pola pikir atau pandangan 
masyarakat setempat. 

Menurut Sunyoto pasca erupsi 2010 yang mengakibatkan banyak korban, Pemerintah 
DIY, Sleman, Boyolali, Magelang, dan Klaten cukup intensif melakukan 
sosialisasi terkait bencana dan penanggulangannya. Kemudian, ada juga inisiatif 
dari warga menjadikan lokasi erupsi sebagai tempat wisata. 

Langkah itu berperan penting dalam merasionalisasi pemikiran masyarakat 
setempat. Mereka pun jadi lebih terbuka terhadap pandangan yang lebih rasional, 
termasuk pandangan terkait bencana yang berbasis pada data dari ilmu 
pengetahuan dan teknologi.

"Secara teori, kan, ada ruang-ruang (pemikiran) baru yang terbentuk, lalu diisi 
kebiasaan kebiasaan baru. Kalau hal itu terjadi terus-menerus, lama-kelamaan 
(masyarakat) menjadi rasional, terbuka, mengandalkan ilmu dan informasi," kata 
Sunyoto.


| Petugas Pos Pengamatan Gunung Merapi. masyarakat kini lebih percaya pada 
informasi yang dikeluarkan lembaga kegunung apian. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot 
Nugroho) |


| 
Lihat juga:
 Merapi Waspada, Belum Ada Indikasi Pergerakan Magma |

Meskipun peran teknologi dan ilmu pengetahuan sudah lebih diterima masyarakat 
lereng Gunung Merapi, namun peran juru kunci tidak lantas hilang sepenuhnya. 

Kata Sunyoto, masih ada sebagian masyarakat yang mempercayai peran juru kunci. 
Keyakinan itu secara mendalam melekat di diri generasi yang lebih tua.

Selain itu, juru kunci diyakini tetap memiliki peran selama keyakinan yang 
bersifat metafisik tetap dilestarikan oleh pemerintah daerah dan warga 
setempat. Misalnya seperti melestarikan mitos terkait garis imajiner yang 
menghubungkan antara Merapi, Tugu Jogja, Keraton, dan Pantai Parangtritis. 

Sunyoto menyebut mitos tersebut masih hidup dan bertahan hingga saat ini 
meskipun Yogyakarta sangat berkembang.

"Mereka menerima (hal baru) tapi tetap mempertahankan tradisi yang lama. Setiap 
perubahan di masyarakat selalu seperti itu, akan terjadi tarik menarik 
(perubahan pandangan lampau dengan yang baru)," kata Sunyoto. (wis)

Kirim email ke