https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?
_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586
Jumat 25 Mei 2018, 14:38 WIB
Kolom
Generasi Awam Reformasi
Fahd Pahdepie - detikNews
<https://connect.detik.com/dashboard/public/fahdpahdepie1>
Fahd Pahdepie <https://connect.detik.com/dashboard/public/fahdpahdepie1>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
Tweet
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
Share *0*
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
0 komentar
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
Generasi Awam Reformasi Ilustrasi: ist.
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
<https://news.detik.com/kolom/d-4038328/generasi-awam-reformasi?_ga=2.188553576.1558967250.1527272586-480979218.1527272586#>
*Jakarta* -
"Sedang apa kalian 21 Mei 1998?" Pertanyaan itu belakangan ramai dicuit
atau ditulis para aktivis di akun media sosial mereka. Seolah
menunjukkan bahwa dulu mereka bergerak, turun ke jalanan, turut
menggulingkan rezim Orde Baru. Pada saat bersamaan, pertanyaan itu juga
bernada sinis, semacam menuding hidung sebagian pejabat atau figur
publik tertentu yang terindikasi tak punya rekam jejak perjuangan di era
Reformasi 1998.
Namun, pertanyaan itu mengusik saya: /Sedang apa saya 21 Mei 1998?/
Waktu itu saya masih SD kelas 5. Reformasi buat saya hanya kata yang
sering saya dengar di berita TV dan radio, atau obrolan ayah di ruang
tamu bersama teman-temannya dari kampus. Selain itu, buat saya reformasi
hanya judul album yang tertulis di boks kaset bajakan Iwan Fals yang
dibeli paman saya, /Reformasi I/ dan /Reformasi II./
Saya tak paham betul apa yang sedang terjadi. Tapi, saya ingat ada
kerusuhan. Ibu melarang kami keluar rumah. Paman saya belum pulang dua
minggu karena ikut rombongan kampusnya ke Jakarta. Ayah menyetel kaset
pidato Amien Rais secara berulang-ulang dan akhirnya memutuskan merobek
kartu anggota Golkar di dompetnya.
Menanggapi pertanyaan tadi, harus diakui barangkali saya memang termasuk
generasi yang awam reformasi. Saya tak ingin sok gagah dengan merasa
bisa bernostalgia pada gegap gempita momen tumbangnya Soeharto 20 tahun
lalu. Saya tak banyak ingat momen itu, kecuali keesokan harinya Guru
Bahasa Indonesia di sekolah menurunkan foto Presiden Soeharto dari atas
papan tulis. "Kita sudah memasuki era reformasi," katanya.
Baru ketika SMA, spirit Reformasi 1998 perlahan merasuk ke dalam dada
remaja saya. Saya berpikir betapa hebat gerakan mahasiswa bisa
menyelamatkan bangsa dari cengkeraman diktator yang mengambil uang
rakyat secara membabi buta, menyingkirkan bahkan membunuh para
pengkritiknya tanpa ampun, secara curang menjalankan tatak kelola negara
dengan banyak memberi keuntungan kepada teman, kerabat, dan keluarga. Di
sanalah saya mulai banyak membaca tentang apa itu reformasi, bagaimana
mahasiswa berperan, dan bagaimana gelombang massa bisa mengalahkan
kediktatoran penguasa.
Di masa kuliah, karena mengambil jurusan politik, diskusi tentang
reformasi dan berbagai hal di sekitarnya semakin intens saya lakukan.
Impian saya untuk bergabung dengan salah satu gerakan mahasiswa juga
segera saya wujudkan. Ketika kuliah, berkali-kali saya ikut demonstrasi,
mulai dari mendemo kampus hingga mendemo kebijakan pemerintah yang
menaikkan harga BBM. Saya tumbuh menjadi generasi aktivis yang
diinspirasi gerakan reformasi.
Tapi, lambat laun saya sadar bahwa gerakan mahasiswa harus berubah
bentuk. Ia tak bisa hanya mengandalkan demonstrasi dan mimbar bebas
jalanan. Saya dan beberapa orang teman memilih untuk menulis,
menyampaikan gagasan, dan merawat idealisme melalui artikel-artikel
koran, forum-forum diskusi, seminar, dan kegiatan berbasis kreativitas
lainnya. Waktu itu saya berpikir, reformasi sebagai sebuah peristiwa,
sebagai sebuah /event/, sudah selesai. Satu satunya yang layak dan wajib
kita teruskan adalah semangatnya.
Kini, peristiwa reformasi sudah berlalu 20 tahun. Soeharto sudah tumbang
dua dekade lalu, tapi rasanya gurita rezimnya belum tumpas. Gerakan
mahasiswa dan kekuatan massa berhasil merebut tahta dari kekuasaan yang
telah digenggam selama 32 tahun, namun sepertinya korupsi, kolusi, dan
nepotisme belum benar-benar bisa diberantas dari negeri ini. Bahkan ia
menggurita lebih besar lagi, dengan cara-cara yang lebih canggih dan ajaib.
Barangkali saya yang berasal dari generasi milenial memang awam tentang
reformasi. Saya yakin kebanyakan dari teman-teman sebaya saya juga hanya
mempu mengais-ngais spirit reformasi dari puing sejarah dan cerita
nostalgia generasi di atas kami. Tapi, memang reformasi jangan dipahami
semata sebagai sebuah peristiwa. Karena ia sudah selesai. Jika kita
hanya memahami reformasi hanya sebagai sebuah peristiwa, kejadian, yang
bisa kita lakukan hanya berefleksi dan bernostalgia. Padahal, kita tahu
berbagai masalah yang kita hadapi saat ini tak akan selesai hanya dengan
refleksi dan nostalgia belaka.
Saya kira inilah saatnya memahami reformasi sebagai sebuah spirit,
gagasan, atau proyek yang selalu dan terus menerus belum selesai. Bahwa
kita masih punya PR besar untuk menumpas para maling yang menjarah uang
rakyat, penguasa culas yang menggunakan jabatan dan posisinya untuk
kepentingan kelompoknya, kecenderungan untuk menindas dan meniadakan
'yang lain' yang berbeda dan tak sejalan dengan hal-hal yang membuatnya
nyaman di zona kekuasaan.
Sekarang, saya kira anak-anak muda, mahasiswa, generasi milenial wajib
meneruskan spirit perjuangan itu. Kita punya saham politik yang besar di
negeri ini. Secara jumlah, kita hampir setengah populasi. Jika kita
merasa segalanya baik-baik saja di negeri ini, jika kita tak punya
impian untuk menggalang proyek bersama agar bangsa ini semakin hebat dan
gemilang di masa depan, kita harus malu karena bukan hanya awam tentang
reformasi, tapi kita telah mengkhianatinya secara biadab dan memalukan.
*Fahd Pahdepie* /penulis, pembicara publik, pegiat kreativitas, dan
konsultan
/
**
*(mmu/mmu)
*